Sekitarbandung.com – Pria berkacamata tebal di Sumatera sekaligus Menteri Kemakmuran saat itu, Syafruddin Prawiranegara, tidak percaya dengan propaganda Belanda.
Propaganda yang disiarkan melalui radio tersebut terjadi dalam Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, di mana Ibu Kota Yogyakarta jatuh, Soekarno dan Mohammad Hatta ditangkap lalu diasingkan.
“Republik Indonesia sudah tamat!”
Berbekal mandat rahasia (kawat telegram) dari Soekarno yang nyaris tak sampai, Syafruddin mengambil langkah nekat. Ia mendeklarasikan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) di Bukittinggi.
Secara de facto, ia adalah Kepala Negara (Presiden sementara) Republik Indonesia. Syafruddin tidak memimpin dari gedung mewah, melainkan keluar masuk hutan belantara Sumatera.
Ditemani radio pemancar jadul, ia terus mengudara untuk mengirim pesan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dunia internasional:
“Indonesia belum mati! Kami masih ada!”
Langkah ini sukses mematahkan propaganda Belanda di mata dunia.
Soekarno dan Hatta akhirnya dibebaskan pada Juli 1949. Jika Syafruddin haus kekuasaan, maka ia bisa saja menolak mengembalikan mandat.
Tetapi ia bukan politisi yang gila akan jabatan. Dengan ikhlas dan hormat, ia kembalikan mandat itu kepada Soekarno. Ia menyelamatkan negara tanpa pamrih.
Pada tahun 1958, angin politik berubah. Syafruddin kecewa melihat pemerintah pusat yang mulai sentralistik, korup, dan memberi ruang terlalu besar untuk paham komunis (PKI).
Ia pun bergabung dengan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera untuk menuntut otonomi dan keadilan. Langkah kritisnya itu dianggap sebagai makar oleh Soekarno.
Pasukan pusat dikirim. Syafruddin yang dulu menyelamatkan negara dari hutan Sumatera, kini diburu di hutan yang sama oleh tentara negaranya sendiri. Ia akhirnya menyerah dan dijebloskan ke penjara pada tahun 1962-1966.
Di era Orde Baru, Syafruddin dibebaskan, tetapi suaranya tetap dibungkam karena sering mengkritik pemerintah. Namanya seolah sengaja “dikaburkan” dari buku-buku sejarah sekolah selama puluhan tahun.
Baru pada tahun 2011, negara akhirnya mengakui kesalahannya dan menetapkan Syafruddin sebagai Pahlawan Nasional.
Sejarah memang ditulis oleh pemenang.
Tetapi satu fakta yang tidak bisa dihapus. Tanpa ketegasan Syafruddin Prawiranegara mendirikan PDRI, negara Indonesia mungkin sudah bubar pada tahun 1948.
Alfatihah, untuk sang Bapak Bangsa.
Baca Juga: Mar’ie Muhammad Bisa Hidup Mewah, tetapi Pilih Naik Kijang Butut daripada Pakai Mobil Dinas

