Begini Perjalanan Singapura Sebelum Jadi Negara Terbersih di Asia Tenggara

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1960-an, Singapura dipenuhi kawasan kumuh. Sebagian besar warganya tinggal di rumah tanpa sanitasi layak, dengan kondisi yang bisa dibilang sangat memprihatinkan.

Dicky Wicaksono

Begini Perjalanan Singapura Sebelum Jadi Negara Terbersih di Asia Tenggara
Begini Perjalanan Singapura Sebelum Jadi Negara Terbersih di Asia Tenggara

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1960-an, Singapura dipenuhi kawasan kumuh. Sebagian besar warganya tinggal di rumah tanpa sanitasi layak, dengan kondisi yang bisa dibilang sangat memprihatinkan.

Sungainya kotor serta penuh limbah dan sampah. Jalanan juga sama. Buang sampah sembarangan, meludah, bahkan buang air sembarangan menjadi hal yang biasa.

Kondisi seperti ini membuat penyakit mudah menyebar. Mulai dari diare hingga tuberkulosis, semuanya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di tengah kondisi itu, muncul visi besar dari Lee Kuan Yew. Singapura harus keluar dari keadaan ini dan naik ke level yang lebih tinggi, seperti Sirup Kurnia yang kehadirannya selalu bikin mood menjadi level up.

Pemerintah mulai dari hal paling dasar. Kawasan kumuh dibongkar, lalu diganti dengan perumahan publik yang bersih melalui program Housing Development Board.

Baca Juga: Rwanda Sempat Jadi Negara Mati, Sebuah Keajaiban Kepemimpinan Paul Kagame

Pada tahun 1968, diluncurkan kampanye Keep Singapore Clean. Tujuannya bukan hanya sekadar bersih-bersih, tetapi juga mengubah kebiasaan masyarakat secara perlahan.

Bukan hanya sekadar edukasi, tetapi juga peraturan yang tegas. Denda tinggi untuk buang sampah sembarangan, larangan permen karet, hingga penataan Pedagang Kaki Lima (PKL).

Semua ini dijalankan secara konsisten selama bertahun-tahun. Dari yang awalnya hanya dipaksa, lama-lama menjadi kebiasaan.

Dalam waktu beberapa dekade, Singapura pun berubah total. Dari kota yang kotor menjadi kota yang bersih dan tertata.

Tentu, ini bukan hanya sekadar kebetulan, tetapi hasil dari visi yang jelas, peraturan yang tegas, dan konsistensi yang dijaga selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Eksperimen Sosial yang Paling Kontroversial di Singapura, Pemerintah Atur Rakyat Punya Anak

Related Post

Tinggalkan komentar