Sekitarbandung.com – Selama ini, buku pelajaran sering menyebut Charles Darwin sebagai “Bapak Evolusi”. Namun, ternyata ada ilmuwan lain yang pernah tinggal di Indonesia dan memiliki gagasan serupa mengenai evolusi.
Namanya adalah Alfred Russel Wallace. Berbeda dengan Darwin yang berasal dari keluarga elit, Wallace merupakan ilmuwan lapangan yang harus berjuang keras untuk bertahan hidup.
Ia tinggal di Maluku tanpa dukungan lembaga riset dan membiayai penelitiannya sendiri dengan menjual koleksi serangga hasil penelitiannya.
8 Tahun 22 Ribu Km Perjalanan
Wallace menghabiskan waktu selama 8 tahun di Nusantara dan menempuh perjalanan sejauh 22 ribu km untuk melakukan penelitian.
Setiap serangga dan burung yang ia tangkap di hutan Maluku diberi label harga. Ia mengumpulkan ribuan spesimen, lalu mengirimkannya ke agen di London untuk dijual kepada para kolektor.
Pada tahun 1858, Wallace terserang malaria di Ternate. Justru di tengah kondisi itulah ia mendapatkan gagasan tentang konsep seleksi alam.
Dengan kondisi tubuh yang lemah, ia menuliskan temuannya dan mengirimkan surat kepada Charles Darwin yang dianggapnya sebagai ilmuwan senior berpengaruh.
Charles Darwin di London
Sementara itu, di London Charles Darwin sedang berada dalam tekanan besar. Ia telah melakukan penelitian selama puluhan tahun, tetapi belum menemukan penjelasan utama dari teori evolusi.
Ia memang mempunyai banyak data penelitian, tetapi belum memiliki formula yang menjelaskan bagaimana evolusi dapat bekerja. Hingga akhirnya, surat Wallace dari Ternate sampai ke tangannya.
Dalam surat tersebut, Wallace menjelaskan konsep yang kini dikenal sebagai seleksi alam. Intinya, individu yang paling mampu beradaptasi akan bertahan hidup, sedangkan yang lemah akan tersingkir.
Konsep tersebut menjadi jawaban penting yang selama ini dicari dunia sains untuk menjelaskan proses evolusi makhluk hidup.
Baca Juga: 6 Pemimpin yang Paling Mematikan dalam Sejarah Dunia
Darwin Terkena Mental
Darwin pun mulai merasa panik. Ia khawatir karena sebenarnya telah memiliki penelitian serupa, tetapi belum pernah dipublikasikan.
Ia kemudian mencurahkan kekhawatirannya kepada sahabat sekaligus mentornya, Charles Lyell, salah satu ilmuwan paling berpengaruh di Inggris saat itu.
“Semua keaslian risetku bakal hancur!” (All my originality will be smashed).
Darwin menyadari bahwa jika tidak segera bertindak, namanya bisa tenggelam dari sejarah dunia sains.
Menghalalkan Segala Cara
Lyell dan para ilmuwan elit di London kemudian mencari cara agar nama Darwin tetap aman. Tanpa persetujuan Wallace, surat dari Ternate tersebut dibacakan di forum ilmiah Linnean Society bersamaan dengan draft penelitian Darwin.
Surat dari Ternate itulah yang akhirnya mendorong Darwin menerbitkan buku The Origin of Species setahun kemudian agar namanya tetap menjadi yang paling dikenal dalam sejarah teori evolusi.
Sejarah akhirnya berjalan dengan caranya sendiri. Nama Wallace perlahan terlupakan oleh publik luas.
Padahal, tanpa dorongan dari surat yang dikirim dari Ternate tersebut, Darwin mungkin tidak akan pernah menerbitkan teorinya dan hanya menjadi ilmuwan dengan penelitian yang tersimpan selamanya.
Baca Juga: Lebih dari 90 Persen Warga Dubai adalah Warga Asing, Mengapa begitu?

