Sekitarbandung.com – Sulit dipercaya bahwa beberapa zat yang sekarang dikenal sebagai narkoba ternyata dulu pernah dijual secara legal sebagai obat-obatan. Lantas, narkoba apa saja tersebut?
1. Metamfetamin
Dijual sebagai obat untuk depresi, obesitas, dan kurang energi. Iklan medis pada pertengahan abad ke-20 bahkan menyebut obat ini memiliki “relatif sedikit efek samping” sebelum bahaya jangka panjangnya diketahui.
2. MDMA
Pertama kali dibuat oleh Merck pada tahun 1912. Pada tahun 1970-an, beberapa terapis menggunakannya secara eksperimen untuk membantu pasien lebih terbuka membahas trauma dan emosi sebelum akhirnya dilarang pada tahun 1985.
3. Opium
Pada tahun 1800-an, opium dijual bebas dalam bentuk sirup dan tonik pereda nyeri. Salah satu produk terkenal, “Mrs. Winslow’s Soothing Syrup,” mengandung morfin dan dikaitkan dengan banyak kematian anak setiap tahunnya.
4. Quaaludes
Sangat populer sebagai obat tidur dan penenang pada tahun 1960-1970-an. Obat ini sempat menjadi salah satu sedatif paling laris di Amerika sebelum ditarik dari peredaran pada awal tahun 1980-an akibat penyalahgunaan besar-besaran.
Baca Juga: Kerokan Jadi Obat Sakit Simpel dan Sering Jadi Obat Andalan
5. Cannabis
Pada abad ke-19, ganja dijual bebas di apotek sebagai tincture dan tonik kesehatan. Pelarangannya mulai meluas pada awal abad ke-20 di tengah kampanye politik dan sentimen anti-imigran terhadap warga Meksiko.
6. Heroin
Diperkenalkan oleh Bayer pada tahun 1898 sebagai obat batuk dan dipromosikan sebagai pengganti morfin yang “aman”. Dokter di Eropa dan Amerika bahkan menerima sampel gratis sebelum efek kecanduannya diketahui luas.
7. Kokain
Pernah digunakan dalam obat batuk, obat sakit gigi, dan formula asli Coca-Cola. Sigmund Freud juga pernah merekomendasikannya untuk mengatasi depresi dan kelelahan pada akhir tahun 1800-an.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa perkembangan ilmu medis terus mengalami perubahan seiring munculnya penelitian baru mengenai dampak jangka panjang suatu zat terhadap kesehatan manusia.
Apa yang dahulu dianggap aman dan bermanfaat ternyata bisa berubah menjadi ancaman serius ketika efek kecanduan serta risikonya mulai dipahami secara lebih mendalam oleh dunia medis dan masyarakat.

