sekitarBANDUNGcom – Tahukah Anda bahwa pasokan air bersih di sebagian wilayah Bandung kini menyusut drastis hingga hanya tersisa 30% dari kapasitas normal? Fenomena ini bukan sekadar gangguan sementara, melainkan gejala serius yang dipicu oleh dampak perubahan iklim, kemarau panjang, dan penurunan debit air di sumber utama. Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirtawening pun angkat bicara dan mengimbau wargi Bandung, khususnya di wilayah Bandung Timur dan Bandung Selatan, untuk mulai menghemat air demi menjaga ketersediaan pasokan yang semakin terbatas.
Dampak Perubahan Iklim dan Kemarau Panjang
Direktur Utama PDAM Tirtawening, Sonny Salimi, mengungkapkan bahwa pihaknya kini hanya menerima pasokan sekitar 500 liter per detik, jauh menurun dari sebelumnya yang mencapai 1.500 liter per detik. Penurunan drastis ini disebabkan oleh surutnya air baku dari Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca yang terletak di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
“Berkurangnya pasokan air dari dua situ di Pangalengan sudah pasti mengganggu aliran air ke 171 ribu pelanggan. Terutama warga di bagian timur dan selatan sangat merasakan dampaknya,” ujar Sonny Salimi dalam tinjauannya ke Situ Cipanunjang, Jumat (25/8/2023).
Fenomena El Niño dan masuknya musim kemarau menjadi pemicu utama merosotnya ketersediaan air baku. Tidak hanya Bandung, berbagai daerah di Indonesia mulai mengalami krisis air serupa akibat dampak perubahan iklim global yang semakin nyata.
Bandung Timur dan Selatan Jadi Wilayah Paling Terdampak
Menurut data internal PDAM Tirtawening, saat ini layanan air bersih hanya berjalan sekitar 30 persen dari kapasitas normal. Warga di wilayah Bandung Timur dan Selatan menjadi kelompok paling terdampak karena jalur distribusi mereka berada di bagian ujung sistem, sehingga pasokan air sering kali tidak mencukupi.
“Kami berusaha untuk menambah produksi air dari Sungai Cikapundung, tapi sumber tersebut juga sangat terbatas akibat kemarau yang panjang,” tambah Sonny.
Hal ini tentu berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Aktivitas seperti mencuci, memasak, hingga mandi pun menjadi lebih sulit dilakukan tanpa pasokan air yang lancar.
Upaya Penanganan dari PDAM Tirtawening
Menyadari urgensi situasi, Perumda Tirtawening mengambil langkah cepat dengan menyiapkan 24 unit mobil tangki air untuk melayani pelanggan yang mengalami gangguan pasokan. Namun, distribusi ini akan diutamakan untuk pelanggan yang mengajukan permintaan secara berkelompok, minimal 10 sampai 20 orang.
“Kami tetap berkomitmen melayani masyarakat. Pelanggan bisa mengajukan permintaan air tangki melalui RT/RW secara kolektif,” ujar Sonny.
Langkah ini menjadi solusi sementara untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap air bersih, meskipun tidak seideal distribusi langsung melalui jaringan pipa.
Imbauan untuk Menghemat dan Bijak Menggunakan Air
Dalam kondisi seperti ini, penghematan air menjadi tanggung jawab bersama. Sonny Salimi mengimbau wargi Bandung untuk lebih bijak dan efisien dalam penggunaan air, seperti:
-
Mengurangi penggunaan air untuk kegiatan tidak penting.
-
Menggunakan air bekas cucian untuk menyiram tanaman.
-
Menampung air saat pasokan tersedia.
-
Memperbaiki kebocoran kran atau pipa rumah tangga.
Pengelolaan air yang baik di tingkat rumah tangga dapat membantu menekan laju permintaan yang berlebih, sekaligus menjadi bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam menghadapi krisis ini.
Krisis Air Bukan Masalah Musiman
Para pakar menyebutkan bahwa krisis air yang saat ini melanda Bandung dan banyak daerah lain di Indonesia bukan sekadar fenomena musiman, melainkan pertanda dari krisis iklim yang kian mengkhawatirkan. Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), wilayah Jawa Barat termasuk salah satu provinsi yang paling rentan terhadap perubahan pola curah hujan dan kekeringan ekstrem.
Krisis air seperti ini berpotensi terjadi lebih sering di masa depan jika tidak ada langkah sistematis dalam menjaga ekosistem air dan memperbaiki tata kelola sumber daya alam.
Saatnya Bertindak Bijak Demi Masa Depan Air Bersih
Krisis air yang tengah dihadapi Bandung Timur dan Selatan adalah peringatan nyata bahwa kita semua harus lebih peduli terhadap kelestarian sumber daya air. Pemerintah, perusahaan daerah, dan masyarakat harus saling bersinergi dalam mengelola air secara berkelanjutan.
Mari jadikan momentum ini sebagai ajakan untuk berhemat air, mulai dari hal kecil di rumah hingga ikut serta dalam kebijakan lingkungan di sekitar kita. Air adalah sumber kehidupan. Jika tidak dijaga hari ini, masa depan kita bisa menjadi sangat kering—secara harfiah maupun sosial.
Baca Juga : Miris! Baru 21% Warga Bandung Nikmati Sanitasi Aman, Target 2030 Masih Jauh!

