Sekitarbandung.com – Pada Mei 1998, B. J. Habibie naik takhta saat Indonesia sedang berada di titik nadir. Ia mewarisi sebuah rumah yang sedang terbakar hebat.
Kas negara kosong, inflasi meroket hingga 77 persen, dan nilai tukar rupiah hancur lebur menembus angka Rp16 ribu per dolar AS. Banyak pengamat memprediksi Indonesia akan segera bangkrut.
Otak Insinyur Habibie
Berbeda dengan politisi pada umumnya, Habibie menyelesaikan masalah ekonomi dengan otak seorang insinyur, yaitu struktural dan terukur.
Langkah pertamanya sangat berani. Ia memberikan independensi penuh kepada Bank Indonesia (BI) agar terbebas dari campur tangan pemerintah, serta membongkar berbagai praktik monopoli warisan Orde Baru.
Keajaiban Ekonomi
Dunia internasional merespons positif. Kepercayaan pasar perlahan kembali. Hanya dalam waktu 13 bulan menjabat pada Juni 1999, Habibie menciptakan keajaiban ekonomi yang belum pernah diulangi presiden mana pun.
Habibie berhasil menjinakkan dolar AS hingga rupiah menguat tajam ke level Rp6.550 per dolar. Sebuah prestasi pemulihan ekonomi tercepat dalam sejarah Asia.
Baca Juga: Sehari Pasca Soeharto Mundur, Presiden Habibie Perintahkan Copot Prabowo dari Jabatannya
Timor Timur Lepas
Namun, di Jakarta, prestasi ekonomi tidak menjamin umur kekuasaan. Sementara ekonomi membaik, suhu politik justru mendidih. Keputusan berani Habibie memberikan opsi referendum bagi Timor Timur.
Keputusan tersebut berujung pada lepasnya wilayah itu dan dijadikan senjata utama oleh para lawan politiknya. Ditambah lagi dengan munculnya pusaran Skandal Bank Bali yang menyeret lingkar dalam kekuasaan.
Ditolak Parlemen
Puncak dari drama ini terjadi pada Oktober 1999 dalam Sidang Umum MPR. Pidato pertanggungjawaban Presiden Habibie ditolak oleh parlemen. Ia kalah bukan karena gagal menyelamatkan rakyat dari krisis kelaparan.
Namun, ia kalah karena tidak memiliki dukungan faksi politik yang kuat di Senayan. Sang teknokrat jenius itu akhirnya dijegal oleh sistem politiknya sendiri.
Mundur dengan Damai
Mengetahui pidatonya ditolak, Habibie sebenarnya masih memiliki hak untuk kembali mencalonkan diri. Namun, kebesaran hatinya berbicara.
Alih-alih mengerahkan massa atau militer untuk mempertahankan kekuasaan, ia memilih mundur dengan damai demi menghindari perpecahan bangsa.
Habibie meletakkan jabatannya dengan senyum dan mewariskan fondasi demokrasi yang dinikmati Indonesia hingga hari ini.
Baca Juga: Dihafal Jutaan Siswa Sekolah, namun Banyak Sejarah Bangsa yang Dibelokkan

