Parasocial Relationship Jadi Alasan Mengapa Kita Terikat secara Emosional dengan Seleb padahal Bukan Siapa-siapa Kita

Sekitarbandung.com – Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa orang suka mengikuti kabar selebritas? Mengapa bisa sampai betah menonton streaming? Bahkan sampai ada yang ikut nyawer? Tentunya mereka

Dicky Wicaksono

Parasocial Relationship Jadi Alasan Mengapa Kita Terikat secara Emosional dengan Seleb padahal Bukan Siapa-siapa Kita
Parasocial Relationship Jadi Alasan Mengapa Kita Terikat secara Emosional dengan Seleb padahal Bukan Siapa-siapa Kita

Sekitarbandung.com – Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa orang suka mengikuti kabar selebritas? Mengapa bisa sampai betah menonton streaming? Bahkan sampai ada yang ikut nyawer?

Tentunya mereka bukan siapa-siapa kita, tetapi anehnya hal tersebut bisa membuat kita lupa waktu, lupa makan, bahkan hingga lupa mengerjakan sesuatu. Mengapa bisa begitu? Simak penjelasannya berikut ini!

Menonton sekali dua kali terasa seru, lalu muncul keinginan untuk terus mengikuti kabar mereka. Fenomena ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh sosiolog AS, Donald Horton dan R. Richard Wohl tentang Parasocial Relationship.

Parasocial relationship merupakan hubungan yang melibatkan keterikatan emosional meski hanya berlangsung satu arah (dari kita).

Contohnya, sering menonton kehidupan mereka membuat kita merasa seperti memiliki teman, merasa diajak berbicara, bahkan seolah mendapatkan energi baru untuk menjalani hidup.

Berikut beberapa faktor pendorong terbentuknya parasocial relationship:

  • Media sosial.
  • Paparan konsisten.
  • Keragaman konten.
  • Kebutuhan sosial.

Karena sering memantau gerak-gerik mereka, otak kita menangkap hal tersebut sebagai kedekatan emosional. Walaupun bukan siapa-siapa, mereka terasa dekat.

Baca Juga: Profil Para Member A4A Clan di Streaming Marapthon Reza Arap, Berikut Deretan Anggotanya!

Mirip Saat Kepulangan Selebritas

Hal tersebut mirip dengan perasaan kaget, sedih, bahkan menangis saat mendengar kabar bahwa selebritas kesayangan kita berpulang.

Perasaan sedih seketika hadir dalam diri ketika pertama kali mendengar kabar tersebut. Rasanya seperti kehilangan orang terdekat.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Ini menjadi pertanda bahwa rasa kemanusiaan, empati, dan kepekaan sosial kita masih ada.

Kendati demikian, kita perlu belajar mengelola perasaan ini. Pada tingkat tertentu, ikatan emosional ini bisa berubah menjadi pengaruh yang lebih besar, yaitu keinginan untuk menjadi seperti mereka.

Entah itu dari gaya berbicara, cara bercanda, gaya berpakaian, bahkan hingga gaya hidup. Bhaaaappp!

Hal yang Wajar

Bahagia dan seru saat menonton live streaming adalah hal yang wajar. Namun, yang perlu disadari adalah fanatisme terkadang bisa membuat kita terjerumus pada keputusan yang keliru.

Misalnya, ingin hidup seperti mereka, padahal secara kondisi dan kemampuan finansial sangat berbeda. Hal ini bisa menjadi masalah dalam kehidupan di kemudian hari.

Kita harus bisa membedakan mana hiburan (gimmick) dan mana kenyataan. Kita perlu memiliki kontrol diri yang lebih baik agar tidak lupa waktu dan lupa diri.

Mereka, idolamu, pun kemungkinan tidak ingin kita bersikap berlebihan seperti itu. Oleh karena itu, tanamkan kesadaran dalam diri agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Reza Arap Kembali Lagi ke Live Streaming Marapthon, Sekalinya Balik Bawa Bintang Tamu Joko Anwar, Aming, dan Morgan Oey

Related Post

Tinggalkan komentar