Sekitarbandung.com – Selalu ada kisah menarik di balik nama-nama jalan di Bandung. Hal ini bukan hanya sekadar nama yang menyimpan sejuta kenangan, tetapi ada unsur sejarah dan budaya di baliknya. Lantas, jalan apa saja tersebut?
1. Ciwaruga
Nama Ciwaruga berasal dari bahasa Sunda. “Ci” berarti air, sementara “waruga” diartikan sebagai tubuh atau jasad. Konon, dulu kawasan ini disebut sebagai tempat pembuangan jasad yang tidak dikenal.
Namun, ada versi lain, yaitu “cai” (air) dan “raga” (jiwa), merujuk kepada sumber air deras yang menjadi sumber kehidupan bagi warga sekitar.
2. Ciwastra
Nama Ciwastra berasal dari dua kata, yaitu “Ci” yang berarti air (bahasa Sunda) dan “wastra” yang berarti kain (bahasa Sanskerta). Jika digabung, maka Ciwastra bermakna “air dan kain”.
Dalam konteks budaya, wastra bukan hanya sekadar kain, tetapi simbol identitas dan warisan Nusantara, seperti batik, tenun, hingga songket yang sarat nilai filosofi.
3. Kopo
Nama Jalan Kopo berasal dari sosok legendaris, Eyang Jawi atau Eyang Kuwu, yang merupakan jawara dan kepala desa pertama di wilayah tersebut sebelum tahun 1923.
Ia dikenal berjasa dalam membangun jalan yang menghubungkan beberapa wilayah dengan pengorbanan yang sangat besar.
Nama “Kopo” sendiri diambil dari kediamannya yang berada di bawah pohon jambu Kopo. Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, jalan tersebut kemudian dinamakan Jalan Kopo.
4. Taman Sari
Nama Tamansari di Bandung berawal dari kawasan yang sejak tahun 1920-an dirancang sebagai taman kota dan ruang hijau oleh pemerintah Hindia Belanda.
Terletak di lembah Sungai Cikapundung, area ini berkembang dari desa lama menjadi kawasan villa, lalu berubah menjadi pusat pendidikan dan permukiman.
Nama “Tamansari” sendiri mencerminkan bahwa fungsi awalnya sebagai taman indah (taman + sari/inti) yang menjadi bagian dari perencanaan Kota Bandung di masa kolonial.
5. Pasirkaliki
Nama Pasirkaliki berasal dari kondisi alam wilayah tersebut. “Pasir” dalam bahasa Sunda berarti bukit, sedangkan “kaliki” adalah jenis tanaman perdu berdaun lebar yang dulu banyak tumbuh di sana.
Dahulu, kawasan ini merupakan perbukitan bekas lahan ladang euma yang dipenuhi tanaman kaliki. Karena ciri khas itulah, masyarakat menyebutnya Pasirkaliki, yang kemudian menjadi nama jalan hingga sekarang.
Nama-nama jalan di Bandung tersebut bukan hanya sekadar penanda lokasi, tetapi juga menyimpan jejak sejarah, budaya, dan cerita yang diwariskan dari masa ke masa, sehingga menarik untuk terus dikenali dan juga dilestarikan.

