Sekitarbandung.com – Starbucks di Korea Selatan menjadi sasaran kritik dari warga, dihujat secara online, hingga didemo besar-besaran akibat sebuah campaign yang mereka jalankan.
Campaign bernama Starbucks Tank Day yang digelar pada 18 Mei 2026 bertepatan dengan peringatan Tragedi Gwangju (Gwangju Uprising) yang terjadi di Korea Selatan pada tahun 1980.
Dianggap Nirempati
Campaign tersebut dinilai tidak memiliki empati terhadap nilai kemanusiaan dan perjuangan demokrasi. Presiden Korea, Lee Jae Myung, bahkan menyebut campaign itu tidak manusiawi dan sangat memalukan.
Campaign tersebut langsung dibatalkan pada hari peluncurannya. CEO Starbucks Korea, Son Jeong-hyun, juga langsung dipecat pada hari yang sama.
Namun, semuanya sudah terlambat. Pasalnya, sejumlah gerai Starbucks telah menjadi sasaran demonstrasi massa dalam skala besar.
Pihak Starbucks Meminta Maaf
Shinsegae Group, konglomerasi yang menaungi Starbucks Korea Selatan, menyampaikan permintaan maaf. Bahkan pemimpinnya, Chung Yong-jin, membungkuk sebanyak tiga kali di hadapan publik.
Baca Juga: 5 Drama Korea dengan Rating Tertinggi pada Minggu Kedua Juni 2026
Selain itu, mereka juga memutuskan bahwa pada 22 Juni 2026 mendatang seluruh Starbucks di Korea yang berjumlah sekitar 2.000 gerai akan tutup lebih awal hingga pukul 15.00 waktu setempat.
Setelah itu, seluruh karyawan akan mendapatkan pelatihan mengenai kepekaan sosial dan sejarah Korea. Chung Yong-jin serta jajaran eksekutif Shinsegae Group juga akan mengikuti pelatihan yang sama pada 24 Juni 2026 mendatang.
Kehilangan Potensi Pendapatan
Starbucks Korea diprediksi kehilangan potensi pendapatan hingga 2,1 miliar won atau sekitar Rp25 miliar akibat kebijakan penutupan gerai lebih awal tersebut.
Pasalnya, pada minggu pertama campaign berlangsung, penjualan Starbucks dilaporkan langsung turun sebesar 26 persen.
Gwangju Uprising
Sebagai informasi tambahan, pada 17 Mei 1980 negara mengumumkan kondisi darurat militer setelah demonstrasi besar gerakan pro-demokrasi terjadi.
Jam malam diberlakukan, komunikasi diputus, listrik dibatasi, dan suasana mencekam mulai menyelimuti masyarakat Korea.
Hingga pada 21 Mei, terjadi bentrokan antara 5.000 massa dengan aparat yang membawa senjata hingga tank. Peristiwa tersebut menewaskan setidaknya 165 warga sipil.
Baca Juga: 5 Drama Korea Berlatar Pedesaan yang Cocok untuk Healing

