Di jantung Kota Bandung, terdapat sebuah kawasan yang telah lama menjadi nadi industri kreatif berbasis cetak. Jalan Pagarsih, yang membentang di Kecamatan Andir, bukan sekadar nama jalan biasa. Ia adalah simbol ketahanan ekonomi rakyat, pusat kreativitas desain, dan saksi bisu transformasi Bandung dari kota persawahan menjadi metropolitan kreatif.
Sejak era 1990-an, ratusan usaha percetakan kecil dan menengah tumbuh subur di sepanjang jalan ini. Usaha tersebut menawarkan segala kebutuhan cetak, mulai dari undangan pernikahan, kartu nama, poster, hingga buku-buku keagamaan seperti buku Yasin. Pagarsih bukan hanya tempat mencetak kertas, melainkan ekosistem industri yang telah menghidupi ribuan keluarga, melahirkan desainer grafis, dan menjadi tulang punggung ekonomi kreatif Bandung yang terkenal hingga mancanegara.
Nama Pagarsih memiliki akar sejarah yang dalam dan terkait erat dengan perkembangan wilayah Bandung pada masa kolonial. Pada era 1940-an, kawasan yang kini dikenal sebagai sentra percetakan ini masih berupa hamparan persawahan, kebun kangkung, dan kebun kelapa. Jalan Pagarsih diperkirakan sudah ada sejak tahun 1930-an, meskipun kondisinya belum selebar seperti sekarang.
Konon, seorang tuan tanah bernama Garsih pernah tinggal di wilayah ini. Karena termasuk orang terpandang dan berpengaruh di kawasan tersebut, masyarakat sekitar kerap memanggilnya dengan sebutan Pak Garsih. Dalam bahasa Sunda, “Pa” adalah panggilan hormat untuk laki-laki. Selain sosok yang dihormati, Pak Garsih dikenal memiliki jasa besar bagi warga sekitar. Ia adalah orang yang berjasa membangun pintu air di Sungai Citepus yang berfungsi untuk mengairi persawahan, kebun kangkung, dan kebun kelapa yang ada di daerah tersebut.
Atas prakarsanya, ia bersama warga membuat pintu air atau irigasi yang melekuk ke arah Jalan Babakan Irigasi sekarang. Dalam bahasa Sunda, bentuk melekuk ini disebut “ulekan”. Maka tak heran jika di wilayah ini terdapat Pasar Ulekan, yang kini lebih dikenal sebagai Pasar Pagarsih. Dari sinilah nama Pagarsih melekat dan menjadi identitas kawasan yang kini terkenal sebagai sentra percetakan terbesar di Bandung.
Dalam penelitian Maryadi, A. (2019), disampaikan bahwa perjalanan Pagarsih menjadi sentra percetakan modern tidak terlepas dari peran Pemerintah Kota Bandung dalam memberdayakan potensi ekonomi lokal. Sentra Percetakan Pagarsih pertama kali berdiri pada tahun 2005, yang awalnya berupa pasar tradisional. Pemerintah daerah Bandung kemudian memberdayakan kawasan ini untuk kegiatan perekonomian masyarakat.
Seiring berjalannya waktu dan untuk memenuhi kebutuhan penataan kota yang lebih baik, pada tahun 2008 pemerintah daerah mengubah Pasar Tradisional Pagarsih menjadi sentra percetakan resmi. Transformasi ini ditandai dengan pembangunan gedung baru melalui kerja sama dengan pihak swasta, yaitu PT PRADUTA, dengan sistem kontrak.
