sekitarbandungcom – Pembangunan halte BRT Bandung di sejumlah ruas jalan Kota Bandung berdampak pada kelancaran lalu lintas. Penggunaan area tengah jalan untuk pembangunan halte on-corridor membuat ruang kendaraan menyempit dan memicu kepadatan di sekitar lokasi pekerjaan.
BRT Bandung Ganggu Arus Lalu Lintas
Gangguan lalu lintas terjadi karena pembangunan halte menggunakan sebagian ruang yang sebelumnya dimanfaatkan kendaraan. Kondisi itu membuat arus perjalanan menjadi lebih terbatas, terutama pada ruas yang memiliki aktivitas kendaraan cukup padat.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan bahwa potensi kemacetan sebenarnya telah diperkirakan sejak awal pembangunan. Pemerintah Kota Bandung kemudian melakukan koordinasi untuk mengurangi dampak pekerjaan terhadap pergerakan kendaraan.
Farhan menilai gangguan tersebut bersifat sementara selama proses konstruksi berlangsung. Karena itu, percepatan pekerjaan menjadi salah satu perhatian agar penggunaan ruang jalan untuk kegiatan pembangunan tidak berlangsung terlalu lama.
Salah satu kawasan yang mendapat perhatian adalah Cicadas, Jalan Ahmad Yani. Pembangunan halte di kawasan tersebut memanfaatkan area tengah jalan dan mendapat keluhan masyarakat karena berpengaruh terhadap kelancaran lalu lintas.
Pada lokasi tersebut, desain halte tidak menggunakan Jembatan Penyeberangan Orang atau JPO karena keterbatasan lahan. Akses bagi calon pengguna direncanakan melalui perlintasan sebidang atau pelican crossing.
Aspek keselamatan pejalan kaki juga menjadi perhatian dalam penataan akses menuju halte. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas transportasi, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat mencapai halte dengan aman.
Baca juga:Bupati Jeje Ismail Dikabarkan Lantik Pejabat Eselon 2 KBB Besok, Hasil Seleksi Manajemen Talenta
BRT Bandung Ditargetkan Selesai Dua Pekan
Pemerintah Kota Bandung menargetkan pengerjaan setiap halte dapat diselesaikan paling lama dalam dua minggu. Target tersebut menjadi upaya untuk membatasi durasi gangguan yang dirasakan pengguna jalan selama pekerjaan berlangsung.
Menurut Farhan, target dua pekan itu berdasarkan laporan teknis yang diterimanya. Percepatan pengerjaan diharapkan dapat membuat kondisi lalu lintas kembali lebih terkendali setelah ruang jalan yang digunakan untuk konstruksi dapat dikembalikan.
Selain koordinasi pembangunan, pemerintah juga melibatkan Dinas Perhubungan untuk membantu mengurangi dampak pekerjaan terhadap arus kendaraan. Langkah tersebut diperlukan agar pengaturan lalu lintas diperhatikan ketika aktivitas konstruksi berlangsung.
Pembangunan halte BRT Bandung sendiri mencakup wilayah yang luas. Berdasarkan informasi resmi Portal Jabar yang diterbitkan Diskominfo Kota Bandung pada Maret 2026, terdapat 232 titik halte yang akan dibangun di Kota Bandung.
Pembangunan tersebut mencakup halte on-corridor dan off-corridor sebagai bagian dari pengembangan BRT Cekungan Bandung. Proyek itu merupakan bagian dari program Kementerian Perhubungan untuk mendukung pengembangan transportasi umum di kawasan tersebut.
Dengan jumlah titik yang banyak, pengelolaan pekerjaan menjadi penting agar pembangunan fasilitas transportasi tidak menimbulkan gangguan lalu lintas yang berkepanjangan. Masyarakat yang melintas di sekitar lokasi pekerjaan juga diimbau berhati-hati.
Baca juga:Kebakaran TPAS Galuga Bogor Meluas, Area Terdampak Kini Capai 7,1 Hektare
Percepatan Pekerjaan Jadi Perhatian
Target penyelesaian dua pekan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan pembangunan halte. Semakin cepat pekerjaan selesai, semakin cepat pula ruang jalan dapat kembali digunakan optimal oleh masyarakat.
Meski demikian, percepatan tetap perlu berjalan dengan memperhatikan keselamatan pekerja, pengguna jalan, dan calon penumpang. Pembangunan fasilitas publik membutuhkan pengaturan yang seimbang antara kebutuhan konstruksi dan kelancaran mobilitas.
Kondisi di Cicadas menjadi contoh bagaimana pembangunan halte dapat berhadapan langsung dengan kebutuhan lalu lintas perkotaan. Karena berada di kawasan yang dilalui kendaraan, pengaturan selama konstruksi menjadi bagian penting dari proses pengerjaan.
BRT Bandung diharapkan dapat mendukung pilihan transportasi publik masyarakat setelah fasilitasnya selesai. Namun, selama pekerjaan berlangsung, masyarakat perlu mengikuti pengaturan lalu lintas dan memperhatikan kondisi di sekitar area konstruksi.
Pemerintah Kota Bandung juga perlu memastikan koordinasi dengan pihak terkait berjalan secara konsisten. Dengan pengawasan dan penyelesaian pekerjaan sesuai target, dampak pembangunan terhadap perjalanan masyarakat dapat ditekan.
Pada akhirnya, pembangunan halte merupakan bagian dari peningkatan fasilitas transportasi publik. Target dua pekan yang disampaikan Farhan menjadi acuan penyelesaian pekerjaan halte yang sedang dikerjakan, sementara pengaturan lalu lintas diperlukan agar aktivitas masyarakat tetap berjalan.

