Janji Setia Mohammad Hatta, Menikah Setelah Indonesia Merdeka

Sekitarbandung.com – Mohammad Hatta dikenal sebagai sosok pemimpin yang teguh memegang prinsip hidup, termasuk dalam urusan pribadi seperti pernikahan, di mana ia pernah berjanji tidak

Dicky Wicaksono

[addtoany]

Janji Setia Mohammad Hatta, Menikah Setelah Indonesia Merdeka
Janji Setia Mohammad Hatta, Menikah Setelah Indonesia Merdeka

Sekitarbandung.com – Mohammad Hatta dikenal sebagai sosok pemimpin yang teguh memegang prinsip hidup, termasuk dalam urusan pribadi seperti pernikahan, di mana ia pernah berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia benar-benar merdeka.

Janji tersebut bukan sekadar ucapan, karena Hatta menahan diri selama puluhan tahun, meski usianya terus bertambah dan perjuangan kemerdekaan semakin menguras tenaga serta pikiran.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Hatta akhirnya menepati janjinya dengan menikahi Rahmi Rachim atau yang akrab disapa Yuke pada 18 Agustus 1945.

Pernikahan tersebut berlangsung sederhana di sebuah vila di Megamendung, Bogor, sehari setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya kepada dunia.

Saat itu, Mohammad Hatta berusia 43 tahun, sementara Rahmi Rachim masih berumur 19 tahun, sebuah perbedaan usia yang cukup jauh namun dilandasi keseriusan dan ketulusan.

Cara Hatta melamar pun jauh dari kesan romantis penuh rayuan, karena ia menyampaikan niat menikah secara kaku, lugas, dan apa adanya, tetapi justru mencerminkan kejujuran dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin.

Dalam pernikahan tersebut, Soekarno turut hadir sebagai saksi sejarah, memperlihatkan kedekatan dua proklamator yang meski sering berbeda pandangan, tetap saling menghormati.

Baca Juga: Inggit Garnasih, Perempuan Tangguh yang Lebih Memilih Harga Diri Daripada Dimadu Soekarno

Mahar yang diberikan Hatta juga tidak lazim, karena bukan berupa emas atau perhiasan, melainkan sebuah buku karyanya sendiri berjudul Alam Pikiran Yunani, yang mencerminkan kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan pemikiran.

Hal ini semakin menegaskan perbedaan karakter antara Hatta dan Soekarno, di mana Soekarno dikenal karismatik dan dekat dengan banyak perempuan, sementara Hatta tampil sederhana, setia, dan sangat rasional.

Perbedaan itu bahkan terlihat hingga ke generasi penerus, karena keturunan Soekarno banyak yang masih aktif di dunia politik dan pemerintahan hingga kini.

Sementara itu, keturunan Mohammad Hatta memilih jalan yang berbeda dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.

Anak-anaknya, seperti Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta, lebih dikenal sebagai akademisi, budayawan, serta pegiat sosial yang aktif di bidang pemikiran dan pendidikan.

Kontribusi yang mereka berikan menegaskan bahwa pengabdian tidak selalu harus melalui jalur kekuasaan politik.

Kisah hidup Mohammad Hatta ini pun menjadi pengingat bahwa integritas, kesetiaan pada janji, dan kesederhanaan dapat meninggalkan warisan nilai yang kuat, bahkan jauh setelah seorang tokoh berpulang.

Baca Juga: Mohammad Hatta, Bapak Bangsa yang Memilih Mundur demi Prinsip dan Demokrasi

Related Post

Tinggalkan komentar