sekitarbandung.com – Sejak 2019 di era Gubernur Jabar Ridwan Kamil rencana pembangunan sistem transportasi berbasis rel yakni Light Rail Transit (LRT) sudah muncul ke publik. Proyek LRT Bandung Raya dinilai sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di Kota Bandung dan sekitarnya.
Pembangunannya juga sebagai respon saat itu ketika pemerintah pusat di era Presiden Jokowi berencana membangun Kereta Cepat Bandung-Jakarta, yang sudah beroperasi sejak 2 Oktober 2023. LRT Bandung Raya juga akan mengintegrasikan dengan keberadaan kereta cepat.
Di Indonesia sendiri saat ini sistem transportasi perkotaan berbasis rel yang sudah beroperasi adalah KRL (Kereta Listrik), LRT (Light Rail Transit), dan MRT (Mass Rapid Transit).
LRT sudah beroperasi di Jakarta, Jabodebek (Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi), dan LRT Palembang. Sedangkan MRT baru beroperasi di Kota Jakarta saja. Sementara untuk KRL, sistem ini sudah beroperasi di Jabodetabek (meliputi DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, dan Banten), serta di Yogyakarta–Solo.
Dengan demikian, Kota Bandung tidak akan lama masuk dalam kelompok kota yang akan dilintasi KRL dan LRT. Hal itu dengan rencana pembangunan LRT Bandung Raya dan elektrifikasi jalur KRD Padalarang-Cicalengka menjadi KRL. Persiapannya sudah dimulai.
Sedangkan untuk LRT, Dinas Perhubungan Jawa Barat menyatakan bahwa proyek LRT Bandung Raya yang akan menghubungkan Kota Bandung dan kota-kota sekitarnya yakni Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang, ditargetkan akan mulai dibangun tahun 2027 atau 2028.
Apa Perbedaan KRL, LRT, dan MRT?
Penyelenggaraan LRT dan KRL di Jabodebek dan di Jakarta ternyata telah memberikan dampak yang positif untuk membantu konektivitas orang dari kota-kota sekitar Kota Jakarta dengan cepat dan nyaman.
Untuk MRT Jakarta sendiri masih relative baru dan jalurnya belum begitu banyak dan baru melayani rute antara Stasiun Lebak Bulus dan Stasiun Bundaran HI.
Saat ini Pemprov Jakarta sedang membangun Fase 2A yang akan melayani rute dari Bundaran HI hingga Kota dan Fase 3, yang menghubungkan Ujung Menteng dengan Kembangan.
Lalu apa perbedaan KRL, LRT, dan MRT?
Sekilas ketiganya gk ada bedanya. Meski demikian, ada sejumlah faktor dimana ketiga sistem transportasi perkotaan berbasis rel ini memiliki perbadaan yakni :
1.Kecepatan :
MRT memiliki keunggulan dalam hal kecepatan yakni mencapai 110 kilometer perjam. Sedangkan KRL dan LRT hanya bisa menempuh kecepatan hingga 90 kilometer per jam.
2.Lintasan :
Lintasan dari ketiga jenis kereta ini pun berbeda. KRL berada di lintasan atas tanah dan layang. MRT berada di lintasan di atas tanah atau layan dan bawah tanah. Sedangkan, LRT hanya berada di lintasan layang.
3.Rel :
Dalam hal rel juga ketiganya memiliki perbadaan. MRT dan KRL menggunakan sepasang rel untuk bergerak, seperti sistem transportasi kereta secara umum, sementara LRT mempunyai rel ketiga yang berisi aliran listrik atau biasa disebut Third Rail.
4.Jumlah Rangkaian :
Perbedaan juga bisa dilihat dari jumlah rangakai atau gerbon dalam perjalannya. KRL memiliki 8-10 gerbong kereta, MRT memiliki 6 gerbong, sedangkan LRT hanya memiliki 2-4 gerbong saja.
5.Kapasitas penumpang :
Perbedaan juga bisa dilihat dari kapasitas penumpangnya. KRL bisa menampung penumpang hingga 2.000 penumpang. Untuk MRT bisa menampung 1.950 penumpang dan LRT hanya bisa menampung 600 penumpang.
6.Sumber daya listrik :
Ketiga jenis transportasi umum ini memiliki sumber daya listrik yang berbeda. KRL dan MRT mendapatkan sumber daya listrik dari atas kereta. Sedangkan, LRT mendapatkan sumber daya listrik dari aliran bawah.
Baca juga : SIM Keliling Bandung Hari Ini: Cek Lokasi & Biayanya!
Itulah perbedaan utama di antara KRL, MRT, dan LRT. Kota Bandung sendiri tidak lama lagi akan dilengkapi dengan transportasi massal modern yakni KRL dan LRT, yang diyakini akan menjadi solusi terbaik untuk mengurai kemacetan Kota Bandung dan kota-kota sekitarnya.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

