Bandung, 24 Juni 2023 – Sebuah riset terbaru menyebutkan bahwa Indonesia termasuk dalam tiga besar negara di dunia dengan predikat fatherless country atau negara tanpa ayah. Istilah fatherless merujuk pada kondisi anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah, baik karena ketiadaan fisik maupun karena ayah tidak berperan maksimal dalam pengasuhan.
Fenomena ini mengejutkan banyak pihak. Apalagi, absennya peran ayah dalam proses pendidikan dinilai memiliki dampak besar terhadap karakter dan perilaku anak. Hal ini sejalan dengan keresahan yang dituangkan dalam buku “Mencari Mahkota di Penghujung Zaman”, yang menyinggung tentang hilangnya peran ayah sebagai pendidik utama dalam keluarga. Buku tersebut menegaskan bahwa maraknya perilaku menyimpang di masyarakat merupakan buah dari minimnya keterlibatan ayah dalam pendidikan anak.
Dampak Absennya Ayah
Sejumlah penelitian internasional memperkuat kesimpulan ini. National Longitudinal Study of Adolescent Health menemukan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah lebih berisiko melakukan tindakan kriminal dibandingkan mereka yang hidup bersama sosok ayah.
Hasil serupa juga disebutkan oleh The Lancet dan Hoggerth, bahwa anak-anak tanpa ayah cenderung mengalami masalah perilaku lebih besar daripada mereka yang mendapatkan pengasuhan langsung dari figur ayah.
Perspektif agama pun memberikan penekanan penting terhadap relasi ayah dan anak. Dalam Al-Qur’an, beberapa kisah tokoh besar seperti Luqman, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, dan Nabi Ya’qub menampilkan bagaimana seorang ayah berperan dalam menanamkan nilai dan pendidikan kepada anak-anaknya.
Baca juga : 9 Tips Berkendara Sambil Puasa di Bandung
Mengapa Ayah Absen?
Pertanyaan besar pun muncul: mengapa peran ayah kerap hilang dalam proses pendidikan anak? Apakah karena kehadiran ayah dianggap tidak terlalu penting, ataukah ada faktor struktural yang memengaruhi?
Beberapa analisis menunjukkan sejumlah penyebab:
-
Rendahnya literasi parenting
Banyak laki-laki yang memasuki pernikahan tanpa bekal pengetahuan tentang bagaimana menjadi ayah. Pengasuhan sering dianggap sebagai proses alami, padahal membutuhkan pemahaman yang matang. -
Persepsi sempit peran ayah
Hingga kini masih ada anggapan bahwa tugas utama ayah hanya sebatas mencari nafkah. Pandangan ini membuat mereka merasa tidak perlu terlibat dalam pendidikan maupun pengasuhan sehari-hari. -
Tingginya angka perceraian
Data dari Kata Data menunjukkan, jumlah perceraian di Indonesia pada 2022 mencapai 516.334 kasus, naik 15,31 persen dibandingkan 2021 yang berjumlah 447.743 kasus. Angka ini berkontribusi besar terhadap banyaknya anak yang kehilangan sosok ayah dalam keluarga. -
Kurangnya kebijakan pendidikan informal
Pemerintah dinilai belum cukup memberikan perhatian terhadap pendidikan informal, khususnya sosialisasi pentingnya peran ayah. Kebijakan yang menekankan edukasi parenting masih jarang ditemukan.
Konsekuensi Sosial
Absennya peran ayah dalam pendidikan tidak bisa dipandang remeh. Kekosongan ini menciptakan ruang yang mudah diisi oleh nilai-nilai negatif. Anak yang tidak mendapat bimbingan ayah berisiko kehilangan kemampuan mengenali nilai moral, membedakan benar dan salah, serta membangun karakter positif.
Psikologi modern menegaskan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan memberi dampak signifikan terhadap perilaku anak sejak dini. Seorang ayah yang hadir bukan hanya menyediakan kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, tetapi juga berperan dalam membentuk mental, karakter, dan daya tahan anak menghadapi tantangan zaman.
Peran ayah sebagai role model sangat penting. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, keberanian, dan kekuatan pribadi yang ditunjukkan ayah akan ditransfer kepada anak. Tanpa hal itu, anak berisiko tumbuh rapuh dan mudah goyah menghadapi perubahan sosial yang semakin kompleks.
Saatnya Para Ayah Pulang
Krisis fatherless di Indonesia menjadi peringatan serius. Tidak cukup hanya menekankan peran ibu dalam pendidikan anak, kehadiran ayah mutlak dibutuhkan untuk mencetak generasi yang sehat secara emosional maupun sosial.
Keterlibatan ayah harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam membangun bangsa. Bukan sekadar urusan domestik, tetapi menjadi bagian penting dari pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Seperti pesan dalam buku “Mencari Mahkota di Penghujung Zaman,” pulanglah para ayah ke rumah, hadir dalam kehidupan anak-anak, dan ambil bagian aktif dalam pendidikan mereka. Tanpa itu, Indonesia berisiko kehilangan generasi tangguh yang siap menghadapi tantangan zaman.
Baca juga :Tips Aman Tinggal di Apartemen Bandung Anti Ribet

