sekitarbandung.com – Dokter lulusan UI tinggal di kolong jembatan mungkin terdengar seperti cerita fiksi, namun inilah kisah nyata Hafid, seorang spesialis THT yang kini hidup sederhana di bawah jembatan di Demak, Jawa Tengah. Kisah hidupnya viral karena menampilkan kontras tajam antara prestasi akademik dan pilihan hidup spiritual setelah tragedi keluarga.
Baca Juga: Cara Daftar KIP Kuliah Jalur Mandiri 2025: Panduan Lengkap dan Persyaratan
Hafid: Dokter Lulusan UI dan Spesialis THT
Hafid menempuh pendidikan di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1988. Ia dikenal sebagai mahasiswa brilian karena berhasil lulus S1 kedokteran dalam waktu 1 tahun 7 bulan. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan spesialis THT di Singapura dan bahkan sempat mengembangkan karier di Italia selama empat tahun.
Tidak hanya sukses di dunia medis, Hafid juga sempat membuka apotek dan membangun yayasan pendidikan di kampung halamannya, Jember.
Tragedi yang Mengubah Segalanya
Namun hidup Hafid berubah drastis ketika ia kehilangan istri tercinta dan anak semata wayangnya. Sang istri meninggal lebih dulu karena sakit, sementara anaknya yang sedang menempuh studi di Jerman wafat dalam kecelakaan saat pulang ke Indonesia.
Tragedi ini membuat Hafid terpuruk secara emosional dan spiritual. Ia memutuskan untuk meninggalkan bisnis, aset, dan semua aktivitas profesionalnya, lalu mengasingkan diri demi mencari ketenangan batin.
“Saya kehilangan segalanya, dan saya ingin hidup hanya dengan zikir dan ketenangan,” ujarnya dalam wawancara bersama kanal YouTube Sinau Hurip.
Dokter Lulusan UI Tinggal di Kolong Jembatan
Kini, Hafid tinggal di bawah jembatan kawasan Kadilangu, Demak, selama hampir satu dekade. Tempat tinggalnya berupa gubuk dari bambu dan plastik yang dibantu bangun oleh warga sekitar. Meski sederhana, Hafid tetap menjaga kebersihan dan memilih hidup mandiri tanpa mengemis.
Kehidupan spiritual menjadi pusat aktivitasnya. Ia lebih memilih hidup sunyi, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk dunia medis yang pernah ia geluti.
Rutinitas Ibadah & Hidup Minimalis
Setiap hari Hafid bangun sebelum subuh, pergi ke masjid, dan membaca Al-Quran. Ia mengaji minimal 1 hingga 3 juz per hari. Baginya, kedamaian datang dari rutinitas spiritual ini.
Saat tidak membaca Al-Quran, Hafid mengaku tubuhnya terasa tidak enak, bahkan merasa kehilangan arah. Ia juga sering berziarah ke makam sebagai bentuk kontemplasi hidup.
Kesehatan Mental & Dukungan Sosial
Kisah Hafid membuka dialog penting soal kesehatan mental, terutama pada kalangan profesional seperti dokter yang jarang membicarakan trauma dan kesedihan mendalam. Warga sekitar turut mendukungnya dengan memberikan makanan dan menjaga privasinya.
Video dokumenter tentang Hafid yang diunggah di kanal YouTube Sinau Hurip dan pemberitaan dari berbagai media menjadikan cerita ini viral. Banyak warganet terinspirasi oleh keberanian Hafid untuk hidup jujur dengan dirinya sendiri.
Kenapa Kisah Ini Penting?
-
Refleksi Kehidupan: Prestasi tinggi bukan jaminan ketenangan jiwa.
-
Kesadaran Sosial: Pentingnya dukungan terhadap orang yang mengalami kehilangan.
-
Spiritualitas Modern: Hidup sederhana bukan kelemahan, tapi pilihan sadar yang bermakna.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com.

