Sekitarbandung.com – Siapa yang tidak mengenal Ismail Marzuki? Namanya kini mentereng sebagai nama pusat kesenian termegah di Jakarta, Taman Ismail Marzuki.
Lagu-lagu yang ia ciptakan seperti Gugur Bunga, Rayuan Pulau Kelapa, hingga Halo-Halo Bandung menjadi lagu wajib yang dihafal jutaan rakyat Indonesia hingga saat ini.
Namun, di balik nama besarnya yang abadi tersebut ternyata tersimpan kisah akhir hidup yang sunyi dan menyayat hati, serta tidak banyak orang yang mengetahuinya.
Di era 1945-an, Ismail Marzuki adalah jiwa dari perlawanan lewat nada. Ketika tentara berjuang dengan senjata, Bang Ma’ing, sapaan akrabnya, berjuang menggunakan biola dan piano.
Lagu Gugur Bunga yang ia ciptakan dengan air mata untuk menghormati tentara yang gugur dan menjadi anthem kesedihan bangsa, justru saat lagunya dipuja, hidupnya mulai meredup.
Memasuki era 1950-an, popularitas lagu-lagunya tak berbanding lurus dengan kesejahteraannya. Sistem royalti pada masa itu sangat buruk.
Ia harus hidup pas-pasan. Bahkan demi menyambung hidup, ia terpaksa menjual mobil Opelette kesayangannya. Barang-barang rumah tangga pun satu per satu dijual untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Kondisinya semakin memburuk saat ia divonis menderita penyakit paru-paru basah (TBC). Ia harus terbaring lemah di rumah kontrakan sederhana di kawasan Tanah Abang. Penghasilan dari musik tak cukup untuk membeli obat-obatan mahal dan biaya berobat.
Baca Juga: Janji Setia Mohammad Hatta, Menikah Setelah Indonesia Merdeka
Inilah fase yang paling memilukan. Ketika Ismail Marzuki tak berdaya di tempat tidur, sang istri, Eulis Zuraidah, harus banting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup.
Eulis berjualan es Ganefo (es lilin) dan gado-gado di depan rumah. Bayangkan, keluarga pencipta lagu kebangsaan harus berjualan es kecil-kecilan hanya agar dapur tetap mengepul.
Akhirnya, pada 25 Mei 1958, di usia yang masih sangat muda, 44 tahun, Ismail Marzuki mengembuskan napas terakhir di pangkuan istrinya.
Ia pergi dalam kesunyian. Tak ada harta melimpah yang diwariskannya. Hanya sebuah biola tua dan ratusan lagu yang kelak akan terus dinyanyikan oleh anak cucu bangsa.
Dunia baru benar-benar melek setelah ia tiada. Pemerintah baru memberinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2004, atau 46 tahun setelah kematiannya, sebuah waktu yang terbilang lama.
Gedung megah Taman Ismail Marzuki berdiri menggunakan namanya, namun sang pemilik nama tak pernah merasakan kemegahan tersebut. Ia telah gugur mendahului bunga-bunga yang ia nyanyikan.
Ismail Marzuki mengajarkan arti pengabdian tanpa pamrih. Ia memberikan segalanya untuk Indonesia lewat nada, meski pada masanya Indonesia belum mampu memberinya kehidupan yang layak.
Sebagai generasi penerus, tak ada salahnya sejenak mengirimkan doa untuk Ismail Marzuki, mengenang jasa dan keikhlasannya, agar semangat pengabdiannya terus hidup dan tak pernah pudar di tengah bangsa yang kini menikmati warisan karyanya.
Baca Juga: Inggit Garnasih, Perempuan Tangguh yang Lebih Memilih Harga Diri Daripada Dimadu Soekarno

