Raden Ayu Lasminingrat, Perempuan Sunda yang Tidak Ingin Hanya Diam di Dapur

Sekitarbandung.com – Pada abad ke-19, saat perempuan belum dianggap perlu menempuh pendidikan tinggi, ada satu mojang Sunda dari Sumedang yang justru duduk di bangku sekolah

Dicky Wicaksono

Raden Ayu Lasminingrat, Perempuan Sunda yang Tidak Ingin Hanya Diam di Dapur
Raden Ayu Lasminingrat, Perempuan Sunda yang Tidak Ingin Hanya Diam di Dapur (Instagram/@humas_jabar)

Sekitarbandung.com – Pada abad ke-19, saat perempuan belum dianggap perlu menempuh pendidikan tinggi, ada satu mojang Sunda dari Sumedang yang justru duduk di bangku sekolah Belanda, yaitu Raden Ayu Lasminingrat.

Ia tidak datang hanya sekadar untuk hadir, karena di kelas ia menjadi satu-satunya murid pribumi perempuan yang mahir membaca dan menulis serta fasih berbahasa Belanda.

Di saat banyak perempuan bahkan belum bisa mengakses pendidikan, ia sudah menembus batas. Bagaimana? Sangat keren bukan? Keren banget!

Darah Intelektual Turunan Sunda

Lasminingrat merupakan putri dari Raden Haji Muhammad Musa, seorang tokoh sastra Sunda yang berpengaruh di Sumedang.

Dari ayahnya itulah ia belajar satu hal penting yang selalu ia pegang dalam perjalanan hidupnya, yaitu bahwa ilmu adalah warisan paling berharga dan tidak bisa digantikan oleh apa pun.

Perempuan yang Menulis Sejarah

Salah satu karyanya yang terkenal adalah Carita Erman. Buku ini menjadi bacaan pendidikan di zamannya dan ikut membentuk literasi masyarakat Sunda.

Buku tersebut menceritakan kumpulan cerita anak yang berisi ajaran moral, budi pekerti, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui kisah petualangan seorang tokoh bernama Erman.

Baca Juga: Selamat Hari Musik Nasional 9 Maret 2026, Berikut Perjalanan Terciptanya Lagu Indonesia Raya Karya Wage Rudolf Soepratman

Bergerak Bersama Perempuan Hebat Lain

Lasminingrat juga berjuang di bidang pendidikan perempuan, sejalan dengan Dewi Sartika. Mereka berdua membuka pintu sekolah untuk perempuan Sunda.

Hal tersebut mereka lakukan karena perempuan juga berhak untuk bermimpi dan menempuh pendidikan setinggi-tingginya tanpa pengecualian.

Jejaknya Masih Hidup Hingga Hari Ini

Perjuangannya bukan hanya sebuah cerita. Sekolah yang ia dirikan di Garut masih berdiri sampai sekarang dan sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Dari ruang kelas sederhana itu lahir sebuah harapan baru bagi perempuan Sunda. Bahkan Lasminingrat juga membuktikan bahwa:

“Perempuan tidak hanya berhenti di dapur. Perempuan bisa bermimpi, belajar, dan meninggalkan jejak yang nyata.”

Baca Juga: 8 Maret Diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional, Momentum Menghargai Peran dan Perjuangan Perempuan

Related Post

Tinggalkan komentar