Sekitarbandung.com – Pada Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II dengan membombardir dan merebut ibu kota Yogyakarta. Para pemimpin negara, termasuk Soekarno-Hatta, kemudian ditawan.
Melalui siaran radio ke seluruh penjuru dunia, Belanda dengan sombong mempropagandakan:
“Republik Indonesia sudah tamat, dan militernya telah hancur lebur!”
Butuh Keajaiban Mematikan
Republik membutuhkan sebuah keajaiban besar untuk membuktikan kepada dunia, terutama PBB, bahwa TNI masih tegak berdiri.
Atas inisiatif strategis Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang disetujui oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman, dirancanglah sebuah serangan balasan yang sangat nekat.
Targetnya tidak main-main, yaitu merebut kembali jantung Kota Yogyakarta pada siang hari.
Misi Bunuh Diri
Inilah mengapa untuk mengeksekusi misi yang dianggap sebagai “bunuh diri” ini, ditunjuklah Komandan Brigade X/Wehrkreis III, seorang perwira muda yang terkenal tangguh, dingin, dan sangat kalkulatif, yaitu Letnan Kolonel Soeharto.
Tugasnya adalah memimpin secara langsung serangan darat dari sektor barat untuk menusuk tepat ke urat nadi pertahanan Belanda di pusat kota.
TNI Serangan Kilat
Tepat pada 1 Maret 1949 pukul 06.00 pagi, berbarengan dengan melengkingnya sirene tanda jam malam berakhir, TNI melancarkan serangan kilat dari berbagai penjuru.
Pasukan Belanda yang sedang lengah dibuat kocar-kacir. Di bawah komando taktis Letkol Soeharto, pasukan Indonesia secara heroik berhasil menduduki jantung Kota Yogyakarta.
TNI memang hanya menduduki Yogyakarta selama 6 jam sebelum pasukan bantuan Belanda tiba dengan persenjataan berat. Pasukan Letkol Soeharto pun kembali mundur ke hutan.
Namun, 6 jam tersebut menjadi pukulan telak. Berita jatuhnya Yogyakarta segera disiarkan melalui radio rahasia dari Gunungkidul, menembus Sumatera, hingga memecah keheningan sidang PBB di luar negeri.
Baca Juga: Sehari Pasca Soeharto Mundur, Presiden Habibie Perintahkan Copot Prabowo dari Jabatannya
Propaganda Belanda Hancur Berantakan
Propaganda Belanda hancur berantakan. Dunia internasional terbelalak menyadari bahwa Indonesia masih hidup dan siap untuk melawan.
Serangan 6 jam ini sukses memperkuat posisi tawar diplomatik Indonesia yang akhirnya berujung pada penyerahan kedaulatan secara utuh.
Bagi Letkol Soeharto, momen ini menjadi panggung sejarah terbesar yang mengukir reputasi militer legendarisnya.
Puncak Kepemimpinan Militer dan Negara
Peristiwa 1 Maret 1949 ini menjadi fondasi kuat yang kelak membawanya ke puncak kepemimpinan militer dan negara.
Setelah puluhan tahun menjadi perdebatan sengit, sejarah akhirnya menuliskan babak akhirnya.
Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Jenderal Besar Soeharto (Keppres No. 116/TK/2025).
Baca Juga: Kisah Tragis Agustinus Adisutjipto yang Namanya Diabadikan Sebagai Nama Bandara di Yogyakarta

