Jalur Rawan Kecelakaan Bandung yang Wajib Diwaspadai

sekitarbandung.com – Kota Bandung dikenal dengan mobilitas tinggi dan lalu lintas yang padat. Sayangnya, tidak semua ruas jalan aman untuk dilintasi—terdapat puluhan titik rawan kecelakaan (LRK)

Acsyara Aulia

Jalur Rawan Kecelakaan Bandung yang Wajib Diwaspadai

sekitarbandung.com – Kota Bandung dikenal dengan mobilitas tinggi dan lalu lintas yang padat. Sayangnya, tidak semua ruas jalan aman untuk dilintasi—terdapat puluhan titik rawan kecelakaan (LRK) yang memerlukan kewaspadaan lebih. Berdasar data Polrestabes Bandung tahun 2018, terjadi 499 kecelakaan lalu lintas, dengan 92 titik dianggap LRK karena pernah terjadi lebih dari dua kali kecelakaan. Artikel ini membahas jalur-jalur paling berbahaya di Bandung, analisis penyebabnya, serta langkah mitigasi yang perlu diperhatikan semua pengendara.

Titik-Titik Paling Berbahaya di Bandung

Beberapa lokasi masuk prioritas penanganan karena memiliki Angka Ekuivalen Kecelakaan (AEK) tinggi:

  • Jl. SOR (depan GBLA): AEK = 311

  • Jl. Soekarno–Hatta (depan STIMIK): AEK = 216

  • Simpang Supratman–Ciliwung (tanpa lampu lalu lintas): AEK = 206

Terlebih, sepanjang 18,35 km segmen Jl. Soekarno–Hatta tercatat 72 kejadian kecelakaan, dengan 38 meninggal, 5 luka berat, dan 57 luka ringan, AEK mencapai 233, melampaui batas UCL sebesar 204.

Jalur-jalur Lain yang Perlu Diwaspadai

Beberapa jalan selain yang sudah disebut ternyata juga rawan:

  • Jalan PH.H. Mustafa – A.H. Nasution, khususnya beberapa segmen seperti Cikadut–PT. Indosco, Mutiara Kitchen–Ujung Berung, dan Ujung Berung–BCA Ujung Nasional—dikenal memiliki tingkat kecelakaan cukup tinggi. Pada ruas ini terjadi 74 kecelakaan di tahun 2016, dengan korban meninggal mencapai 24 orang.

  • Jalan Dr. Setiabudi di Kecamatan Cidadap memiliki banyak tikungan tajam dan kontur curam, makin berbahaya saat hujan.

  • Jalan Ibrahim Adjie dan Terusan Jakarta juga disebut sebagai jalur rawan karena kepadatan dan perilaku berkendara yang agresif.

  • Jalan Padalarang–Rajamandala (KBB) juga tergolong berbahaya: titik rawan berada di STA 12+900 – 13+400 dengan AEK = 93 dan UCL = 40,6. Faktor penyebab utama adalah ketidaksesuaian pelengkap jalan, seperti marka, penerangan, dan drainase.

  • Beberapa jalur mudik di wilayah Bandung Barat seperti Cipatat dan Cikalongwetan juga menjadi black spot potensial menurut Polres Cimahi.

  • Ruas Jalan Raya Cicalengka–Nagreg, Cileunyi–Rancaekek, Kopo di Katapang/Margahayu, Laswi Ciparay, Dayeuhkolot–Baleendah disebut sebagai titik rawan kecelakaan di Kabupaten Bandung.

Faktor Penyebab Kecelakaan

Infrastruktur yang Tidak Memadai

  • Banyak ruas dengan minim marka jalan, penerangan, dan rambu—seperti di Simpang Supratman–Ciliwung dan flyover Kiaracondong.

Karakter Jalan

  • Jalan lurus panjang seperti Jl. Soekarno–Hatta memicu pengendara untuk ngebut.

  • Tikungan tajam dan jalur menurun (contohnya Dr. Setiabudi) sangat bahaya saat basah.

Perilaku Pengendara

  • Pelanggaran kecepatan, kurang disiplin (helm, lampu), dan kurang edukasi keselamatan—terutama remaja pengendara sepeda listrik/helm rentan.

Statistik Kota Bandung Secara Umum

  • Tahun 2018, total terjadi 499 kecelakaan lalu lintas dengan 92 titik LRK.

  • Pada ruas PH.H. Mustafa–A.H. Nasution, terjadi 74 kecelakaan sepanjang tahun 2016, korban meninggal 24 orang.

  • Padalarang–Rajamandala memiliki segmen rawan di STA 12+900–13+400 (AEK = 93, UCL = 40,6).

Upaya Mitigasi & Rekomendasi

Intervensi Infrastruktur

  • Pemasangan rambu LRK, zebra cross, speed hump, rumble strip, dan lighting di titik rawan.

  • Perbaikan pelengkap jalan di Padalarang–Rajamandala seperti marka, drainase, dan penerangan.

Pemetaan & Kampanye Keselamatan

  • Penerapan digital mapping via Si-Calakan, kolaborasi dengan BIGRS, serta kampanye “Klik Biar Selamat” untuk edukasi masyarakat.

Penegakan & Edukasi

  • Penataan simpang, pemasangan rambu kecepatan, dan penegakan hukum lalu lintas di area kritis.

Baca juga : Tempat Sewa Papan Skateboard Terbaik & Murah

“Jalur rawan kecelakaan Bandung” bukan sekadar label, melainkan kenyataan yang perlu diwaspadai. Segmen seperti Jl. Soekarno–Hatta, SOR GBLA, Simpang Supratman–Ciliwung, PH.H. Mustafa–A.H. Nasution, Dr. Setiabudi, dan Padalarang–Rajamandala adalah zona dengan frekuensi kecelakaan tinggi dan risiko serius. Faktor penyebab mencakup infrastruktur minim, karakter jalan berbahaya, dan perilaku risiko pengendara.

Untuk menekan angka kecelakaan, perlu sinergi antara perbaikan jalan, edukasi keselamatan, dan teknologi pemetaan. Kesadaran dan kehati-hatian pengendara adalah pertahanan pertama—karena nyawa lebih berharga daripada kecepatan.

Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar