Tuhan Menciptakan Bumi Parahyangan Ketika Tersenyum || Media Berita dan Promo Bandung

Foto saya
Wisata, Kuliner, Berita Bandung Raya - Cimahi dan Sekitarnya || Follow Twitter: @sekitarbandung_ - Instagram: @sekitarbandungcom - Facebook: @sekitarbandungcom - id Line: sekitar.bdg

Legenda Sumur Bandung





Legenda Sumur Bandung yang Konon Penunggunya Siluman Macan Putih

Bandung sangat kaya akan wisata sejarah. Satu tempat yang sangat bersejarah di Kota Bandung adalah Sumur Bandung.

Sumur Bandung terletak di lantai dasar Gedung PLN Jalan Asia Afrika, Kota Bandung.

Konon, sumur tertua di Kota Bandung ini memiliki kisah mistis yang membuat buku kuduk pengunjung merinding.

"Ada kisah mistis di balik sumur tersebut. Konon penunggu sumur itu adalah siluman macan putih," ujar Yayat Sudayat, Petugas Keamanan Gedung PLN, Jalan Asia Afrika, Jumat (11/8/2017) saat diwawancarai wartawan Tribun Jabar.

Sumur Bandung ditandai dengan keramik berwarna hitam berbentuk segilima yang ditinggikan sekitar 5 centimeter. Di sekeliling keramik hitam itu terdapat keramik putih.  Konon siluman macan putih itu sering terlihat di sana.

"Saya tahu cerita itu dari obrolan dengan pengunjung," ujar Yayat.

Beberapa pengunjung yang mempunyai keahlian melihat makhluk gaib, kerap menceritakan sosok macan putih tersebut kepada petugas keamanan Gedung PLN, termasuk Yayat Sudayat.
"Dulu juga pernah Sumur Bandung dipakai syuting acara horor satu televisi swasta. Siluman tersebut berusaha dimasukan ke dalam tubuh relawan," tambah Yayat.

"Alhamdulillah saya sendiri belum pernah melihat siluman itu," ujar Yayat.


Berdasarkan buku "Jendela Bandung" karya Her Suganda, sumur ini ditemukan oleh Bupati Bandung, Raden Adipati Wiranatakusumah II pada 1811.

Ketika rombongan bupati dan pengiringnya menyusuri Cikapundung mencari tempat yang pantas untuk mendirikan pusat kota yang cocok. Ketika bupati menancapkan tongkat lalu ditarik lagi, dari bekas tongkat itu keluar air. Di lokasi air tersebut selanjutnya dibuat sumur yang selanjutnya pula disebut Sumur Bandung. Pada tahun 1930-an, di atas tanah 3.945 m2 itu, didirikan bangunan bertingkat hasil rancangan Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker. setelah diresmikan tanggal 26 Oktober 1939, bangunan itu selanjutnya ditempati oleh N.V. Gebeo, usaha listrik Hindia Walanda. Bekas gedung Gebeo yang selanjutnya dijadikan kantor PT (Persero) Perusahaan Listrik Negara Distribusi Jawa Barat itu, adanya diujung pertigaan Jalan Asia-Afrika dan Jalan Cikapundung. Saat ini Sumur Bandung terletak di lantai dasar Gedung PLN di Jalan Asia Afrika Nomor 63, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung. Sumur Bandung adanya di lantai dasar Gedung PLN. Airnya masih tetap bersih dan tidak pernah kering walaupun musim kemarau.

Sumur Bandung di tandai keramik berbentuk segilima yang ditinggikan sekitar 5 centimeter.
Di atasnya memakai penutup berbahan besi berwarna kuning emas. Di atas tutup sumur itu terdapat hiasan bentuk mahkota berwarna perak.
  
Selain itu di keramik hitam tersebut juga terdapat prasasti yang bertuliskan:

Sumur Bandung Mere Karahayuan Ka Rahayat Bandung



Sumur Bandung Mere Karahayuan Ka Dayeuh Bandung




Sumur Bandung Rahayuning Dayeuh Bandung




Ayana Di Gedong Pln - Bandung





Bandung, 25 Mei 1811



Raden Adipati Wiranatakusumah II



Lokasi shelter sepeda sewa / bike sharing Bandung



Lokasi bike sharing di Kota Bandung


Jalan-jalan di Bandung kini bisa makin seru sejak ada system bike sharing yang diaktifkan kembali. Apalagi kini, layanan ini dikelola secara profesional oleh PT LEN Industri bersama Banopolis.

Seperti yang ditulis di laman detikNews, "Banopolis, startup asal Bandung bersama BUMN PT LEN Industri ditunjuk Pemerintah Kota Bandung pada 2016 untuk merealisasikan sistem bikesharing modern skala kota yang pertama di Asia Tenggara," demikian ungkap Banopolis kepada detikINET, Rabu (4/1/2017). 

