Analisis Naratif Perjuangan Ibu Tunggal dalam Film Pangku (2025)

Sekitarbandung.com – Salah satu film yang menjadi tren pada akhir tahun 2025 hingga pertengahan tahun 2026 adalah film “Pangku” yang disutradarai oleh Reza Rahardian dan

Dicky Wicaksono

Analisis Naratif Perjuangan Ibu Tunggal dalam Film Pangku (2025)
Analisis Naratif Perjuangan Ibu Tunggal dalam Film Pangku (2025)

Sekitarbandung.com – Salah satu film yang menjadi tren pada akhir tahun 2025 hingga pertengahan tahun 2026 adalah film “Pangku” yang disutradarai oleh Reza Rahardian dan ditulis bersama Felix K. Nesi.

Film ini dirilis di bioskop pada 6 November 2025 dan dirilis di Netflix pada 23 April 2026. Inti cerita dari film “Pangku” adalah ibu muda hamil bernama Sartika (Claresta Taufan) yang berjuang bertahan hidup di pesisir Pantura.

Ia terjebak dalam kerasnya kehidupan dan bekerja di “kedai kopi pangku” milik Maya (Christine Hakim) untuk menghidupi anaknya.

Film “Pangku” berlatar di pinggiran kota jalur Pantai utara (Pantura) Pulau Jawa, khususnya di Kawasan Indramayu.

Film yang memiliki alur maju dengan latar tempat berbeda ini menggambarkan kehidupan di warung-warung kopi pangku dan pesisir Pantai pada sekitar tahun 1997-1998.

Dalam film ini banyak terdapat adegan yang merepresentasikan perjuangan seorang ibu tunggal dalam realitas sosial dan ekonomi yang keras. 

“Sartika” merupakan nama tokoh utama perempuan yang memerankan tokoh ibu tunggal dengan karakter perempuan yang digambarkan lemah tetapi tidak pantang menyerah untuk mennghidupi anak laki-lakinya dan juga dirinya.

Hal ini secara tidak langsung merepresentasikan bahwa Sartika memiliki sisi keibuan yang melekat pada setiap perempuan.

Pemilihan Adegan 

Film ini dibagi menjadi beberapa potongan cerita yang mewakili alur narasi. Penjelasan pada beberapa alur didukung oleh data sekunder.

Keseluruhan film dengan total durasi 1 jam 43 menit. Pembahasan dalam artikel ilmiah ini merupakan jalan cerita dari awal hingga akhir cerita.

Bagian Awal 

1. Tahap Keseimbangan (Equilibrium). 

Narasi bagian awal dimulai pada detik 00:30, yang di mana salah satu tokoh dalam kondisi hamil sedang duduk di samping supir, tetapi dianggap sebagai pembawa sial.

Tokoh tersebut bernama Sartika yang menumpang ke supir truk dari kilometer 26 dengan tujuan untuk mencari kerja. Adegan dilanjutkan dengan suasana lingkungan yang penuh akan suara musik dangdut dan lampu kelap-kelip.

Cerita dan adegan yang ditampilkan tersebut menunjukkan stigma bahwa kemiskinan dan ketidakberuntungan disebabkan oleh individu yang rentan seperti wanita tanpa dukungan, sehingga dapat dikategorikan sebagai gambaran tahap keseimbangan (equilibrium). 

Bagian Tengah

2. Tahap Keseimbangan (Disruption)

Gangguan terhadap keseimbangan (disruption) muncul pada menit 17:58. Narasi yang disampaikan yaitu saat sang anak yang bernama Bayu Kesuma telah lahir, ia bingung bisa mendapatkan uang dari mana.

Alhasil ia memutuskan untuk ngarit di sawah, tetapi ternyata uang yang didapatkan cukup minim. Konflik digambarkan semakin intens pada menit 20:54.

Saat itu, ia melihat beras di dapur tinggal sedikit. Dengan wajah kebingungan, akhirnya ia memutuskan untuk menjadi Wanita Pangku.

Baca Juga: 6 Film Sci-Fi yang Lebih Keren dari Versi Novelnya, Apakah Sudah Nonton?

