Stop Bakar Sampah Plastik, Bagi Kita Asapnya Terlalu Mencekik

Sekitarbandung.com – Plastik tidak pernah luput dari kehidupan sehari-hari. Terlena oleh kemudahan, terkadang kita lupa bahkan tidak peduli bahwa sampah plastik sangat sulit terurai. Ketika

Dicky Wicaksono

Stop Bakar Sampah Plastik, Bagi Kita Asapnya Terlalu Mencekik
Stop Bakar Sampah Plastik, Bagi Kita Asapnya Terlalu Mencekik (Foto Hanya Ilustrasi)

Sekitarbandung.com – Plastik tidak pernah luput dari kehidupan sehari-hari. Terlena oleh kemudahan, terkadang kita lupa bahkan tidak peduli bahwa sampah plastik sangat sulit terurai.

Ketika plastik terus menumpuk, lingkungan akan menjadi kotor. Banyak orang memilih melakukan pembakaran sebagai opsi untuk mengurai sampah plastik. Padahal, ada banyak dampak negatif di balik tindakan tersebut.

Beberapa bahan kimia berbahaya yang dihasilkan dari pembakaran plastik antara lain sebagai berikut:

  • Dioksin dan Furan
    Racun yang sangat kuat dan dapat memicu kanker, gangguan hormon, serta masalah reproduksi.
  • Karbon Monoksida (CO)
    Gas beracun yang menghambat darah membawa oksigen, berisiko menyebabkan pusing hingga kematian.
  • Partikel Halus (PM2.5)
    Partikel mikroskopis yang dapat masuk ke paru-paru dan aliran darah, meningkatkan risiko asma serta penyakit jantung.
  • Logam Berat
    Seperti timbal dan kadmium, bersifat racun kronis dan dapat menumpuk di dalam tubuh.

Saat plastik dibakar, zat beracun seperti dioksin, furan, logam berat, serta partikel halus dilepaskan ke udara. Racun ini tidak hilang, melainkan berpindah dan menumpuk melalui beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut:

Baca Juga: Agar Kotorannya Tidak Berceceran di Jalan, Ibu Ini Beri Kantong Plastik Hitam di Bagian Belakang Ayam Peliharaannya

  • Mengendap di Tanah dan Air
    Asap pembakaran membawa partikel beracun yang kemudian jatuh ke tanah, sawah, sungai, dan laut. Racun ini dapat bertahan lama dan sulit terurai.
  • Diserap oleh Tanaman
    Tanaman pangan seperti padi, sayuran, dan buah dapat menyerap racun dari tanah dan air yang tercemar. Racun tersebut masuk ke bagian tanaman yang dikonsumsi manusia.
  • Masuk ke Hewan Ternak
    Hewan ternak memakan rumput, air, atau pakan yang telah tercemar. Zat beracun kemudian menumpuk di daging, susu, dan telur.
  • Terakumulasi di Ikan dan Biota Air
    Di perairan, racun diserap oleh plankton, lalu dimakan ikan kecil, dan terus menumpuk hingga ke ikan besar. Semakin tinggi tingkat rantai makanan, semakin tinggi kadar racun yang terakumulasi.
  • Dikonsumsi Manusia
    Manusia berada di ujung rantai makanan. Racun yang menumpuk dalam bahan pangan dapat masuk ke tubuh dan menimbulkan efek jangka panjang, meski paparannya kecil tetapi berlangsung terus-menerus.

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat melalui unggahan akun Instagram @humas_jabar pada Selasa (27/1/2026) mengajak masyarakat untuk tidak lagi membakar sampah plastik.

“Apa yang kita bakar hari ini, bisa kita konsumsi esok hari. Sayangi keluarga, jangan bakar plastik. Mulai pilah sampah dari rumah,” tulisnya dalam unggahan.

Baca Juga: BRI Dorong Generasi Muda Selamatkan Lingkungan Lewat Penanaman Mangrove dan Daur Ulang Plastik

Related Post

Tinggalkan komentar