Sekitarbandung.com – Banyak masyarakat yang mengaku kagum terhadap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat menunggangi kuda putih dalam kirab budaya Milangkala Tatar Sunda 2026.
Namun, tahukah kamu bahwa di balik sosok kuda putih yang gagah tersebut tersimpan makna mendalam mengenai filosofi kepemimpinan Sunda? Lantas, apa saja filosofinya?
1. Keteguhan
Dalam tradisi Tatar Sunda, kuda putih melambangkan “keteguhan.”
Seorang pemimpin Sunda harus memiliki pendirian yang kuat dan tidak mudah goyah oleh tekanan.
Selain itu, pemimpin juga harus berani mengambil keputusan demi kepentingan rakyat banyak serta tetap tenang ketika menghadapi berbagai persoalan.
2. Kebijaksanaan
Selain itu, kuda putih juga melambangkan “kebijaksanaan.”
Pemimpin Sunda harus cerdas dan bijaksana agar mampu memahami penderitaan rakyatnya.
Hal tersebut diwujudkan dengan mengutamakan musyawarah, mendengarkan aspirasi masyarakat, bersikap adil dalam bertindak, serta tidak menggunakan kekuasaan dengan kesombongan.
Baca Juga: Pemprov Jawa Barat sedang Kaji Penghapusan Pajak Kendaraan Listrik
3. Kesucian Hati
Tak hanya itu, kuda putih juga melambangkan “kesucian hati.”
Pemimpin Sunda harus memiliki niat yang bersih, tidak haus pujian, dan tidak mendahulukan kepentingan pribadi.
Oleh karena itu, sosok yang menunggangi kuda putih dimaknai sebagai pemimpin yang hadir untuk mengayomi dan melayani rakyat, menjaga amanah, serta menjunjung tinggi kehormatan budaya.
Di berbagai tradisi Nusantara, kuda putih bahkan juga dianggap sebagai simbol pembawa kebaikan dan kemuliaan.
Filosofi kuda putih tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kepemimpinan dalam budaya Sunda bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang ketulusan, kebijaksanaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

