sekitarbandung.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat semakin mengintensifkan mitigasi gempa Sesar Lembang dengan melibatkan masyarakat, lembaga pendidikan, hingga aparat desa. Langkah ini ditempuh mengingat potensi gempa dari patahan aktif tersebut dinilai cukup tinggi dan berisiko besar terhadap kawasan permukiman, wisata, hingga pusat pemerintahan di Ngamprah.
Perencanaan dan Dokumen Kontinjensi
Kepala Pelaksana BPBD KBB, Meidi, menjelaskan pihaknya telah menyusun dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon) sejak 2019, dan kini terus diperbarui pada 2025 agar sesuai dengan dinamika kependudukan serta kajian ilmiah terbaru.
“Dalam dokumen ini tercantum skenario gempa dengan magnitudo 6,8, struktur komando darurat, peta risiko, mekanisme koordinasi antar-instansi, jalur evakuasi, hingga estimasi logistik,” ujarnya.
Menurut Meidi, dokumen ini bukan sekadar arsip, melainkan pedoman operasional saat kondisi darurat benar-benar terjadi.
Baca Juga: Pemkab Bandung Tegaskan ASN dan Pelajar Tetap Masuk, Tak Ada WFH Meski Demo
Peningkatan Kapasitas Warga
Selain dokumen, BPBD juga aktif menyelenggarakan pelatihan mitigasi, gladi evakuasi, dan sosialisasi di desa-desa rawan. Salah satunya di Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, pada 20 Agustus 2025.
“Kegiatan ini melibatkan masyarakat, aparat desa, sekolah, hingga Desa Tangguh Bencana (Destana). Warga diberi simulasi bagaimana menyelamatkan diri dan membantu evakuasi jika gempa terjadi,” tambah Meidi.
Program ini menyasar 42 desa dari 7 kecamatan yang dilintasi Sesar Lembang, dengan tujuan meningkatkan kesiapsiagaan dari level desa.
Pemetaan Risiko dan Kajian Ilmiah
BPBD Bandung Barat bekerja sama dengan lembaga riset untuk memperbarui peta risiko berbasis bahaya, kerentanan, dan kapasitas wilayah. Hasil kajian menunjukkan risiko tertinggi berada di kawasan wisata Lembang dan pusat pemerintahan Ngamprah.
Pemetaan ini digunakan untuk menentukan prioritas penempatan logistik, jalur evakuasi, hingga pembangunan Desa Tangguh Bencana. Koordinasi juga dilakukan bersama Badan Geologi guna memperbarui data patahan aktif, serta BMKG untuk memperkuat sistem peringatan dini.
Tantangan Informasi ke Masyarakat
Meski berbagai program sudah berjalan, tantangan terbesar menurut Meidi adalah distribusi informasi yang belum merata.
“Masih ada desa-desa terpencil yang belum sepenuhnya terjangkau informasi kesiapsiagaan gempa. Ini jadi pekerjaan rumah agar edukasi bisa menyeluruh,” jelasnya.
Karena itu, BPBD gencar menggunakan berbagai kanal komunikasi, termasuk radio komunitas dan media sosial, agar pesan kesiapsiagaan bisa diterima masyarakat secara luas.
Peran Doa dan Kebersamaan
Selain langkah teknis, Meidi juga menekankan pentingnya doa bersama.
“Bagi umat Muslim, mari perbanyak shalawat dan doa. Bagi yang lain, silakan sesuai keyakinan masing-masing. Doa adalah ikhtiar non-teknis yang memperkuat kebersamaan dalam menghadapi bencana,” tandasnya.
Masyarakat Jadi Garda Terdepan
Para ahli kebencanaan menilai, pelibatan warga dalam setiap simulasi akan menciptakan kultur kesiapsiagaan. Edukasi yang konsisten akan menekan potensi korban jika gempa benar-benar terjadi.
Hal ini sejalan dengan prinsip community based disaster risk reduction (CBDRR), di mana masyarakat bukan hanya objek, melainkan subjek dalam mitigasi bencana.
Dengan keterlibatan aktif warga, dukungan data ilmiah, dan koordinasi antar-lembaga, diharapkan Bandung Barat semakin siap menghadapi potensi gempa akibat Sesar Lembang.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