3. Tahap Pengakuan (Recognition)

Narasi dilanjutkan dengan tulisan “PANGKU” yang mulai muncul pada menit 24:04. Setelah itu, Sartika mulai melayani pelanggan yang membeli kopi di warungnya dengan cara sambil dipangku.

Tahap recognition muncul saat tanpa Sartika sadari, ternyata Bayu mengetahui bahwa pekerjaan ibunya yaitu dipangku-pangku saat malam hari pada menit 39:21.

Ibunya pun menjawab bahwa jika ibunya tidak bekerja seperti itu, maka Bayu tidak akan bisa bersekolah, mambeli jajan, maupun membeli layangan.

Dengan mata tertutup, Bayu mengatakan kepada ibunya bahwa tidak suka melihat ibunya dipangku-pangku.

4. Tahap Perbaikan (Repair)

Narasi dilanjutkan dengan pertemuan seorang laki-laki yang bekerja sebagai pengantar ikan bernama Hadi dengan Sartika.

Tahap repair yaitu saat Hadi jatuh cinta ke Sartika, sehingga ia memberikan ikan kepadanya kedua kalinya sebagai bentuk simbol pada menit 46:19, menawarkan pernikahan, dan membuat dokumen resmi seperti Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga (KK).

Setelah itu, mereka menikah dan menginap di sebuah rumah.

5. Tahap Pengenalan Gangguan (Recognition of Disruption)

Narasi dilanjutkan dengan kecurigaan Sartika terhadap Hadi yang sikapnya mulai berubah dan mencurigakan.

Adegan yang ditampilkan menunjukkan tahap recognition of disruption, yang di mana Sartika yang menghampiri bosnya Hadi di perusahaan ia tempat bekerja dan menanyakan tentang Hadi.

Sayangnya, Sartika harus menelan kenyataan pahit bahwa ternyata Hadi telah memiliki istri yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi pada menit 1:25:10.

Tahap recognition of disruption kembali muncul pada menit 1:27:29, yang di mana istri sah Hadi yang bernama Annisa mendatangi rumah yang ditinggali oleh mereka.

Satu hal yang membuat semakin menyakitkan yaitu Hadi tidak membela, dan Sartika justru diperlakukan seperti babu dalam kehidupan yang ia jalani.

Dengan kata lain, Hadi melakukan poligami dan melakukan eksploitasi dengan menggunakan uang dari Annisa yang bekerja di luar negeri. 

Pada akhirnya, Sartika kembali warkop dan menjadi wanita pangku dalam kondisi hamil adiknya Bayu di menit 1:32:40.

Dengan kata lain, ia memutuskan untuk mengandalkan modal yang pasti, yaitu keahlian di warkop, daripada harapan yang palsu dari Hadi. Hal ini menjadi penanda bahwa keputusan yang didorong oleh kebutuhan survival. 

Bagian Akhir

6. Tahap Keseimbangan Baru (New Equilibrium)

Narasi dilanjutkan dengan New Equilibrium pada menit 1:34:36, yang di mana Tika melihat gerobak mie ayam yang sudah diperbaiki oleh suami Maya.

Sebelumnya, gerobak ini merupakan pemberian dari Hadi agar Sartika bisa berjualan Mie Ayam, salah satu keahlian yang ia miliki. Dalam hal ini, ia transisi dari pekerjaan yang menjual tubuh menjadi menjual makanan. 

Cerita diakhiri dengan Sartika yang menyadari Bayu meninggalkan surat di meja sebelum berangkat berjualan mie ayam di menit 1:36:52.

Kurang lebih, isi dalam surat tersebut yaitu Bayu dan adiknya bangga sekaligus mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya terhadap Sartika karena sudah membesarkannya.

Usut punya usut, ternyata surat tersebut merupakan ucapan selamat ulang tahun kepada Sartika.

Baca Juga: Film “Harusnya Horror” Karya Reza Arap Oktovian Akan Rilis Resmi pada 20 Agustus 2026

Related Post

Tinggalkan komentar