Sekitarbandung.com – Hutan bagi warga Papua bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan ruang hidup yang menyatu dengan identitas, budaya, dan keberlangsungan generasi.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, bentang alam hijau yang dahulu menjadi sumber pangan dan penghidupan itu perlahan berubah menjadi lubang-lubang tambang raksasa.
Deru alat berat menggantikan suara burung, sementara tanah yang dulu subur kini terkupas tanpa ampun. Aktivitas pertambangan yang terus meluas membuat banyak warga harus menyaksikan kampung halaman mereka rusak, bahkan tak lagi layak dihuni.
Rumah-rumah yang berdiri di sekitar kawasan tambang perlahan ditinggalkan, bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan.
Sebagian warga mengaku kehilangan akses terhadap hutan yang selama ini menjadi sumber makanan, obat-obatan tradisional, hingga ruang adat.
Baca Juga: Guru Papua Dirikan AgenBRILink di Numfor Timur, Buka Akses Keuangan untuk Warga Pedalaman
Sungai yang dulu jernih kini keruh, ikan menghilang, dan lahan berburu tak lagi aman. Dalam kondisi itu, mereka dipaksa berpindah tanpa kepastian masa depan.
Ironisnya, pembangunan yang digadang-gadang membawa kesejahteraan justru menghadirkan penderitaan bagi masyarakat lokal.
Tak sedikit warga Papua yang merasa menjadi tamu di tanah sendiri, terpinggirkan oleh kepentingan ekonomi berskala besar yang tak melibatkan suara mereka.
Di tengah gemerlap hasil tambang yang mengalir ke berbagai penjuru, tersimpan kisah pilu warga Papua yang harus merelakan hutannya hilang dan rumahnya lenyap.
Mereka kini hanya bisa menatap bekas tanah leluhur yang berubah menjadi lubang, sambil berharap keadilan suatu hari benar-benar hadir di bumi Papua.
Baca Juga: Dua Warga Tewas Ditembak KKB Papua di Dekai dan Sugapa

