sekitarBANDUNGcom – Pernahkah Anda membayangkan kota sebesar Bandung—yang dikenal sebagai kota kreatif dan tujuan wisata utama—tengah menghadapi krisis sampah serius? Fakta mengejutkan datang dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung: 95 persen Tempat Penampungan Sementara (TPS) kini mengalami overload akibat penutupan TPA Sarimukti. Kondisi ini bukan hanya memprihatinkan dari sisi kebersihan, tapi juga mengancam kesehatan dan kualitas lingkungan masyarakat Kota Kembang.
Lonjakan Sampah Akibat Penutupan TPA Sarimukti
Menurut Kepala DLH Kota Bandung, Dudy Prayudi, kondisi darurat ini terjadi sejak TPA Sarimukti ditutup pada Selasa, 22 Agustus 2023 lalu. Akibatnya, seluruh TPS di Bandung kini hampir tak mampu menampung volume sampah harian warga.
“TPA Sarimukti itu ditutup Selasa lalu yang mengakibatkan TPS di Kota Bandung sudah overload semua. Kemarin sudah 95 persen TPS overload, ditambah weekend ini,” jelas Dudy saat meninjau TPS Babakan Siliwangi, Kecamatan Coblong, pada Minggu (27/8/2023), seperti dikutip dari Tribun Jabar.
Penutupan TPA Sarimukti menandai titik kritis dalam pengelolaan sampah di Bandung. Biasanya, sebanyak 241 rit (truk pengangkut) sampah per hari diangkut ke TPA tersebut. Kini, tidak hanya TPS yang penuh, tetapi juga banyak sampah yang terpaksa menumpuk di jalanan atau area publik.
Solusi Sementara: TPA Darurat dari Pemprov Jabar
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang menyiapkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sementara di lokasi darurat. Menurut rencana, TPA darurat ini akan mulai beroperasi pada Senin (28/8/2023), dengan kapasitas awal pengangkutan hanya 98 rit sampah per hari.
Namun, Dudy menyebut bahwa pembuangan sampah belum bisa kembali normal dalam waktu dekat.
“Kami biasanya setiap hari ada 241 rit. Tapi, sekarang, jika Senin bisa mulai pembuangan di tempat darurat itu, ya, hanya bisa 98 rit,” tambahnya.
Artinya, ada selisih sekitar 143 rit per hari yang belum memiliki jalur pembuangan pasti—menandakan bahwa penumpukan akan terus terjadi jika solusi jangka panjang tidak segera ditempuh.
Baca Juga : Krisis Sampah di TPS Gunung Batu Bandung Kian Parah
Dampak Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat
Kondisi TPS overload bukan hanya menimbulkan ketidaknyamanan visual dan bau tak sedap, tetapi juga dapat menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Penumpukan sampah bisa menjadi sumber penyakit, berkembang biaknya lalat, nyamuk, hingga tikus yang membawa virus dan bakteri berbahaya. Selain itu, limbah organik yang membusuk juga berpotensi mencemari air tanah.
Menurut laporan World Health Organization (WHO), paparan jangka panjang terhadap lingkungan yang tercemar sampah dapat meningkatkan risiko penyakit kulit, pernapasan, hingga gangguan pencernaan. Di sisi lain, masyarakat sekitar TPS juga akan terdampak secara psikologis akibat stres dari lingkungan yang tidak sehat.
Evaluasi Sistem Pengelolaan Sampah Bandung
Krisis ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi sistem pengelolaan sampah yang ada. Selama ini, Kota Bandung masih sangat bergantung pada sistem collect and dump—mengumpulkan dan membuang tanpa strategi daur ulang atau pengurangan dari sumber.
Beberapa solusi yang dapat diterapkan antara lain:
-
Peningkatan fasilitas daur ulang lokal di tiap kecamatan.
-
Program edukasi masyarakat tentang pengurangan dan pemilahan sampah dari rumah tangga.
-
Inovasi teknologi pengolahan sampah, seperti waste-to-energy (WTE).
-
Kerjasama dengan swasta untuk mengelola limbah secara berkelanjutan.
Contoh kota-kota besar dunia seperti Tokyo dan Seoul menunjukkan bahwa krisis sampah bisa diatasi dengan sistem pengelolaan berbasis teknologi dan partisipasi publik.
Jangan Menunggu Pemerintah Saja
Di tengah situasi ini, masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Masyarakat perlu ikut aktif dalam mengelola sampah, terutama dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Mengurangi konsumsi barang sekali pakai, memisahkan sampah organik dan anorganik, serta mendukung bank sampah lokal bisa menjadi langkah awal sederhana yang berdampak besar.
Momentum Perubahan atau Ancaman Berulang?
Krisis sampah di Kota Bandung saat ini adalah cermin nyata betapa rentannya sistem pengelolaan lingkungan jika tidak ditangani secara berkelanjutan. Dengan 95 persen TPS overload dan solusi sementara yang belum mampu menampung volume normal, saatnya Bandung berbenah.
Apakah kita akan terus menghadapi siklus krisis yang sama setiap kali TPA tutup? Atau, akankah momen ini menjadi titik balik menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan?
Baca Juga : Darurat Sampah Bandung: Solusi TPS Sementara Gedebage di Tengah Keterbatasan TPA Sarimukti

