sekitarbandung.com – Di Jalan Braga yang setiap harinya riuh oleh langkah wisatawan dan aroma kopi dari kafe-kafe tua, ada satu bangunan putih yang berdiri dengan ketenangan seorang pendengar setia.
Ia menyimpan bisik-bisik masa lalu di balik jendela kayu tuanya, mengamati zaman berganti dari derap sepatu kulit hingga deru sepeda listrik.
Inilah Gedung Gas, saksi bisu yang pernah menjadi pusat denyut energi Kota Bandung, ketika gas mengalir seperti nadi di tubuhnya.
Di antara deretan fasad kolonial yang akrab dengan langkah pejalan kaki, gedung ini berdiri dengan elegansi yang tak lekang.
Dahulu, bangunan ini bukan sekadar kantoran.
Ia adalah jantung administrasi sebuah jaringan kehidupan: distribusi gas yang mengalir ke rumah-rumah, hotel, perkantoran, hingga rumah sakit di seluruh Bandung.
1 Abad Gedung Karya Schoemaker Berdiri
Kisahnya dimulai di awal dekade 1920-an.
Di Kiaracondong, arsitek Wolff Schoemaker dan adiknya, Richard Schoemaker, merancang kompleks pabrik gas yang menjadi tonggak modernisasi kota.
Tahun 1920 pembangunan dimulai, dan awal 1921 pabrik itu sudah memproduksi 10 ribu meter kubik gas setiap hari.
Bukan gas alam seperti yang kini kita kenal, melainkan gas buatan dari batubara yang digasifikasi melalui empat tahap, yakni penguapan, pirolisis, oksidasi, dan reduksi.
Gas ini, setelah melalui proses panjang itu, dialirkan lewat pipa-pipa ke seluruh kota. Di titik-titik pengguna, meteran gas dipasang untuk mencatat pemakaian bulanan.
Pembayaran dilakukan di kantor Gas Maatschappij di Jalan Braga, gedung yang kini dikenal sebagai Gedung Gas.
“Bangunan ini selesai dibangun pada 1919 oleh Richard Schoemaker, mula-mula sebagai kantor J.C. Becker en Co. Sebagian ruangnya juga dipakai oleh perkumpulan Bandoeng Vooruit dan kantor redaksi majalah Mooi Bandoeng,” ungkap Pegiat Sejarah Bandung, Ridwan Hutagalung, saat diwawancara , Kamis (14/8/2025).
Dari gedung inilah, aroma tinta, kertas, dan cita-cita modern Kota Bandung pernah bercampur.
3.750 Sambungan Gas di Bandung
Memasuki pertengahan 1930-an, sudah ada 3.750 sambungan gas terpasang di Bandung.
Dari gedung di Braga inilah arus administrasi dan pelayanan mengalir, melengkapi aliran gas yang diam-diam menyusupi dapur-dapur dan ruang makan rumah-rumah baru.
“Saat ini kawasan di dalam kompleks Pabrik Gas Kiaracondong sudah tidak lagi, menyisakan instalasi pabriknya, selain bangunan utamanya,” kata Ridwan.
Jalur-jalur pipa yang dulu menembus tanah kota sebagian masih bisa ditemukan, ujungnya tertutup rapat di sudut rumah atau kantor lama.
Pusat Pengarsipan
Bangunan utama di kompleks pabrik kini menjadi pusat pengarsipan, Record Centre.
Meskipun beberapa detailnya diganti, struktur utamanya tetap terawat.
Penambahan konstruksi besi di bagian dalam dilakukan tanpa melukai dinding aslinya, contoh indah bagaimana masa kini menghormati masa lalu.
Bekas rumah dinas staf kini menjelma menjadi guest house di bawah pengelolaan Gas Inn.
Bangunannya bersih, terjaga, dan mempertahankan sebagian besar elemen aslinya.
Di Jalan Braga, bekas kantor administrasi itu pun tak lagi sibuk menerima pembayaran tagihan gas.
Ia kini menjadi Gasblock Hotel & Cafe, tempat para tamu menginap, menyeruput kopi, dan mungkin tanpa mereka sadari, duduk di ruang yang dulu menjadi pusat denyut energi kota.
“Bangunan-bangunan bekas rumah dinas, staf, dan kantor saat ini dimanfaatkan sebagai penginapan. Secara umum terlihat sangat bagus, bersih, dan terawat. Sebagian besar elemen keantikan gedung masih dalam kondisi aslinya dan dirawat dengan baik,” papar Ridwan.
Potret Indah Art Deco
Secara arsitektural, Gedung Gas adalah potret indah gaya Art Deco tropis awal abad ke-20.
Fasadnya tegak dengan warna putih bersih, dihiasi garis-garis vertikal yang memberi kesan anggun dan monumental.
Pilar-pilar datar membingkai deretan jendela kayu besar, lengkap dengan kisi-kisi ventilasi di bagian atas yang memecah cahaya sekaligus mengatur sirkulasi udara.
Di lantai dasar, pintu masuk utama berada di tengah, sedikit menjorok ke dalam, dilindungi kanopi beton sederhana.
Dari sana, pengunjung memasuki ruang dengan langit-langit menjulang tinggi, di mana cahaya alami mengalir dari jendela-jendela besar.
Interiornya kini telah dilengkapi lampu gantung modern berbentuk lingkaran, namun pilar-pilar kokoh dengan profil klasik tetap menjadi fokus ruangan.
Baca juga : Pemprov Jabar & KBP Bangun Akses Baru ke Stasiun KCJB
Tampak dari sisi atap, menara kecil berbentuk kubus memahkotai sudut bangunan — detail khas Schoemaker yang memadukan fungsionalitas dan estetika.
Di musim berbunga, pepohonan tabebuya di tepi jalan memayungi fasadnya, menghadirkan pemandangan yang mengaburkan batas antara masa lalu dan kini.
Sejarah Gedung Gas adalah sejarah tentang aliran-aliran gas, aliran waktu, aliran cerita.
Di bawah langit Braga yang teduh, ia tetap berdiri, menjadi saksi bisu bagaimana Bandung belajar bernapas dengan cara yang lebih modern seratus tahun silam.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

