sekitarbandung.com – Melihat karakter atau kontur geografis yang akan dilalui jalan Tol Getaci dimana sebagian kondisinya berbukit-bukit, maka calon jalan tol terpanjang di Indonesia ini akan dibangun dengan desain yang beragam.
Jalan tol ini akan dibangun dengan desain kontruksi sejajar dengan tanah hingga kontruksi jalan layang, terutama di kontur lahannya yang berbukit-bukit. Menariknya, jalan layang yang akan dibangun di Tol Getaci, bentangannya hampir 2 kali lipat dari bentangan tol layang di Kota Bandung yang akan dibangun pengusaha yang dikenal sebagai raja tol Indonesia yakni Jusuf Hamka.
Karena kontur geografisnya yang berbukit-bukit yang membuat biaya kontruksinya menjadi mahal. Akibatnya, Kementerian PUPR di era Presiden Jokowi beralasan lelang ulang tak jua terwujud karena sepi peminat. Sepinya peminat lelang ulang Tol Getaci karena biaya investasinya yang dinilai terlalu mahal.
Dalam perencanaan awal, Tol Getaci yang akan membentang sepanjang 206,65 kilometer dari Bandung ke Cilacap (Jawa Tengah) memerlukan investasi mencapai sekitar Rp 56 triliun. Bentangan ini menjadikannya sebagai calon jalan tol terpanjang di Indonesia.
Setelah mengalami kevakuman sejak tahun 2022 setelah pemerintah menyatakan proyek jalan tol ini harus dilakukan lelang ulang, akhirnya harapan itu muncul lagi seteleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyatakan Tol Getaci termasuk dari 19 proyek jalan tol yang akan dilelang pada tahun 2026.
Jalan Layang Tol Getaci Sepanjang 22 Kilometer
Nantinya jika pembangunan jalan Tol Getaci rampung dari Gedebage hingga Cilacap, maka jalan tol ini akan dinobatkan sebagai jalan tol terpanjang di Indonesia dan menjadi bagian dari rencana pembangunan jaringan jalan tol Trans Jawa Selatan.
Tol Getaci akan dibangun membentang dua provinsi yakni Jabar dan Jateng, dimana bentangan jalan tol di wilayah Jabar akan mencapai 169,09 kilometer, dan sepanjang 37,56 kilometer berada di wilayah Jawa Tengah. Jalan tol ini ditargetkan akan mampu menampung 10.800 kendaraan per hari.
Melihat kontur geografis yang akan dilalui rute jalan tol ini, potensi permasalahan kontruksi pun sudah disadari sejak awal, terutama di medan pembangunan Tahap 1 di antara Gedebage hingga Tasikmalaya, yang kontrunya berbukit-bukit.
Di tahap ini, pembangunan akan menghadapi struktur geologi yang rumit dengan banyaknya batun gunung yang rawan amblas seta longsor. Sehingga pembangunan kontruksinya memerlukan penyesuaian-penyesuai dengan tetap menjaga kaidah-kaidah kualitas kontruksi dan lingkungan seperti yang pernah ditegasan Menteri PUPR di ere Jokowi, Basuki Hadimuljono.
Sejak awal desain Tol Getaci sudah disiapkan. Jalan tol ini nantinya akan dilengkapi 1 junction dan 10 dimpang susun dan 10 gerbang tol dimana jalannya memiliki 2 jalur yang masing-masing lajur selebar 3,60 meter.
Pembangunan kontruksinya akan meliputi struktur permukaan tanah (at grade) dengan pengerasan pavement sepanjang 175,27 kilometer dan struktur jalan layang (elevated) sepanjang 22,26 kilometer. Khusus di ruas Gedebage hingga Nagreg akan digunakan kontruksi pile slab sepanjang 9,12 kilometer.
Jalan Layang 2 Kali Lipat NS Link Bandung
Hal yang menarik dari desain pembangunan Tol Getaci adalah pembangunan jalan layang yang totalnya akan membentang sepanjang 22,26 kilometer. Bentangan ini panjangnya hampir 2 kali lipat dari tol layang yang akan dibangun di Kota Bandung yakni NS Link, yang rencananya akan dibangun Jusuf Hamka, figure yang selama ini dikenal sebaai sang Raja tol di Indonesia.
Seperti diketahui, selain akan dibanun Tol Dalam Kota Bandung (BIUTR) di kota kembang ini juga akan dibangun jaringan jalan tol dalam kota lainnya yakni NS Link Bandung.
Sebelumnya NS Link Bandung akan dibangun pada tahun 2024, bahkan dalam site plan sudah ditentukan letak ramp, baik Ramp Off maupun Ramp On di ruas yang akan terhubung antara pintu tol Pasirkoja hingga ke Pusdai Kota Bandung yang membentang sepanjang 14,3 kilometer.
Pada Februari 2024, wacana pembangunan jalan tol ini kembali dipaparkan oleh Walikota Bandung ketika itu yakni Yana Mulyana. Ketika itu, Yana mengatakan bahwa jalan tol tersebut akan dibangun oleh pihak swasta yakni PT Citra Marga Lintas Jabar.
Perusahaan ini merupakan anak perusahaan dari PT Citra Marga Nusaphala Persada milik Jusuf Hamka, yang baru saja selesai membangun Tol Cisumdawu.
Jika melihat dari siteplan rencana pembangunan tol dalam kota NS Link Bandung terebut, jalan tol yang akan membentang sepanjang 14,3 kilometer itu akan dilengkapi dengan 5 Ramp Off (akses keluar) dan 5 Ramp On (akses masuk).
Adapun profil Tol NS Link Bandung dimana jalan tol ini akan dimulai dari pintu Tol Pasirkoja lalu berbelok di Jalan Lingkar Selatan, kemudian lurus mengusuri Jalan Peta, Jalan BKR, Jalan Pelajar Pejuang, Jalan Laswi, dan berbelok ke Jalan Sukabumi untuk masuk ke Jalan Supratman sampai berakhir di Jalan Pusdai terintegrasi dengan jalan Tol BIUTR.
Menariknya, jalan tol ini akan terbentang sepanjang 14,3 kilometer yang seluruhnya membentang di atas tanah dengan tiang pancang atau jalan layang atau elevated.
Jusuf Hamka mengatakan bahwa proyek tersebut diharapkan akan dimulai pada tahun 2025. Proyek akan menghabiskan investasi mencapai Rp 12 triliun.
Namun hingga saat ini kabar kelanjutan proyek jalan tol ini tidak ada kelanjutan. Justru rencana pembangunannya kalah dengan proyek BIUTR, Tol Getaci, bahkan Tol Sukabumi-Cianjur-Padalarang.
Baca juga : Heboh Penemuan Mayat Perempuan di Sungai Cicabe, Ini Kata Polisi
Proyek BIUTR dan Tol Getaci termasuk di atara 19 proyek jalan tol yang akan dilelang pemerinah pada tahun 2026. Sementara untuk Tol Sukabumi-Cianjur-Padalarang juga sempat masuk dalam rencana Kementerian PUPR di era Jokowi, dan proyek tersebut saat ini menjadi salah satu dari 5 proyek jalan tol yang ingin diwujudkan Gubernu Jabar Dedi Mulyadi.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

