Sekitarbandung.com – Pola-pola revolusi hampir selalu terlihat mirip, yaitu krisis ekonomi, korupsi, elite yang hidup jauh dari rakyat, hingga pemerintah yang dianggap tidak lagi mendengar suara masyarakat.
Ketika Rakyat Lapar, Istana Tetap Berpesta
Sebelum Revolusi Prancis pecah, Prancis mengalami krisis ekonomi besar-besaran dan harga pangan melonjak secara tajam.
Rakyat hidup dalam kemiskinan dan dibebani pajak tinggi, sementara kerajaan dan bangsawan tetap menikmati kemewahan.
Ketimpangan tersebut pada akhirnya berubah menjadi kemarahan besar yang menggulingkan monarki Prancis.
Ketika Rakyat Indonesia Turun ke Jalan
Pada tahun 1998, Indonesia mengalami krisis ekonomi hebat, yaitu rupiah jatuh, harga kebutuhan melonjak, pengangguran meningkat, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah runtuh.
Demonstrasi mahasiswa terjadi di berbagai kota hingga akhirnya Suharto lengser setelah 32 tahun berkuasa.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi titik lahirnya era Reformasi Indonesia.
Baca Juga: Ilmuwan Jepang Kembangkan Darah Artifisial, Bisa Didonorkan untuk Semua Golongan
Ketika Rakyat Mulai Kehilangan Kepercayaan pada Negara
Pada tahun 2025, Nepal mengalami gelombang protes besar yang diakibatkan oleh krisis politik, ketidakstabilan ekonomi, korupsi, dan ketidakpuasan publik terhadap pemerintah.
Banyak masyarakat merasa negara tidak lagi bekerja untuk rakyat biasa dan seperti banyak peristiwa dalam sejarah, kemarahan publik perlahan berubah menjadi gerakan massa.
Sejarah Selalu Berikan Peringatan yang Sama
Banyak revolusi dalam sejarah sebenarnya lahir dari akar yang serupa, yaitu rakyat yang lelah, ekonomi yang memburuk, hukum yang terasa tidak adil, dan penguasa yang perlahan kehilangan kepercayaan publik.
“Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalu, terkutuk untuk mengulanginya.” George Santayana.
Dan seperti ungkapan yang sering lahir dari semangat revolusi Vox Populi, Vox Dei,
“Suara rakyat adalah suara Tuhan.”
Baca Juga: Lukisan Cadas Indonesia yang Masuk Guinness sebagai Storytelling Tertua di Dunia

