19.34.00



Foto Cekungan Bandung diambil dari salah satu bukit di Punclut

Mengenai asal-usul nama "BANDUNG", dikemukakan berbagai pendapat, sebagian mengatakan bahwa, kata "bandung" dalam bahasa Sunda, identik dengan kata "banding" yang mana dalam Bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata bandung berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.
Pendapat lain mengatakan, bahwa kata "bandung" mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi Bandung. 
Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa kata Bandung berasal dari kata bendung. Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata Bandung, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu). Akibatnya, daerah antara Padalarang (Kabupaten Bandung Barat) sampai Cicalengka (Kabupaten Bandung) (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu (Kabupaten Bandung Barat) sampai Soreang (Kabupaten Bandung) (± 50 kilometer) terendam menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Danau Bandung atau Danau Bandung Purba. Berdasarkan hasil penelitian geologi, air Danau Bandung diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 - 7000 sebelum Masehi). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.
Secara historis, kata atau nama Bandung mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten Bandung (sekitar decade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan Danau Bandung terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung.

Asal Usul Julukan Bandung Kota Kembang dan Kota Paris van Java
Lukisan awal abad ke-19 yang menggambarkan De Grote Postweg (wikipedia)
Julukan Kota Kembang dan Paris van Java, telah menjadi predikat yang tidak bisa dilepaskan dari Kota Bandung. Sejarahwan asal Unpad, Prof. Dr. H. Nina Herlina Lubis (kepada radio PRFM, Jumat (25/9/2015) mengatakan bahwa kemunculan kedua julukan itu bukan kebetulan semata. Ratusan tahun silam Mataram memberikan jabatan kepada beberapa mantri agung. Salah satu mantri tersebut nantinya akan dikenal sebagai Bupati Bandung. Kala itu ibukota Kabupaten Bandung berada di kota tua Dayeuhkolot. Kemudian, Gubernur Jendral Herman Willem Deandels berniat membangun jalan yang dinamai rute postweg (baca: pasweh) mulai dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Jatim) pada 1808. Pembangunan jalan tersebut berlangsung hingga belasan tahun.
Prof. Nina mendeskripsikan bahwa rute postweg tersebut dibangun dengan cara menata batu-batu. Rute postweg tersebut melewati Jalan Asia Afrika, kemudian berlanjut menuju Sumedang. Pada masa awal pembangunan, Gubernur Jenderal kelahiran Belanda itu mendapat kabar bahwa Dayeuhkolot sering mengalami banjir. Oleh sebab itu diusulkan rencana mengenai perpindahan ibukota. “Nanti tahun depan kalau saya ke sini lagi, ini sudah menjadi kota,” tutur Prof. Nina mengulang pernyataan Deandels pada 25 September 1810 silam. 
Berdasarkan pernyataan yang disebutkan Deandels di sekitar wilayah Cikapundung kilometer 0 (JL. Asia Afrika), ditetapkanlah 25 September sebagai Hari Jadi Kota Bandung. Kemudian, ibukota dipindahkan ke Kota Bandung. Setelahnya, Bandung terus mengalami perkembangan.
Setelah pembangunan rute postweg, jalan kedua yang dibangun merupakan jalan Braga. Pembangunan infrastruktur di jalan Braga membuat perkembangan ekonomi pun meningkat. Di jalan tersebut banyak bermunculan toko-toko, termasuk toko-toko pakaian yang menjual berbagai jenis pakaian impor dari Paris. Sejak itu, Kota Bandung untuk pertama kali dikenal sebagai “Parijs van Java” pada sekitar tahun 1920 – 1925.
Asal Usul Julukan Bandung Kota Kembang dan Kota Paris van Java
Monumen depan Kantor Binamarga Jabar Jl. Asia Afrika Bandung di sekitar wilayah Cikapundung kilometer 0 (cityzenmagz)
Sementara untuk sebutan Kota Kembang diawali saat Kota Bandung ditetapkan sebagai ibukota. Walikota yang menjabat saat itu membangun sejumlah taman di berbagai sudut kota Bandung. Program itu pun didukung oleh kondisi tanah kota Bandung yang subur.  Hal tersebut membuat Bandung menjadi kota yang ramai dihiasi oleh berbagai jenis bunga. 
Kota kembang merupakan sebutan lain untuk kota ini, karena pada zaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java karena keindahannya. Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner. Dan pada tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur.[7] Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan. Dua aspek inilah yang sekarang menjadi konsentrasi pembangunan yang diinisiasi oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil. Dalam beberapa tahun terakhir, Kota Bandung banyak membuka taman-taman kota, festival kuliner, dan komunitas anak muda. Perkembangan ini untuk memfasilitasi aktivitas masyarakat Bandung di berbagai lapisan masyarakat.
Asal Usul Julukan Bandung Kota Kembang dan Kota Paris van Java
Wajah Jalan Braga 2014 (bandungview)
Bandung kota metropolitan terbesar di Jawa Barat sekaligus menjadi ibu kota provinsi Jawa Barat. Kota ini terletak 140 km sebelah tenggara Jakarta, dan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya menurut jumlah penduduk. Sedangkan wilayah Bandung Raya (Wilayah Metropolitan Bandung) merupakan metropolitan terbesar ketiga di Indonesia setelah Jabodetabek dan Gerbangkertosusila (Grebangkertosusilo). Di kota yang bersejarah ini, berdiri sebuah perguruan tinggi teknik pertama di Indonesia (Technische Hoogeschool te Bandoeng - TH Bandung, sekarang Institut Teknologi Bandung - ITB)[2], menjadi ajang pertempuran di masa kemerdekaan[3], serta pernah menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika 1955,[4] suatu pertemuan yang menyuarakan semangat anti kolonialisme, bahkan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dalam pidatonya mengatakan bahwa Bandung adalah ibu kotanya Asia-Afrika.[5]

Pada tahun 1990 kota Bandung menjadi salah satu kota paling aman di dunia berdasarkan survei majalah Time.[6]


***sumber: facebook, wikipedia, prfmnews, fokusjabar.

Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

0 komentar:

Posting Komentar

↓ Artikel Paling Populer Ada di Bawah ↓

Follow Instagram @sekitarbandungcom

Like Facebook @sekitarbandungcom

event sekitar BANDUNG

Try Out Nasional SBMPTN

GRASSROOTS FOOTBALL FEST 2018

From 2 With Love 2018

Pages - Menu