Sekitarbandung.com – Banyak yang mengatakan bahwa tawa paling keras sering datang dari orang yang memiliki kesedihan paling dalam. Setuju? Charlie Chaplin adalah buktinya!
Hampir semua orang mengenal sosok ini karena telah menjadi ikon dunia lintas generasi. Ia selalu membuat orang tersenyum dengan ciri khas tongkat, topi bowler, dan kumisnya.
Hidupnya Sangat Keras
Meski di film ia berhasil menghibur, kehidupan pribadinya jauh dari kata ceria. Ia memiliki masa kecil yang keras. Ibunya sakit jiwa dan ayahnya yang merupakan pemain musik hall adalah pecandu alkohol.
Selain itu, ia juga beberapa kali pernah tidur di jalanan. Bahkan, ia sempat masuk panti jompo (workhouse) dua kali karena kehidupannya yang jauh dari kata cukup.
Bakat Spesial
Hidupnya memang sulit, tetapi ia memiliki bakat yang tidak semua orang punya, yaitu membuat orang lain tertawa.
Pada tahun 1908, ia bergabung dengan rombongan komedi Fred Karno. Di sana, bakatnya semakin diasah sebagai pelawak profesional.
Kariernya semakin melesat saat ia dan rombongan komedinya melakukan tur ke Amerika pada tahun 1913. Di sana, Chaplin direkrut oleh studio film Keystone.
Meski di awal ia hanya digaji $150 per minggu, dalam hitungan bulan Chaplin menjadi salah satu bintang film besar dunia melalui film The Tramp.
Baca Juga: Cuaca Makin Panas, Hujan Makin Jarang? Apakah Indonesia Berpotensi Alami Godzilla El Nino?
Berkelana ke Indonesia
Uniknya, di puncak ketenarannya saat itu, Chaplin justru memilih berkelana ke Indonesia. Pada tahun 1927 dan 1932, ia singgah di Bandung, Garut, hingga Bali.
Bahkan, ia sempat merekam perjalanannya dengan kamera 16 mm. Rupanya, sang bintang dunia tersebut membutuhkan healing di tanah Jawa juga.
Jadi Target FBI
Pada tahun 1940, di tengah Perang Dunia II, Chaplin membuat film The Great Dictator, sebuah film satire yang menyentil Adolf Hitler.
Kala itu, Amerika tidak ingin terseret ke dalam perang Eropa. Aksi Chaplin ini membuat Amerika jengah dan dianggap dapat merusak netralitas negara.
Akibatnya, Chaplin menjadi target FBI. Saat itu, di mata FBI, siapa pun yang terlalu vokal melawan fasisme seperti pidato Chaplin di akhir film tersebut akan dicurigai sebagai simpatisan komunis.
Puncaknya terjadi pada tahun 1952 saat Chaplin pergi ke London untuk promosi film, izin masuknya ke Amerika dicabut. Ia pun diasingkan dari negara yang telah membesarkan namanya.
Namun, 20 tahun kemudian Amerika memanggilnya kembali. Pada tahun 1972, Chaplin menerima Honorary Academy Award dan mendapatkan standing ovation terpanjang dalam sejarah Oscar.
Di masa akhirnya, Charlie Chaplin pindah ke Swiss dan hidup di sana hingga wafat pada tanggal 25 Desember 1977.
Baca Juga: 5 Aturan Baru di Piala Dunia 2026 bagi Para Pemain yang Wajib Ditaati

