Hidup Melarat di Negeri Penjajah, Mohammad Hatta Justru Berhasil Modali Kemerdekaan Bangsa

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1921, seorang pemuda Minang, Mohammad Hatta, tiba di Belanda sebagai mahasiswa. Ia membawa koper berisi pakaian seadanya dan mimpi besar. Banyak

Dicky Wicaksono

Hidup Melarat di Negeri Penjajah, Mohammad Hatta Justru Berhasil Modali Kemerdekaan Bangsa
Hidup Melarat di Negeri Penjajah, Mohammad Hatta Justru Berhasil Modali Kemerdekaan Bangsa

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1921, seorang pemuda Minang, Mohammad Hatta, tiba di Belanda sebagai mahasiswa. Ia membawa koper berisi pakaian seadanya dan mimpi besar.

Banyak yang mengira bahwa kuliah di Eropa itu mewah, padahal bagi pemuda dari negeri jajahan, ini adalah awal dari ujian bertahan hidup di tengah cuaca yang membekukan tulang.

Uang sakunya dari paman di kampung sangat terbatas. Sebagai “anak kos” di negeri orang, ia harus memutar otak. Hatta menyewa kamar yang sangat sederhana.

Selain itu, ia juga menghitung setiap sen pengeluarannya dengan ketat. Ia rela berjalan kaki di tengah udara dingin serta menghindari trem dan kemewahan mahasiswa Eropa lainnya agar uang bulanannya cukup untuk bertahan.

Meski uangnya pas-pasan, ada satu “kemewahan” yang tidak bisa ia tahan, yaitu membeli buku.

Jika mahasiswa lain menghabiskan uang untuk pesta atau kafe, maka Hatta memilih menahan lapar dan berhemat habis-habisan.

Seluruh sisa uangnya ia tukarkan dengan buku-buku tebal. Baginya, buku bukan sekadar bahan bacaan, melainkan senjata untuk melawan penjajah di masa depan.

Kesederhanaannya bukan hanya untuk dirinya sendiri. Hatta menjadi motor penggerak Perhimpunan Indonesia. Organisasi mahasiswa ini sering kali kehabisan dana.

Baca Juga: Tak Sepaham dengan Presiden, Wakil Presiden Mohammad Hatta Pilih Mundur Jadi Rakyat Biasa

Dari sisa uang sakunya yang sangat tipis itulah, ia ikut membiayai penerbitan majalah Indonesia Merdeka. Dari kamar kosnya yang sempit dan remang-remang, mesin tiknya berbunyi lantang menyuarakan kebebasan.

Perjuangannya membuat pemerintah kolonial murka. Pada tahun 1927, Hatta ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Namun, sang mahasiswa kere ini tidak gentar sedikit pun.

Bahkan ia meminta dibawakan buku-bukunya ke dalam sel. Di balik jeruji besi yang dingin dan terasing, ia menyusun naskah pembelaan yang kelak mengguncang dunia, yaitu Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka).

Di ruang sidang Den Haag, Hatta berdiri tegak. Bukan sebagai pesakitan, melainkan sebagai penuduh. Pidato pembelaannya menghantam telak kesombongan Belanda.

Ia membuktikan bahwa pemikiran pemuda dari negeri jajahan jauh lebih beradab dan bermartabat daripada penjajahnya. Sang mahasiswa perantau itu sukses mempermalukan Belanda di rumah mereka sendiri.

Hatta mengajarkan kita esensi perjuangan sejati, yaitu bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak hanya direbut melalui letusan peluru dan tetesan darah di medan perang.

Kemerdekaan ini juga diperjuangkan oleh seorang pemuda sederhana dari balik kamar kos yang dingin di negeri orang, yang lebih memilih menahan lapar demi membeli buku dan merawat isi kepalanya.

Baca Juga: Janji Setia Mohammad Hatta, Menikah Setelah Indonesia Merdeka

Related Post

Tinggalkan komentar