Demi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, I Gusti Ngurah Rai Rela Menukar dengan Nyawanya

Sekitarbandung.com – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Setiap tahun, jutaan turis mendarat di sini dengan wajah bahagia, siap berpesta dan menikmati pantai. Tapi tahukah

Dicky Wicaksono

Demi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, I Gusti Ngurah Rai Rela Menukar dengan Nyawanya
Demi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, I Gusti Ngurah Rai Rela Menukar dengan Nyawanya

Sekitarbandung.com – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Setiap tahun, jutaan turis mendarat di sini dengan wajah bahagia, siap berpesta dan menikmati pantai. Tapi tahukah kamu?

Nama bandara ini diambil dari seorang pemuda berusia 29 tahun yang pernah menjadikan tanah Bali banjir darah demi mengusir penjajah. Ia merupakan I Gusti Ngurah Rai.

Ia lahir di Badung pada tahun 1917. Ngurah Rai bukanlah orang sembarangan. Ia cerdas, berpendidikan militer (lulusan Corps Opleiding Voor Reserve Officieren), dan mempunyai wajah yang tampan serta karismatik.

Setelah kemerdekaan 1945, Belanda (NICA) kembali datang dengan nafsu menguasai Bali. Mereka membujuk Ngurah Rai dengan jabatan tinggi agar mau bergabung membentuk “Negara Indonesia Timur”.

Belanda meremehkan harga diri orang Bali. Alih-alih tergiur jabatan, Ngurah Rai justru membalas surat bujukan Belanda dengan kalimat yang menyala-nyala.

“Soal perundingan, kami baru bersedia jika Belanda enyah dari Pulau Bali. Bali bukan tempat untuk perundingan diplomasi, tapi tempat pertarungan.”

Surat tersebut adalah lonceng kematian. Perang ternyata tak terhindarkan.

Ngurah Rai memimpin pasukan bernama Ciung Wanara. Mereka melakukan long march ke Gunung Agung, bergerilya menyulitkan Belanda.

Senjata mereka terbatas, logistik pas-pasan, tapi nyali mereka tak terukur. Puncaknya terjadi pada 20 November 1946 di Desa Marga, Tabanan.

Baca Juga: Bukan Sekedar Pilot Biasa, Abdul Halim Perdanakusuma Sang Penghancur Nazi Jerman

Subuh itu, pasukan Ciung Wanara terpergok. Belanda mengerahkan kekuatan penuh. Bukan cuma tentara darat, mereka curang dengan mendatangkan pesawat pengebom dari Makassar.

Ladang jagung di Marga dihujani peluru dan bom dari udara. Secara logika militer, Ciung Wanara sudah kalah telak. Pilihannya hanya dua: menyerah atau mati konyol.

Tapi dalam kamus ksatria Bali, tidak ada kata menyerah. Di tengah hujan peluru, I Gusti Ngurah Rai meneriakkan satu kata: “PUPUTAN!”.

Artinya: bertempur habis-habisan sampai titik darah penghabisan. Tidak ada bendera putih. Mereka maju menyongsong maut demi menjaga kehormatan tanah leluhur.

Hari itu, ladang Marga menjadi saksi bisu. I Gusti Ngurah Rai gugur bersama seluruh pasukannya yang berjumlah 96 orang. Tak ada yang tersisa.

Mereka semua gugur, tapi NICA gagal menaklukkan jiwa orang Bali. Peristiwa ini dikenal sebagai Puputan Margarana. Salah satu pertempuran paling heroik dalam sejarah Revolusi Indonesia.

Kini, namanya abadi di gerbang utama Pulau Dewata. Agar setiap orang yang datang ke Bali ingat, bahwa keindahan pulau ini pernah dibayar lunas dengan darah seorang pemuda dan pasukannya yang menolak berlutut.

Selamat mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, sebuah gerbang yang bukan hanya mengantar wisatawan ke Pulau Dewata, tetapi juga mengingatkan bahwa keindahan Bali hari ini pernah dibayar mahal dengan darah, keberanian, dan pengorbanan.

Baca Juga: Dulu Habibie Sangat Takut Mati, Tetapi Kini Tidak Lagi karena Ainun Ada di Sana

Related Post

Tinggalkan komentar