sekitarBANDUNGcom – Kabupaten Bandung Barat mencatatkan lonjakan mengkhawatirkan pada kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di awal tahun 2024. Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) menyebutkan bahwa hingga 19 Maret 2024, total kasus mencapai 1.040 dengan 9 orang meninggal dunia. Angka ini mengalami kenaikan hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu di periode yang sama.
“Data kasus DBD dari Januari sampai 19 Maret 2024 itu 1.040 kasus dengan jumlah kematian 9 kasus,” ujar Nurul Rasihan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes KBB, Kamis (21/3/2024).
Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat edukasi pencegahan dan penanganan DBD. Namun demikian, partisipasi aktif masyarakat tetap menjadi kunci dalam pengendalian penyakit ini.
Wilayah Tertinggi Kasus DBD di Bandung Barat
Sebaran kasus DBD tertinggi berada di:
- Kecamatan Cililin: 165 kasus
- Kecamatan Lembang: 152 kasus
- Kecamatan Cipongkor: 98 kasus
Wilayah ini diketahui memiliki kepadatan penduduk tinggi, curah hujan cukup deras, dan lingkungan dengan banyak titik genangan air – kondisi ideal untuk berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Fakta ini menunjukkan bahwa wilayah dengan sanitasi buruk dan minim kesadaran masyarakat terhadap kebersihan menjadi daerah paling rawan terkena wabah DBD.
Penyebab Lonjakan: Bukan Hanya Musim Hujan
Meskipun musim hujan menjadi salah satu faktor utama, ada penyebab lain yang memengaruhi peningkatan kasus:
- Kurangnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
- Tidak efektifnya penerapan 3M Plus (menguras, menutup, dan mendaur ulang).
- Kesadaran yang rendah terhadap gejala awal DBD, sehingga penanganan medis terlambat.
- Minimnya laporan dini dari masyarakat ke puskesmas atau posyandu ketika menemukan kasus.
Program fogging yang dilakukan pemerintah hanya bersifat jangka pendek dan membunuh nyamuk dewasa. Jika telur dan jentik tetap dibiarkan berkembang, maka siklus penyebaran DBD akan terus berlangsung.
Baca Juga : Wolbachia Diperluas! Pemkot Bandung Targetkan 3 Kecamatan Baru Demi Tekan DBD
Langkah Preventif yang Harus Dilakukan Warga
Masyarakat diimbau untuk kembali menerapkan 3M Plus secara konsisten:
- Menguras tempat penampungan air seminggu sekali.
- Menutup rapat bak mandi, ember, atau toren air.
- Mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air hujan.
- Plus-nya: menggunakan lotion anti nyamuk, kelambu, menanam tanaman pengusir nyamuk, dan menjaga kebersihan selokan serta lingkungan sekitar.
Pemerintah juga menekankan pentingnya peran kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di tiap RT/RW untuk melakukan inspeksi lingkungan rumah warga secara rutin.
Peran Aktif Masyarakat dan Edukasi Berkelanjutan
Selain program pemerintah seperti PSN dan 3M Plus, keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi elemen yang tak kalah penting. Edukasi mengenai bahaya demam berdarah harus dilakukan secara konsisten, tidak hanya ketika kasus melonjak. Sekolah, tempat ibadah, dan komunitas lokal bisa menjadi mitra strategis dalam menyebarluaskan informasi tentang cara mengenali gejala awal DBD serta tindakan pencegahan yang tepat.
Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat, dr. Hernawan, juga menegaskan pentingnya edukasi lintas usia. “Kami berupaya masuk ke sekolah-sekolah dan karang taruna agar anak muda juga ikut peduli. Karena pencegahan DBD ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu dua pihak saja, tapi harus kolaboratif,” ujarnya dalam wawancara di Radio Bandung Sehat.
Salah satu upaya yang dinilai efektif adalah menggalakkan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik, yaitu adanya anggota keluarga yang secara rutin memantau jentik nyamuk di rumahnya masing-masing. Inisiatif ini terbukti meningkatkan kesadaran individu terhadap potensi penyebaran nyamuk DBD di sekitar tempat tinggal.
Perbandingan dengan Tahun Lalu: Fakta yang Mengkhawatirkan
Sebagai catatan, jumlah kasus DBD di Bandung Barat pada awal 2023 hanya 447 kasus dengan 2 kematian. Bandingkan dengan awal 2024 ini: 1.040 kasus dan 9 kematian. Ini berarti peningkatan hampir 2,3 kali lipat dalam kasus dan lebih dari 4 kali lipat dalam jumlah korban meninggal dunia.
Artinya, tren penyebaran DBD tahun ini bukan hanya naik — tapi mengkhawatirkan dan darurat jika tidak segera dikendalikan.
Kapan Harus Waspada? Kenali Gejala Awal DBD!
Banyak orang mengira DBD hanya flu biasa. Padahal, ada gejala khas yang wajib diwaspadai:
- Demam tinggi mendadak (bisa lebih dari 39°C)
- Nyeri otot dan sendi
- Mual, muntah
- Bintik merah di kulit (petechiae)
- Nyeri di belakang mata
Jika Anda atau keluarga mengalami gejala tersebut, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Jangan Anggap Sepele DBD
Demam Berdarah Dengue bukan penyakit biasa. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian jika terlambat ditangani. Lonjakan kasus di Bandung Barat menjadi alarm keras bagi kita semua untuk lebih serius dalam menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kesadaran kolektif, dan menerapkan kebiasaan hidup sehat.
Mencegah jauh lebih mudah dan murah dibanding mengobati. Jangan tunggu hingga nyawa melayang. Bersih-bersih hari ini bisa menyelamatkan hidup besok.
Baca Juga : Waspada DBD! 799 Kasus di Bandung Barat