Pada awal 2017 ini, sistem bikesharing yang dinamakan Boseh tersebut akan diluncurkan dengan 30 stasiun dan 270 unit sepeda yang tersebar di daerah-daerah paling strategis di kota Bandung. 

Teknologi yang akan digunakan dalam sistem ini, menurut Banopolis, bisa dibandingkan dengan bikesharing di kota-kota besar dunia seperti Paris, London, NYC, dan Guangzhou. 

Bikesharing sendiri adalah moda transportasi untuk bepergian jarak pendek, misalnya dari tempat tinggal atau menginap, ke lokasi belanja atau halte bus dan stasiun kereta. 

Stasiun khusus pun akan disediakan untuk mengambil sepeda dan mengembalikannya di stasiun lain yang terdekat dengan tempat tujuan pengguna. 

Komputasi dan Internet of Things (IoT) di balik sistem ini memungkinkan alokasi unit sepeda dilakukan secara berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sepeda dan kenyamanan pengguna. 

Dengan rancangan ini, bikesharing sangat cocok digunakan di tengah kota yang sibuk dan terintegrasi dengan moda angkutan massal. 

Inisiatif ini sendiri berawal pada tahun 2012, dimana sekelompok anak muda di Bandung merintis bikesharing di Bandung. Sejumlah shelter dengan puluhan sepeda didirikan dengan dana CSR dan Ikatan Alumni ITB. 

Ketika itu masing-masing shelter tidak terintegrasi sehingga peminjam sepeda harus mengembalikan sepeda ke tempat semula, sehingga lebih mirip penyewaan sepeda biasa. Sistem pendaftaran dan peminjaman juga dilakukan secara manual. 

Dari pengalaman tersebut, Anugrah Nurrewa (  ) salah satu anak muda yang terlibat kemudian tergerak untuk mendalami transportasi non-motorized bahkan hingga mengambil pascasarjana di bidang tersebut. 

Ia merintis startup Banopolis yang memanfaatkan teknologi IoT, GIS, dan NFC untuk memungkinkan sistem transportasi non-motorized secara moderen. 

Saat ini, Boseh telah memasuki tahap produksi dan konstruksi stasiun mulai dapat dilihat di beberapa lokasi, misalnya di perempatan antara Cihampelas dan Pasteur. 

Selain untuk bepergian jarak pendek, peran bikesharing dalam skema transportasi kota adalah sebagai pelengkap dari angkutan eksisting, sehingga memungkinkan terjadinya transportasi intermodal yang lebih efisien.

Kehadiran fasilitas bikesharing ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan transportasi di Kota Bandung.

Rencana Pemerintah Kota Bandung menghadirkan penyewaan sepeda pintar atau smart bike sharing bakal segera terwujud. Saat ini sudah dipasang terminal bike sharing di 30 titik di Kota Bandung.

Sebelumnya Kota Bandung juga pernah memiliki penyewaan sepeda. Namun kala itu dikelola oleh komunitas dan pembayaran sewa dilakukan manual. Nantinya smart bike sharing menggunakan kartu pintar.

"Sudah ada 30 titik. Sistemnya pakai kartu nanti. Jadi nanti cukup registrasi kartunya, deposit, kemudian tinggal jalan," ujar Kepala (  ) Didi Ruswandi (  ) Rabu (4/1/2017).

Saat ini Bike Sharing sudah dapat dipergunakan oleh masyarakat dengan mendaftarkan diri di lokasi pendaftaran (Taman Cibeunying dan Taman Alun-alun) dengan membawa KTP.


Sebanyak 30 titik bike sharing ini berada di pusat kota, seperti di
- Jalan Aceh (std. siliwangi), 
- Jalan Riau (Taman Pulau Seram dan Taman Pramuka), 
- Jalan Dago (Taman Dago Cikapayang),
- Jalan Pasteur (Simpang Jl. Cihampelas)
- Jalan Tamansari (Sabuga),
- Jalan Dipenogoro (Museum Geologi dan Taman Lansia),
- Jalan Citarum (SMAN 20 Bandung),
- Jalan Siliwangi-Sumur Bandung,
- Jalan Dipatiukur (Tamam Gesit), 
- Jalan Merdeka (Taman Vanda), 
- Jalan Wastukancana (Taman Balkot),
- Jalan Asia - Afrika (Alun-alun) dsk. 

Total ada 350 sepeda yang akan kita pasang di 30 titik di Sekitar Kota Bandung.



*** detikNews.



↓ Artikel Paling Populer Ada di Bawah ↓

Pages - Menu

Pages - Menu