Sekitarbandung.com – Banyak orang masuk ke pemerintahan tanpa benar-benar memahami arti kekuasaan. Padahal, jabatan berfungsi sebagai tanggung jawab moral.
Mungkin sudah saatnya lebih banyak pejabat mulai membaca, sebelum kembali berbicara atas nama rakyat. Lantas, membaca buku-buku apa saja yang dimaksud tersebut?
1. Long Walk to Freedom – Nelson Mandela
Buku ini tentang perjuangan, penjara, pengorbanan, dan bagaimana kekuasaan seharusnya digunakan untuk mempersatukan rakyat.
Nelson Mandela keluar dari puluhan tahun penjara tanpa membangun dendam.
Buku ini penting dibaca pejabat, agar mereka sadar bahwa kekuasaan terbesar bukanlah menguasai rakyat, melainkan mampu tetap manusia ketika memiliki kekuasaan.
2. Madilog – Tan Malaka
Tan Malaka menuliskan buku ini karena ia takut bangsa yang baru merdeka akan dipenuhi oleh orang-orang yang anti kritik dan malas berpikir.
Ia mempercayai bahwa pemimpin yang tidak mau berpikir kritis, pada akhirnya hanya akan membangun negara penuh pencitraan dan omong kosong.
Buku ini perlu dibaca pejabat hari ini, agar mereka sadar bahwa loyalitas bukan sebagai pengganti dari akal sehat.
Baca Juga: Salut! Anak di Papua Ini Datang ke Sekolah Malam Hari demi Buku PR yang Ketinggalan
3. Animal Farm – George Orwell
Novel ini bercerita tentang revolusi yang awalnya ingin menciptakan keadilan, tetapi perlahan berubah menjadi kekuasaan yang lebih rakus dari sebelumnya.
Buku ini penting dibaca pejabat, karena sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa banyak penguasa yang awalnya datang atas nama rakyat, lalu perlahan lupa kepada rakyat setelah berada di atas.
“All animals are equal, but some animals are more equal than others. (Semua hewan itu setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain.)”
4. How Democracies Die – Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt
Buku ini menjelaskan bahwa demokrasi modern jarang hancur melalui tank dan perang.
Demokrasi terkadang mati perlahan ketika kritik mulai dibungkam, hukum mulai tajam ke lawan, dan kekuasaan merasa dirinya selalu benar.
Buku ini penting dibaca oleh pejabat, karena kehancuran negara sering dimulai dari penguasa yang terlalu lama merasa tidak bisa salah.
Mungkin masalah terbesar bangsa ini bukan karena kurang orang pintar, tetapi karena terlalu banyak orang masuk kekuasaan tanpa pernah benar-benar belajar tentang moral, sejarah, dan arti menjadi pelayan masyarakat.
Padahal, buku-buku itu sudah ada sejak lama. Hanya saja, terlalu sedikit orang berkuasa yang benar-benar mau membacanya.
Baca Juga: 7 Buku Terlaris Sepanjang Masa yang Direkomendasikan untuk Masuk ke Daftar Baca

