TPA Sarimukti Diprediksi Penuh Akhir 2026, Pemprov Jabar Siapkan 3 Strategi Atasi Sampah

sekitarbandungcom – TPA Sarimukti diprediksi mencapai kapasitas penuh pada akhir 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga layanan pengelolaan sampah Bandung Raya,

nathanael gihon

[addtoany]

sekitarbandungcom – TPA Sarimukti diprediksi mencapai kapasitas penuh pada akhir 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga layanan pengelolaan sampah Bandung Raya, mulai dari optimalisasi area yang tersedia hingga pengolahan sampah dan pengurangan timbulan dari sumbernya.

Informasi tersebut disampaikan melalui Portal Jabar pada 9 Oktober 2026. Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menjelaskan bahwa penanganan perlu dilakukan dari hulu hingga hilir karena volume sampah yang masuk terus memberi tekanan pada kapasitas tempat pemrosesan akhir tersebut.

TPA Sarimukti berada di Kabupaten Bandung Barat dan menjadi salah satu fasilitas penting untuk menampung sampah dari kawasan Bandung Raya.

Ketika kapasitasnya semakin terbatas, pemerintah perlu menyiapkan langkah teknis sekaligus memperkuat upaya agar sampah yang dikirim ke lokasi tidak terus bertambah.

TPA Sarimukti Hadapi Tekanan Kapasitas pada 2026

Proyeksi penuh pada akhir 2026 menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang lebih terukur.

Pemberitaan detikJabar pada 6 Oktober menyebut Zona 5 berpotensi kehabisan kapasitas pada November 2026.

Perbedaan perkiraan waktu ini menunjukkan bahwa kondisi kapasitas dapat berubah sesuai volume sampah dan pelaksanaan penanganan teknis.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah pemadatan sampah di Zona 5. Upaya ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan ruang yang masih tersedia.

Namun, pelaksanaannya membutuhkan kajian teknis, termasuk pertimbangan kondisi area dan ketersediaan alat berat.

Karena itu, pemadatan tidak dapat dipandang sebagai solusi tunggal yang menyelesaikan persoalan sampah dalam jangka panjang.

Pemprov Jabar juga menyiapkan pembangunan gravity wall di sisi selatan dan timur area yang direncanakan. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya penataan dan optimalisasi zona.

Pelaksanaan pekerjaan tetap perlu mengikuti perhitungan teknis agar penanganan sesuai dengan kondisi lapangan dan kebutuhan operasional TPA.

Baca juga: Pemkot Bandung Tetap Izinkan Pedagang Buku Cihapit Berjualan, Ini Aturan Lapak Terbaru

Pemprov Jabar Siapkan Pengolahan dan Pengurangan Sampah

Selain mengoptimalkan kapasitas, Pemprov Jabar mendorong pengolahan sampah lama melalui teknologi pirolisis. Teknologi ini direncanakan untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar cair atau solar.

ANTARA Jawa Barat melaporkan bahwa instalasi ditargetkan dipasang pada akhir 2026 dan mulai beroperasi pada 2027, dengan sasaran pengolahan sekitar 1.000 ton per hari.

Target tersebut merupakan rencana, bukan kapasitas yang sudah berjalan. Kesiapan fasilitas, jadwal pemasangan, serta pelaksanaan operasional menjadi hal yang perlu dipantau untuk mengetahui kontribusinya terhadap pengurangan timbunan sampah.

Pemprov juga menjajaki pengolahan menjadi refuse-derived fuel (RDF), yakni bahan bakar yang berasal dari sampah terpilah dan diproses.

Baca juga: Dishub Kota Bandung Perketat Keamanan APILL di 6 Persimpangan, Cegah Pencurian Berulang

Langkah berikutnya berfokus pada pengurangan sampah sejak dari sumber. Pemprov Jabar merencanakan pelibatan 25.000 mahasiswa untuk mendampingi masyarakat dalam edukasi pengurangan dan pemilahan sampah.

Program ini diarahkan agar rumah tangga dan lingkungan dapat mengurangi sampah yang harus diangkut ke TPA.

Pengurangan dari sumber penting karena penambahan kapasitas tempat pembuangan saja tidak cukup jika volume sampah terus meningkat.

Pemilahan yang tepat juga dapat membantu memisahkan material yang masih dapat dimanfaatkan atau diolah, sehingga tidak seluruh sampah berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Penanganan TPA Sarimukti membutuhkan koordinasi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, pengelola fasilitas, serta partisipasi masyarakat.

Warga dapat mendukung upaya tersebut dengan memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, dan mengikuti layanan pengumpulan sampah di wilayah masing-masing.

Dengan demikian, strategi yang disiapkan mencakup optimalisasi kapasitas melalui pemadatan dan pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi pengolahan, serta pengurangan sampah dari hulu.

Ketiganya memiliki tahapan dan tantangan berbeda, sehingga perkembangan pelaksanaannya perlu disampaikan secara terbuka.

Proyeksi kapasitas penuh pada akhir 2026 bukan berarti penutupan tepat pada tanggal tertentu telah dipastikan.

Namun, kondisi tersebut menegaskan perlunya langkah terkoordinasi agar layanan persampahan Bandung Raya tetap berjalan sambil mempercepat peralihan menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Pemerintah juga perlu mengevaluasi hasil setiap langkah secara berkala, termasuk kapasitas tersisa, efektivitas pengolahan, dan perubahan jumlah sampah yang dikirim.

Data pemantauan tersebut dapat membantu menentukan prioritas berikutnya serta memberi gambaran yang jelas kepada masyarakat tentang perkembangan penanganan secara terbuka kepada masyarakat luas.

Sumber: jabarprov.go.id

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar