sekitarbandung.com – Malam tenang bisa berubah mencekam jika gempa kuat mengguncang dan rumah yang kita tinggali tidak cukup kokoh. Inilah alasan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung mulai serius memetakan rumah rentan gempa Bandung.
Langkah ini tak hanya menyasar aspek bangunan, tetapi juga meningkatkan kesiapsiagaan warga agar tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana datang tiba-tiba.
Ribuan Rumah Rentan Gempa Bandung Dipetakan
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, hingga akhir Agustus 2025 sekitar seribu rumah sudah diperiksa tingkat kerentanannya. Proses pendataan masih berlangsung di seluruh kecamatan Bandung.
“Kami sedang memilah mana rumah yang tahan gempa dan mana yang tidak. Pendataan dilakukan bersama BNPB dan tim ahli Universitas Katolik Parahyangan,” jelas Didi, Selasa (26/8/2025).
Rumah yang dinilai rawan dimasukkan dalam daftar prioritas. Sementara itu, rumah yang relatif aman tetap dipantau secara berkala.
Baca Juga: 5 Keunggulan Kartu Debit BRI X INDODAX yang Wajib Dimiliki Nasabah Digital
Solusi Darurat: Meja Kokoh dan Edukasi Warga
Bangunan rapuh memang tidak mudah langsung diperbaiki. Karena itu, BPBD menawarkan solusi praktis: menyediakan meja kokoh sebagai ruang lindung sederhana bagi warga.
“Kalau bicara renovasi total, biayanya besar. Maka yang lebih realistis adalah memperkuat kapasitas masyarakat agar bisa menyelamatkan diri,” tambah Didi.
Selain itu, warga dilatih melakukan simulasi, latihan evakuasi, hingga penyusunan rencana darurat keluarga.
Kendala Anggaran dalam Perbaikan Rumah Rentan Gempa Bandung
Perbaikan rumah rawan gempa terbentur aturan anggaran. Didi menyebut dana APBD Kota Bandung hanya bisa dipakai untuk rumah di atas lahan milik pribadi. Bantuan dari CSR pun tidak bisa menyasar lahan non-pribadi.
“Kami mencari formula agar warga tetap punya ruang aman, minimal meja lindung yang bisa dipakai ketika gempa,” tegasnya.
Saat ini BPBD menyiapkan dana Rp24 miliar dari APBD untuk kegiatan mitigasi bencana, termasuk sosialisasi, simulasi, hingga penanganan darurat.
Meningkatnya Partisipasi Warga
Kabar baiknya, warga Bandung makin sadar pentingnya kesiapsiagaan. Permintaan simulasi dari sekolah, kampus, hingga komunitas meningkat tajam.
Kini, BPBD melaksanakan dua kegiatan simulasi setiap hari di lokasi berbeda. Antusiasme ini dianggap sinyal positif bahwa mitigasi bencana bukan lagi formalitas, tapi kebutuhan.
Ancaman Nyata dari Sesar Lembang
Bandung berada dekat dengan Sesar Lembang, sesar aktif yang berpotensi memicu gempa cukup besar. Para ahli geologi bahkan menempatkan sesar ini sebagai salah satu titik rawan utama di Jawa Barat.
Informasi lebih rinci mengenai aktivitas sesar ini bisa dibaca melalui situs resmi BMKG yang rutin merilis data gempa di Indonesia.
Simulasi Jadi Senjata Utama
BPBD menekankan bahwa simulasi rutin adalah kunci keselamatan. Anak-anak, lansia, hingga kelompok difabel dilibatkan agar semua tahu langkah penyelamatan diri.
Dengan begitu, saat gempa benar-benar datang, warga tidak panik dan bisa segera menuju titik aman.
Upaya pemetaan rumah rentan gempa Bandung menjadi bagian dari strategi membangun kota yang lebih tangguh. Kolaborasi pemerintah, akademisi, dan partisipasi aktif warga diharapkan mampu meminimalkan risiko dari ancaman Sesar Lembang.Ancaman gempa dari Sesar Lembang memang nyata. Data ilmiah mengenai aktivitas sesar ini bisa dilihat pada laporan resmi BMKG yang selalu diperbarui setiap hari.”
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

