Berani Senggol Ego Presiden, Jenderal Ahli Strategi Ini Dipaksa Pensiun Dini di Usia Muda

Sekitarbandung.com – Ketika berbicara tentang jenderal ahli strategi terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, nama Mayor Jenderal Tahi Bonar Simatupang pasti berada di urutan teratas. Simatupang

Dicky Wicaksono

Berani Senggol Ego Presiden, Jenderal Ahli Strategi Ini Dipaksa Pensiun Dini di Usia Muda
Berani Senggol Ego Presiden, Jenderal Ahli Strategi Ini Dipaksa Pensiun Dini di Usia Muda

Sekitarbandung.com – Ketika berbicara tentang jenderal ahli strategi terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, nama Mayor Jenderal Tahi Bonar Simatupang pasti berada di urutan teratas.

Simatupang bukanlah jenderal yang hanya bermodalkan senapan, melainkan “otak cemerlang” di balik taktik perang gerilya melawan Belanda.

Kejeniusannya benar-benar tidak tertandingi pada masa itu. Setelah Sudirman wafat, jabatan Panglima Besar dihapuskan.

Simatupang yang saat itu baru menginjak usia 29 tahun langsung diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang RI, sebuah jabatan militer tertinggi di republik ini.

Namun, kecerdasannya yang murni justru membawa petaka saat berhadapan dengan kerasnya dunia politik. Memasuki tahun 1952, suasana negara sangat kacau.

Simatupang muak melihat para politisi sipil di parlemen yang terus-menerus mencampuri dan mengacak-acak urusan internal militer demi kepentingan partai mereka sendiri.

Ketegangan itu akhirnya meledak pada peristiwa bersejarah Peristiwa 17 Oktober 1952. Ribuan massa berdemonstrasi, dan meriam-meriam militer dihadapkan lurus ke arah Istana Merdeka.

Simatupang bersama para perwira tinggi militer menghadap Presiden Soekarno secara langsung. Dengan nyali besar, mereka menuntut agar parlemen yang korup dan penuh intrik politik itu segera dibubarkan.

Namun, tuntutan keras itu justru membuat Bung Karno murka besar. Soekarno merasa harga dirinya diinjak dan posisinya sebagai Presiden sedang didikte oleh pihak militer.

Baca Juga: Selamatkan RI dari Perpecahan, I Gusti Ketut Pudja Rela Dipenjara demi Pertahankan Tanah Leluhur

Di titik itulah, hubungan antara Sang Presiden dengan jenderal kebanggaannya hancur berkeping-keping. Soekarno tak tinggal diam.

Ia membalas dengan taktik politik yang mematikan. Setahun kemudian, pada 1953, jabatan KSAP yang dipegang Simatupang tiba-tiba dihapuskan begitu saja.

Simatupang “diparkir” dan dipindahkan ke Kementerian Pertahanan. Ia dijadikan sekadar penasihat militer tanpa pasukan, tanpa wewenang, dan tanpa tongkat komando.

Sayap sang jenderal jenius itu benar-benar dipatahkan secara halus oleh negaranya sendiri. Namun, penderitaan itu belum usai.

Pada tahun 1959, T.B. Simatupang akhirnya dipaksa pensiun dini dari militer di usianya yang saat itu baru menginjak 39 tahun.

Masa keemasannya sebagai seorang pemikir militer seakan terhenti secara tragis, dikalahkan oleh kuatnya intrik politik pada masa itu.

T.B. Simatupang membuktikan bahwa seorang prajurit sejati tidak selalu bergantung pada pangkat untuk tetap berbakti.

Meski tidak lagi berada di dalam struktur militer, ia terus mengabdi melalui tulisan dan pelayanan hingga akhir hayatnya.

Indonesia berutang budi pada sosok pemikir brilian yang pernah mengalami masa sulit tersebut. Hormat kami, Jenderal!

Baca Juga: Tak Sepaham dengan Presiden, Wakil Presiden Mohammad Hatta Pilih Mundur Jadi Rakyat Biasa

Related Post

Tinggalkan komentar