Sekitarbandung.com – Logo Gudang Garam begitu lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Ia hadir di warung kecil hingga etalase besar, menjadi salah satu simbol industri rokok nasional.
Namun, di balik nama besar tersebut, tersimpan kisah pahit tentang perjuangan seorang perantau yang membangun segalanya dari nol di tengah keterbatasan.
Bertahun-tahun bekerja membuatnya memahami dunia yang digelutinya, tetapi juga menumbuhkan keinginan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Pada 1956, Tjoa Ing Hwie mengambil keputusan besar.
Ia keluar dari pabrik tersebut dan sekitar 50 karyawan setianya memilih ikut bersamanya. Mereka meninggalkan zona nyaman demi mengejar mimpi usaha rokok sendiri.
Dengan modal terbatas, Tjoa Ing Hwie mendirikan usaha rokok bernama Inghwie. Produksi dilakukan di sebuah gudang tua di dekat Stasiun Kereta Api Kediri.
Baca Juga: Setiap Hari Kita Melihat Kopi Kapal Api, Namun Tak Banyak yang Tahu Kisah Pahit di Baliknya
Tempat sederhana itu menjadi saksi perjuangan awal, di mana kerja keras, keterbatasan alat, dan tekanan persaingan menjadi keseharian.
Pada 26 Juni 1958, usahanya resmi berganti nama menjadi Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam, sebuah nama yang kelak dikenal luas di seluruh Indonesia.
Nama itu terinspirasi dari sebuah gudang garam yang dilihat Tjoa Ing Hwie sebagai simbol keberuntungan dan perlindungan usaha.
Seiring waktu, Tjoa Ing Hwie kemudian dikenal dengan nama Surya Wonowidjojo, dan dari gudang tua di Kediri, ia membangun salah satu pabrik rokok kretek terbesar di Tanah Air.
Di kemudian hari, Gudang Garam sempat menghadapi persaingan dari perusahaan lain yang menggunakan nama mirip. Untuk menghindari konflik dan tetap eksis di pasar, beberapa produk dari pihak pesaing itu kemudian menggunakan nama Gajah Baru.
Pergantian nama ini dilakukan agar identitas merek tetap jelas dan membedakan diri dari reputasi Gudang Garam, sekaligus menunjukkan strategi bisnis untuk bertahan di industri yang ketat.

