Sejarah Terowongan Lampegan


Terowongan atau Spoortunel Lampegan adalah terowongan kereta api pertama di Hindia Belanda serta terowongan yang menghubungkan Stasiun Lampegan dan Cireungas ini dibangun sebelum dibuatnya terowongan Sasaksaat, dimana stasiun Sasaksaat baru dibangun pada tahun 1902.

Dalam laporan yang tertulis pada Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, Delftsche courant, Bataviaasch handelsblad, Java – Bode serta Nederlandsche staatscourant
dan Soerabaijasch handelsblad disebutkan bahwa 
Terowongan Kereta Api atau Spoortunnel sepanjang 683 meter (bukan 686 meter) dan memiliki sumbu tolakan kereta api 106 M dan kemiringan bukit 0 hingga 16 meter atau rata-rata kemiringan 36 derajat ini dibangun 3 tahun sejak bulan Agustus 1879 dan selesai pada tahun 1882 seiring dengan dibukanya jalur Cianjur-Sukabumi, lalu Stasiun Lampegan yang berada di desa Cimenteng berdiri tak jauh dari terowongan sebagai stasiun pengawas Terowongan Lampegan yang berada di dekatnya. 

Terowongan ini dibuat dengan membobol badan Bukit Kancana yang memiliki ketinggian 685 meter Dpl serta pada jaman dahulu disebut juga dengan Gunung Keneng di Desa Cibokor Kecamatan Cibeber dengan menggunakan galian manual serta dinamit berkekuatan ledak rendah dan sepanjang keberadaannya, telah mengakibatkan longsor di sekitar terowongan sejumlah 17 kali hingga bukit Kancana tampak habis terkikis akibat getaran yang timbulkan dari terowongan serta gempa besar yang meruntuhkan bagian depan di wilayah Cianjur dan mengurangi panjang terwongan hingga hanya tinggal 415 meter. Akibat lainnya yaitu adanya rembesan air yang terus-menerus sehingga menggerus bebatuan dan tanah.

Terowongan Lampegan pada saat iru bernama “Lampegan Spoortunnel” atau “Lampegan Tunnel” sedangkan stasiun lampegan dinamakan dengan “Halte Lampegan” (jarang ditulis dengan “Stasiun/Station Lampegan”). Halte dan Spoortunnel Lampegan dikelilingi oleh berbagai perkebunan teh diantaranya yaitu Thee Onderneming Goenoeng Rossa, Thee Onderneming Hardjasari, Thee Onderneming Goenoeng Kantjana dan Thee Onderneming Goenoeng Manik serta perkebunan lainnya  yang mana beberapa diantaranya memiliki kandungan emas serta batuan galena serta  perak dan sebagian wilayahnya masuk kedalam Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur.

Dibagian yang lain terdapat akses menuju Gunung Padang Kecamatan Campaka yang sangat terkenal sejauh 7 km dari Lampegan serta Terowongan Lampegan dapat diakses melalui Gandasoli serta Cireunghas Kabupaten Sukabumi, Dari Cibeber Kabupaten Cianjur dan dari jalan raya Cianjur-Sukabumi (sebelum Warungkondang dari Sukabumi arah Cianjur). 

Terowongan Lampegan diambil dari sebuah istilah konstruksi dimana pada saat pembangunan terowongan yang sedang mendapat inspeksi dari petugas seksi IV perusahaan SS (Steeds Sneller) Staatsspoorwegen bernama van Beckman mengalami kondisi mati lampu sehingga sontak saat itu terdengar perintah menyalakan lampu dengan meneriakan kata  “Lampen aan! Lampen aan!” atau “Nyalakan Lampu (segera)!” namun sebuah temuan lainnya menepis pandangan ini yang berdasarkan kepada istilah “Lampegan” sebenarnya telah ada sebelum terowongan itu dibangun serta mengacu kepada padanan bahasa Sunda yang berarti sejenis tetumbuhan kecil bernama “Lampegan” yang dipercaya kini mengalami kepunahan.

Terowongan Lampegan menghabiskan dana 400 ribu Gulden dan diselesaikan dalam 4 (empat) seksi pekerjaan serta telah mengangkat 22.876 Kubik Batu, 678.723 Kubik Tanah serta menghabiskan 11.334 bata pasang serta 324 meter bantalan terpasang dengan memperkerjakan 11.234 total jumlah pekerja pertiga tahun atau rata-rata dikerjakan oleh 80 orang pekerja lokal dan 5 tenaga ahli serta insinyur perharinya dan jumlah itu belum dijumlahkan dengan jumlah pekerja lepas serta menghabiskan 370 kilogram bahan peledak dan memperkerjakan pula 25 Sapi serta 57 Kuda.

Terdapat kisah-kisah yang melegenda dan dijadikan sempalan-sempalan cerita yang mengiringi sejarah lahirnya terowongan Lampegan diantaranya tentang kisah Nyi Sadea dan beberapa orang yang ditumbalkan bagi pelaksanaan pembangunan terowongan. Namun terlepas dari berbagai legenda yang ada, cerita-cerita yang beredar terkait Lampegan menjadi suatu fenomena menarik tersendiri.

Untuk memeriahkan peresmian tersebut, pada malam harinya pihak jawatan kereta api Hindia Belanda SS (Steeds Sneller) Staatsspoorwegen mengundang Nyi Sadea, seorang penari ronggeng. Malang bagi sang penari, usai meronggeng, seseorang mengajaknya pergi dan sejak itu tak pernah kembali.

Sebagaian masyarakat di sana yakin, perempuan cantik itu telah dijadikan tumbal pembangunan terowongan Stasiun Lampegan. Konon tubuhnya ditanam di salah satu dinding beton di sebelah dalam terowongan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama