sekitarbandung.com – Kasus keracunan MBG Bandung Barat kembali mencuat. Ratusan siswa di Desa Sarinagen, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (24/9/2025).
Belasan ambulans terlihat bolak-balik mengevakuasi para korban ke Puskesmas Cipongkor. Suasana sekolah berubah panik ketika puluhan siswa mulai menunjukkan tanda-tanda sakit, mulai dari pusing, mual, hingga sesak napas.
Kronologi Keracunan MBG Bandung Barat
Seorang siswi MTs Manarul Huda, Via (14), menceritakan dirinya mulai merasa tidak enak badan beberapa saat setelah menyantap hidangan MBG.
“Menu hari ini ada nasi, ayam, sambal, dan buah stroberi. Tidak lama setelah makan, saya merasa pusing dan mual, bahkan sesak napas,” ungkap Via.
Kesaksian serupa juga disampaikan oleh sejumlah siswa lainnya yang turut mendapat perawatan medis di puskesmas.
Baca Juga: Keracunan MBG Bandung Barat: Pemkab Tetapkan Status KLB Usai 364 Siswa Sakit
Reaksi Orang Tua Siswa
Orang tua korban, Desi (50), mengaku khawatir dengan kondisi anaknya. Ia menegaskan bahwa program MBG di sekolah sering kali menimbulkan keluhan kesehatan.
“Bukan sekali ini saja. Anak saya beberapa kali merasa pusing setelah makan MBG. Sekarang malah lebih parah. Jujur, saya berharap program ini dihentikan saja jika tidak memberi manfaat,” ucapnya.
Komentar dari orang tua lain juga menggambarkan keresahan serupa. Mereka menuntut evaluasi menyeluruh dari pemerintah daerah dan pihak sekolah.
Evaluasi Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya dihadirkan pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi siswa dan membantu meringankan beban orang tua. Namun, kasus keracunan MBG Bandung Barat yang berulang menimbulkan pertanyaan besar soal kualitas bahan makanan, distribusi, hingga standar kebersihan dalam penyajian.
Wakil Ketua DPRD Bandung Barat sebelumnya bahkan sudah mendesak adanya evaluasi total terhadap program MBG, menyusul insiden serupa yang terjadi beberapa bulan lalu.
“Program ini baik secara konsep, tetapi pelaksanaannya harus benar-benar dikontrol. Jika tidak, yang jadi korban adalah anak-anak kita sendiri,” tegasnya.
Penanganan dan Investigasi
Pihak Puskesmas Cipongkor telah memberikan penanganan darurat kepada ratusan siswa yang terdampak. Mayoritas korban mengalami gejala ringan hingga sedang.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Bandung Barat dilaporkan sedang melakukan investigasi cepat, termasuk pengambilan sampel makanan MBG yang dikonsumsi para siswa.
“Langkah ini penting untuk mengetahui penyebab pasti keracunan, apakah dari bahan makanan, cara pengolahan, atau distribusi,” ujar salah seorang tenaga medis. Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan bagian dari kebijakan nasional yang juga diatur dalam panduan resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Dampak dan Kekhawatiran Masyarakat
Insiden keracunan MBG Bandung Barat menambah daftar panjang kasus keracunan massal akibat program makanan sekolah. Warga setempat mulai mempertanyakan apakah program ini benar-benar memberi manfaat atau justru membawa risiko bagi kesehatan anak-anak.
Kekhawatiran juga datang dari para guru. Meski tidak secara langsung terlibat dalam penyajian MBG, mereka merasa bertanggung jawab atas keselamatan siswa di sekolah.
“Kalau setiap kali ada kejadian seperti ini, jelas aktivitas belajar terganggu. Kami harap pemerintah benar-benar serius mengevaluasi program ini,” kata seorang guru di Cipongkor.
Harapan ke Depan
Kasus keracunan ini diharapkan menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk memperbaiki tata kelola MBG. Pengawasan distribusi, kualitas bahan makanan, serta standar higienitas penyajian harus lebih diperketat.
Masyarakat juga berharap pemerintah daerah menggandeng pihak independen untuk melakukan audit menyeluruh. Transparansi menjadi kunci agar kepercayaan publik terhadap program MBG tidak semakin luntur.
“Kalau memang tujuannya baik, seharusnya bisa dijalankan dengan lebih aman. Anak-anak tidak boleh lagi jadi korban,” tutup Desi.
Tragedi keracunan MBG Bandung Barat kembali membuka mata banyak pihak. Meski program ini diharapkan mampu meningkatkan gizi siswa, pelaksanaan di lapangan justru menyisakan persoalan serius.
Jika tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan program MBG akan kehilangan legitimasi di mata masyarakat.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

