Sekitarbandung.com – Dalam artikel yang dipublikasikan National Geographic, kunang-kunang merupakan serangga dari keluarga Lampyridae yang telah hidup lebih dari 100 juta tahun dan terdiri atas sekitar 2.000 spesies di dunia.
Cahaya yang mereka hasilkan berfungsi sebagai sarana komunikasi, terutama dalam proses reproduksi. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, keberadaan kunang-kunang mengalami penurunan di berbagai wilayah akibat aktivitas manusia.
Laporan Xerces Society for Invertebrate Conservation menyebutkan hilangnya habitat sebagai ancaman utama, terutama di Asia Tenggara akibat alih fungsi hutan bakau dan bantaran sungai.
Polusi cahaya mengganggu sinyal kawin, sementara penggunaan pestisida berdampak langsung pada larva yang hidup di tanah dan lumpur. Tekanan tambahan juga datang dari perdagangan kunang-kunang liar untuk kepentingan festival.
Baca Juga: Mengapa Ada Masyarakat yang Tidak Gunakan AI? Simak Penjelasannya Berikut Ini!
Keberadaan mereka menjadi indikator kualitas lingkungan yang masih baik, terutama terkait vegetasi, kelembapan, suhu, dan pengendalian cahaya buatan.
Pelestarian kunang-kunang dapat dilakukan melalui perlindungan habitat, pengurangan cahaya buatan, penghentian penggunaan pestisida, serta praktik wisata yang tidak merusak lingkungan.
Upaya kolektif dari tingkat lokal hingga global dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan siklus hidup kunang-kunang dan ekosistem yang mendukungnya.
Menjaga kunang-kunang tetap hidup berarti ikut merawat keseimbangan alam agar generasi mendatang masih bisa menyaksikan cahaya kecil yang dulu akrab menghiasi malam.
Baca Juga: Mengapa di Kereta Api Gampang Ngantuk? Simak Penjelasannya Berikut Ini!

