Rwanda Sempat Jadi Negara Mati, Sebuah Keajaiban Kepemimpinan Paul Kagame

Sekitarbandung.com – Pada 6 April 1994, pesawat yang membawa Presiden Rwanda saat itu, Juvénal Habyarimana (seorang Hutu), ditembak hingga jatuh di Kigali. Meskipun hingga kini

Dicky Wicaksono

Rwanda Sempat Jadi Negara Mati, Sebuah Keajaiban Kepemimpinan Paul Kagame
Rwanda Sempat Jadi Negara Mati, Sebuah Keajaiban Kepemimpinan Paul Kagame

Sekitarbandung.com – Pada 6 April 1994, pesawat yang membawa Presiden Rwanda saat itu, Juvénal Habyarimana (seorang Hutu), ditembak hingga jatuh di Kigali.

Meskipun hingga kini belum jelas siapa pelakunya, ekstremis Hutu langsung menyalahkan pemberontak Tutsi (RPF). Lalu, genosida pun akhirnya terjadi.

Hanya dalam kurun waktu sekitar 100 hari, hampir 1 juta nyawa melayang karena kedua suku saling bunuh-bunuhan.

Alhasil, ekonomi hancur, infrastruktur rata, dan Rwanda bukan lagi sebuah negara, melainkan kuburan massal raksasa.

Para pengamat internasional pun memberikan label kepada mereka sebagai “negara gagal”.

Di atas kertas, tanpa minyak atau emas, masa depan Rwanda hanyalah kemiskinan dan ketergantungan pada bantuan asing.

Paul Kagame

Sosok yang menghentikan genosida tersebut adalah Paul Kagame, seorang mantan komandan gerilya yang kemudian memimpin pemulihan Rwanda. Ia menolak Rwanda menjadi bangsa yang terus mengiba.

Kagame memaksakan sebuah visi besar, yaitu mengubah negaranya yang miskin akan sumber daya alam ini menjadi pusat inovasi selayaknya Singapura.

Strategi Pertama

Strategi pertama yang dilakukan oleh Kagame yaitu perang total melawan korupsi. Di bawah kepemimpinannya, korupsi dianggap sebagai pengkhianatan negara.

Hukumannya yaitu penjara seumur hidup dan seluruh hartanya disita oleh negara hingga miskin. Tidak ada kata kompromi, bahkan untuk lingkaran terdekat presiden sekalipun.

Hasil strategi yang dilakukannya yaitu Rwanda mencatatkan skor CPI 57 (Transparency International 2024).

Dengan skor 57 tersebut, Rwanda bukan hanya sekadar “lulus”, tetapi juga melampaui rata-rata dunia. Di wilayah yang rata-rata skornya hanya 33, capaian Rwanda ini sangat gacor.

Baca Juga: Sir David Attenborough, Suara Ikonik Paling Tenang Sejagat Meski Sempat Dilarang Muncul di TV

Tradisi Umuganda

Kigali, ibu kota Rwanda, juga kecipratan dampak dari gaya kepemimpinan Kagame. Kota ini dinobatkan menjadi kota terbersih di Afrika berkat tradisi Umuganda.

Setiap Sabtu terakhir di setiap bulan, seluruh warga termasuk Kagame sendiri wajib turun ke jalan untuk melakukan kerja bakti. Tidak peduli menteri atau petani, semua memegang alat untuk bersih-bersih.

Investasi Besar-besaran

Menyadari bahwa negaranya tidak mempunyai emas atau minyak, Kagame melakukan investasi secara besar-besaran di teknologi dan infrastruktur.

Di saat negara tetangga anak-anaknya masih bergelut dengan urusan perut, di Rwanda anak-anak SD sudah mendapatkan laptop dari negara.

Birokrasi yang serba lelet pun dibuat lebih ringkas dengan memotong rantai administrasi, sehingga masyarakat yang ingin mengurus berbagai hal tidak lagi rumit.

Hasil yang Didapatkan

Hasilnya bukan hanya terlihat dari angka, tetapi juga pertumbuhan ekonomi Rwanda yang melonjak stabil di kisaran 7-8 persen setiap tahun, kecepatan yang membuat negara-negara tetangganya terlihat jalan di tempat.

Masyarakatnya tidak lagi ditanya “kamu Hutu atau Tutsi?”, karena menyebut identitas suku di depan publik sekarang dianggap tabu. Mereka hanya mempunyai satu identitas, yaitu Satu Rwanda.

Baca Juga: Bendera Terbalik, Warisan Perjuangan Kemerdekaan Filipina yang Kini Jadi Aturan Unik

Related Post

Tinggalkan komentar