Sekitarbandung.com – Siapa yang tidak mengenal Bandara Adisutjipto di Yogyakarta? Selama puluhan tahun, bandara ini menjadi gerbang utama bagi jutaan orang yang datang ke Kota Gudeg.
Namun, di balik hiruk pikuk penumpang dan suara mesin pesawat tersebut, tanah bandara ini menyimpan sejarah yang kelam.
Tanah ini pernah basah oleh darah seorang pemuda berusia 29 tahun, yang namanya kini terukir abadi di sana, yaitu Agustinus Adisutjipto.
Adisutjipto bukanlah seorang pemuda biasa. Ia adalah Komodor Muda Udara, Bapak Penerbang Indonesia yang mendirikan sekolah penerbangan pertama di Yogyakarta.
Ia dikenal jenius, berani, dan visioner. Cita-citanya sederhana, yaitu ingin melihat anak-anak Indonesia bisa menerbangkan pesawat sendiri di langit merdeka.
Indonesia sedang dalam krisis pada Juli 1947. Blokade Belanda membuat stok obat-obatan habis. Bahkan banyak rakyat yang sakit dan terluka.
Adisutjipto bersama dengan rekan seperjuangannya, Abdulrachman Saleh, mengambil risiko besar. Mereka menyewa pesawat Dakota VT-CLA.
Pesawat tersebut dari Singapura untuk membawa berton-ton obat-obatan sumbangan Palang Merah Malaya. Ini misi kemanusiaan, bukan misi tempur.
Pesawat ini murni pesawat angkut sipil. Tidak ada senapan mesin. Tidak ada bom. Isinya hanya kotak-kotak obat untuk rakyat Indonesia.
Sesuai hukum perang internasional, pesawat medis dilarang keras untuk diserang. Namun, Belanda rupanya sudah menunggu dengan niat jahat.
Pada 29 Juli 1947, sore hari, saat pesawat Dakota itu sudah bersiap mendarat di Maguwo (sekarang Bandara Adisutjipto) dan roda pendaratan sudah keluar, tiba-tiba dua pesawat tempur Kittyhawk milik Belanda muncul.
Tanpa peringatan, mereka memberondong pesawat sipil yang lambat dan tak berdaya itu dengan senapan mesin.
Ditembaki secara brutal, sayap pesawat terputus. Dakota VT-CLA itu oleng, menabrak pohon, dan jatuh terbakar hebat di area persawahan pinggir landasan.
Tidak ada perlawanan. Itu adalah eksekusi sepihak. Semua awak dan penumpang gugur, kecuali satu orang yang selamat.
Adisutjipto gugur di tempat. Tubuhnya hangus terbakar bersama obat-obatan yang seharusnya menyelamatkan nyawa rakyatnya.
Usianya baru 29 tahun. Kariernya masih panjang, mimpinya masih tinggi, tetapi semuanya dihentikan paksa oleh peluru penjajah yang melanggar etika perang.
Oleh karena itu, untuk mengenang peristiwa biadab itu, nama Pangkalan Udara Maguwo diganti menjadi Bandara Adisutjipto. Sebuah monumen Tugu Ngoto didirikan di lokasi jatuhnya pesawat.
Ia gugur tanpa sempat melawan. Namanya kini abadi menjadi nama bandara, sebagai pengingat bahwa kemerdekaan langit Indonesia dibayar dengan darah dan air mata.
Baca Juga: Karyanya Dipuja Seluruh Dunia, Tapi Pramoedya Ananta Toer Dianggap Sampah di Negeri Sendiri

