75 Detik yang Mengubur Mimpi, Pratiwi Sudarmono dan Pupusnya Harapan Indonesia ke Luar Angkasa

Sekitarbandung.com – Pada tanggal 28 Januari 1986, Space Shuttle Challenger hancur dan membawa pergi tujuh nyawa astronot sekaligus mengubur kesempatan Indonesia pergi ke luar angkasa.

Dicky Wicaksono

75 Detik yang Mengubur Mimpi, Pratiwi Sudarmono dan Pupusnya Harapan Indonesia ke Luar Angkasa
75 Detik yang Mengubur Mimpi, Pratiwi Sudarmono dan Pupusnya Harapan Indonesia ke Luar Angkasa

Sekitarbandung.com – Pada tanggal 28 Januari 1986, Space Shuttle Challenger hancur dan membawa pergi tujuh nyawa astronot sekaligus mengubur kesempatan Indonesia pergi ke luar angkasa.

Padahal, setahun sebelumnya, semua sudah siap, termasuk seragamnya, dan nama Indonesia telah terjahit di seragam tersebut sehingga kita benar-benar tinggal satu langkah lagi menuju orbit.

Di tahun yang sama, tim dari NASA datang ke Jakarta dengan tujuan menyeleksi payload specialist Indonesia yang akan terlibat dalam misi mereka.

Meski tidak mudah menembus standar NASA, seorang perempuan bernama Pratiwi Sudarmono, lulusan kedokteran UI dan bergelar PhD bidang biologi molekuler dari Universitas Osaka, Jepang, berhasil lolos.

Sebagai payload specialist, Pratiwi merupakan ilmuwan utama yang memimpin eksperimen mikrobiologi di orbit dan memegang peran yang sangat krusial.

Baca Juga: 50 Tahun Produk Apple, Berawal dari Hobi hingga Bisa Bernilai US$4 Triliun

Misinya adalah meneliti mutasi DNA manusia dalam radiasi kosmik guna menciptakan terobosan medis yang tidak mungkin ditemukan di Bumi.

Pada 28 Januari 1986, sebuah pagi di Florida yang seharusnya menjadi hari bersejarah bagi sains berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik. Langkah Pratiwi pun terhenti sebelum sempat meninggalkan landasan.

Bagi Indonesia, peristiwa ini bukan hanya duka internasional, tetapi juga menjadi pintu yang tertutup saat harapan sudah berada di depan mata sehingga mimpi antariksa pun ikut membeku.

Roketnya memang gagal meluncur, tetapi setidaknya Pratiwi telah menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk berdiri di panggung tertinggi peradaban manusia.

Baca Juga: Dicintai Dunia tetapi Diusir Amerika, Berikut Sisi Gelap di Balik Kumis dan Tongkat Charlie Chaplin!

Related Post

Tinggalkan komentar