Masalah stunting atau tengkes pada anak usia di bawah lima tahun (balita) masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia, bahkan dunia. Data terbaru menunjukkan prevalensi stunting yang cukup memprihatinkan, menjadikannya salah satu permasalahan kesehatan publik yang serius dan mendapatkan perhatian khusus dari berbagai pihak, termasuk calon legislatif DPR RI.
Potret Nasional Stunting: Data ADB dan Kemenkes
Berdasarkan data dari Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2022, persentase Prevalensi Stunting pada Anak Usia Di Bawah 5 Tahun di Indonesia terhitung cukup fantastis, yakni sebesar 31,8 persen. Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan ke-10 di wilayah Asia Tenggara dalam daftar negara dengan prevalensi stunting tertinggi. Data ini menunjukkan betapa seriusnya masalah gizi kronis ini di tingkat nasional.
Namun begitu, ada sedikit angin segar dari catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Angka stunting Indonesia sempat mengalami penurunan yang cukup signifikan, menjadi 21,6 persen. Meskipun ada penurunan, angka ini masih tergolong tinggi dan jauh dari target ideal yang ditetapkan secara global maupun nasional. Stunting bisa dibilang menjadi salah satu permasalahan fundamental yang menghambat potensi sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Baca juga : Tips Menjual Produk ke Luar Kota dari Bandung Paling Efektif
Kondisi Stunting di Kota Cimahi: Data Beragam dan Keluhan Orang Tua
Fokus permasalahan stunting juga sangat terasa di tingkat lokal, seperti di Kota Cimahi. Berdasarkan data dari Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) tahun 2022, masih terdapat 3.036 balita yang mengalami stunting, dengan prevalensi mencapai 9,70%. Sementara itu, berdasarkan Survey Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting Kota Cimahi berada di angka 16,4%. Perbedaan angka antara dua sumber data ini menunjukkan kompleksitas dalam pengukuran dan pemetaan masalah gizi di lapangan.
Senada dengan kondisi tersebut, dalam kunjungannya ke warga Kecamatan Cimahi Selatan (Kota Cimahi) pada 13 September 2023, Subchan Dargana yang juga sering disebut Mang Gana, mendengar langsung keluhan para orang tua di sana. Permasalahan stunting yang diakibatkan oleh kekurangan gizi pada anak tersebut mendapatkan perhatian khusus dan banyak dikeluhkan oleh para “emal-emak”. Mereka menyampaikan merasa kesulitan untuk mendapatkan asupan gizi yang sehat dan memadai dalam masa pertumbuhan anak, terutama di tengah tantangan ekonomi.
Komitmen Mang Gana: Mengawal Gizi Anak dan Menurunkan Angka Stunting
Mang Gana menerangkan bahwa Indonesia saat ini memang sedang menghadapi angka stunting yang cukup memprihatinkan, tidak hanya di Kota Cimahi bahkan di seluruh Indonesia. Ia juga menyoroti upaya pemerintah dalam menangani persoalan tersebut. Melalui Kementerian Kesehatan, pemerintah berupaya keras untuk menurunkan angka stunting sekitar 2,7% setiap tahunnya.
Target ini merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang lebih besar, di mana pemerintah menargetkan untuk menurunkan angka stunting sebanyak 14% pada tahun 2024. Angka ini adalah tujuan ambisius yang membutuhkan kerja keras dari seluruh elemen bangsa.
“Sekarang tugas anggota dewan agar tetap mengawal dan mengawasi kebijakan tersebut agar berjalan dengan efektif,” ujar Mang Gana, yang kini Nyaleg DPR RI Dapil Jabar I dengan nomor urut 7 di partai Nasdem. Pernyataan ini menunjukkan komitmennya untuk membawa isu stunting ke ranah legislatif jika terpilih.
Mang Gana berharap dapat mengoptimalkan fungsinya sebagai tokoh masyarakat, terlebih jika dirinya dipercaya dapat mengemban amanah sebagai anggota DPR RI. Ia berjanji akan terus mengawal suplai gizi yang baik untuk seluruh anak-anak di Kota Cimahi. “Semoga si kecil jauh dari stunting dan tetap sehat lahir batin. Semoga ke depan mang Gana bisa hadir kembali dengan kemajuan yang punya arti bagi masyarakat di sini. Dan tentu memastikan nantinya, gizi anak-anak Cimahi tercukupi,” imbuhnya lagi, menunjukkan kepedulian personalnya terhadap masa depan generasi penerus di Cimahi.
Urgensi Penanganan Stunting: Investasi Masa Depan Bangsa
Stunting adalah lebih dari sekadar masalah fisik; ia berdampak pada perkembangan kognitif, kesehatan jangka panjang, dan produktivitas anak di masa dewasa. Penyebabnya kompleks, meliputi asupan gizi yang tidak memadai, praktik sanitasi yang buruk, dan kurangnya akses terhadap layanan kesehatan.
Penanganan stunting membutuhkan pendekatan multi-sektoral, tidak hanya dari Kementerian Kesehatan, tetapi juga Kementerian Sosial, BKKBN, Kementerian Pertanian, dan peran aktif pemerintah daerah hingga ke tingkat desa. Upaya ini harus fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak, yang merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan.
Kunjungan dan komitmen Mang Gana ini menjadi contoh bagaimana isu stunting perlu diangkat ke berbagai tingkatan, dari komunitas terkecil hingga parlemen tertinggi, untuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia mendapatkan hak mereka atas gizi yang layak dan masa depan yang lebih cerah.
Baca juga : Info Pasar Rakyat Bandung: Peluang Dagang UMKM Lokal

