Sekitarbandung.com – Di saat istri pejabat lain berlomba-lomba memamerkan perhiasan, ada satu wanita yang justru hidup dalam kesederhanaan yang disebut “ekstrem”. Namanya Merry Hoegeng.
Ia merupakan istri dari Jenderal Hoegeng Imam Santoso, Kapolri paling jujur yang pernah dimiliki negeri ini. Menjadi istri Hoegeng berarti satu hal: siap menderita demi kejujuran.
Gaji polisi pada tahun 60-an sangat kecil. Untuk membantu dapur agar tetap ngebul, Bu Merry berinisiatif membuka toko bunga kecil-kecilan. Harapannya sederhana:
“Lumayan buat tambah-tambah kas uang belanja.”
Toko itu ternyata laris manis. Banyak pejabat dan pengusaha yang memborong bunga di sana. Ekonomi keluarga pun mulai membaik.
Melihat tokonya ramai, Pak Hoegeng justru tidak senang. Wajahnya tampak murung.
Suatu sore, ia memanggil istrinya dengan nada pelan namun tegas:
“Bu, tolong toko bunganya ditutup ya…”
Merry terkejut.
“Kenapa, Pak? Kan ini hasil keringat sendiri? Halal kan?”
Jawaban Hoegeng membuat hati Merry bergetar:
“Bu, mereka beli bunga itu bukan karena bunganya bagus. Mereka beli mahal-mahal karena sungkan sama saya. Karena jabatan saya.”
“Itu namanya gratifikasi halus. Nanti saya jadi berutang budi pada mereka saat menegakkan hukum.”
Hati istri mana yang tidak berat? Sumber penghasilan tambahan satu-satunya harus dihentikan. Tetapi Merry paham siapa lelaki yang ia nikahi.
Pada hari itu juga, toko bunga ditutup selamanya. Merry memilih taat pada prinsip suaminya daripada menikmati uang yang “abu-abu”. Tanpa drama. Tanpa menuntut.
Ujian tak berhenti di situ. Pernah ada pengusaha mengirim perabot mewah ke rumah dinas. Merry sempat senang menerimanya. Namun begitu Hoegeng pulang, ia marah besar.
“Keluarkan semua barang itu sekarang! Atau saya yang keluar dari rumah ini!”
Di bawah tatapan tetangga, Merry membantu suaminya mengangkut barang-barang mewah itu ke pinggir jalan.
Kisah ini berakhir “tragis” bagi standar duniawi. Saat pensiun, Hoegeng tidak memiliki rumah pribadi dan tidak memiliki mobil.
Semua fasilitas negara dikembalikan, bahkan mobil dinas pun ia tolak untuk dibawa pulang.
Masa tua mereka dihabiskan dengan melukis dan menyanyi di rumah sederhana pemberian institusi kepolisian (yang awalnya juga sempat ia tolak).
Akhirnya Hoegeng wafat pada tahun 2004, disusul Bu Merry pada tahun 2024.
Mereka pergi membawa “harta” yang jauh lebih mahal daripada emas dan permata, yaitu nama baik.
Terima kasih, Bu Merry, sudah menjadi penguat bagi Pak Hoegeng.
Tanpa keikhlasanmu hidup susah, mungkin Indonesia tak akan pernah memiliki legenda polisi sejujur Hoegeng.
Baca Juga: Kisah Jenderal Polisi Hoegeng, Dipecat Karena Terlalu Jujur dan Menolak Korupsi hingga Akhir Hayat

