Hari Tani Nasional: Momentum Penghormatan dan Tantangan Petani di Indonesia

sekitarbandung.com – Setiap tanggal 24 September, bangsa Indonesia memperingati Hari Tani Nasional. Momentum ini seharusnya menjadi bentuk penghormatan kepada petani sebagai penopang utama ketahanan pangan.

Aracely Azwa

Hari Tani Nasional: Momentum Penghormatan dan Tantangan Petani di Indonesia

sekitarbandung.com – Setiap tanggal 24 September, bangsa Indonesia memperingati Hari Tani Nasional. Momentum ini seharusnya menjadi bentuk penghormatan kepada petani sebagai penopang utama ketahanan pangan. Namun di balik seremoni perayaan, profesi tani menghadapi dilema besar: semakin ditinggalkan generasi muda dan terpinggirkan oleh arus modernisasi.

Jumlah Petani Terus Menyusut

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah petani di Indonesia terus mengalami penurunan. Pada 2013 tercatat 31,70 juta orang, sedangkan pada 2024 tinggal 29,34 juta orang. Penurunan sekitar 2,4 juta orang ini bukan sekadar angka, melainkan tanda krisis regenerasi.

Rata-rata usia petani kini mencapai 50 tahun ke atas. Kondisi ini membuat masa depan pertanian kian mengkhawatirkan. Tanpa hadirnya generasi muda, produksi pangan nasional bisa terancam dalam 10–20 tahun mendatang.

Baca Juga: Keracunan MBG Bandung Barat: Pemkab Tetapkan Status KLB Usai 364 Siswa Sakit

Kondisi di Kabupaten Bandung

Fenomena serupa terjadi di Kabupaten Bandung. Berdasarkan data BPS 2023, jumlah petani pengguna lahan dan petani gurem mencapai 157.875 orang. Dari jumlah tersebut, hanya 66.401 yang tergolong petani muda berusia 19–39 tahun.

Meskipun jumlah petani muda terlihat besar, persentasenya masih belum mencukupi untuk menjamin keberlanjutan produksi pangan di daerah. Bayu Dwi Apri Nugroho, dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, menilai citra profesi tani yang dianggap kotor, sulit, dan kurang menjanjikan menjadi alasan utama generasi muda enggan terjun ke dunia pertanian.

“Kita menghadapi risiko besar. Bila tren ini tidak diatasi, dalam 10–20 tahun ke depan Indonesia bisa mengalami krisis petani,” ungkapnya, Selasa (23/9/2025).

Alih Fungsi Lahan Jadi Ancaman

Selain minimnya regenerasi, masalah lain adalah alih fungsi lahan. Di Jawa Barat, lahan pertanian terus bergeser menjadi kawasan industri, perumahan, hingga destinasi wisata. Pergeseran fungsi lahan ini menyebabkan area tanam semakin sempit dan produksi pangan berkurang.

Tidak hanya itu, ketidakstabilan harga hasil panen dan tingginya biaya pupuk membuat petani kesulitan bertahan. Minimnya perlindungan pendapatan juga memperparah kondisi mereka.

Hari Tani Nasional, Antara Perayaan dan Refleksi

Perayaan Hari Tani Nasional sering kali diwarnai seremoni, pameran, hingga pertemuan komunitas. Namun di lapangan, keseharian petani penuh dengan tantangan.

“Banyak petani merasa profesinya kurang dihargai, padahal kontribusi mereka terhadap ketahanan pangan sangat vital,” ujar Bayu.

Momentum Hari Tani Nasional seharusnya bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi serius bagi semua pihak.

Solusi yang Mendesak Dilakukan

Berbagai solusi terus disuarakan, mulai dari transformasi pertanian berbasis teknologi, mekanisasi modern, hingga edukasi pertanian sejak usia sekolah.

Beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Pemanfaatan teknologi digital untuk monitoring hasil panen, prediksi cuaca, dan pemasaran hasil pertanian.

  2. Modernisasi alat pertanian agar produktivitas meningkat tanpa membebani tenaga petani.

  3. Edukasi sejak dini melalui kurikulum sekolah yang mengenalkan profesi petani sebagai pekerjaan mulia.

  4. Insentif finansial dan jaminan harga panen yang stabil untuk memberi kepastian penghasilan.

  5. Penguatan koperasi dan komunitas tani agar petani tidak berjalan sendiri menghadapi pasar.

Peran Generasi Muda dalam Pertanian

Petani muda menjadi kunci keberlanjutan pertanian Indonesia. Pemerintah perlu mendorong lahirnya wirausaha tani yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga inovasi.

“Pertanian bukan hanya soal bertani di sawah, tetapi juga ruang kreativitas dan peluang bisnis yang menjanjikan,” tegas Bayu.

Refleksi Hari Tani Nasional

Peringatan Hari Tani Nasional tahun ini menegaskan paradoks yang nyata. Di satu sisi, petani dirayakan sebagai pahlawan pangan. Namun di sisi lain, profesi mereka justru semakin terpinggirkan.

Tanpa langkah konkret, penghormatan pada petani hanya akan berhenti sebagai slogan. Ketahanan pangan bangsa pun bisa terkikis perlahan. Oleh karena itu, Hari Tani Nasional perlu dijadikan momentum perbaikan serius, bukan sekadar selebrasi tahunan. Informasi lebih lanjut mengenai sejarah Hari Tani Nasional dapat dibaca di Kementerian Pertanian RI

Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar