sekitarbandung.com – Sejumlah sekolah yang bangunannya rusak dan ambruk di wilayah Kecamatan Rongga dan Cipongkor tak kunjung tersentuh perbaikan dan pembangunan kembali oleh Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Komitmen Bupati Jeje Ritchie Ismail terhadap persoalan pendidikan itu pun menuai sorotan.
Salah satu sekolah yang tak kunjung diperbaiki tersebut adalah SDN 2 Cimarel di Kampung Babakan Cisarua, RT 05 RW 06, Desa Cibitung, Kecamatan Rongga. Salah satu ruang kelas sekolah itu telah jebol atau berlubang akibat longsor beberapa tahun lalu. Selain jebol, ruangan lain lantainya ambles. “Teu aya perobihan (Belum ada perubahan berupa perbaikan oleh pemerintah),” kata Ajat Sudrajat, salah satu guru di sekolah itu saat dihubungi “PR”, Senin 10 November 2025.
Saat ini, perbaikan hanya dilakukan seadanya oleh pihak sekolah seperti pemasangan pintu dan lainnya. Karena tak kunjung diperbaiki pemerintah, kegiatan belajar mengajar siswa terpaksa dilakukan secara bergiliran lantaran ruangan yang tersedia hanya lima kelas.
Dengan demikian, sekolah itu masih kekurangan satu ruangan karena total ada enam kelas. Siswa kelas I dan II belajar bergantian.
Siswa kelas I memperoleh giliran pertama masuk kelas pada pukul 06.30 hingga 10.00. Setelah pembelajaran kelas I rampung, siswa kelas II baru masuk kelas pada pukul 10.00 sampai 12.30. “Kirang maksimal dina kenyamanan margi dina kondisi bangunan memprihatinkan (Pembelajaran jadi tak maksimal karena berlangsung di bangunan yang kondisinya memprihatinkan),” ucap Ajat.
Keadaan tersebut membuat aktivitas belajar disertai dengan kekhawatiran apalagi kala hujan mengguyur. “Paur runtuh, kenteng tos balocor (Takut ambruk, genting pun sudah bocor),” ucapnya.
Sekolah, lanjut Ajat, sebetulnya telah mengajukan permohonan bantuan agar sekolah diperbaiki. Namun, permohonan tersebut tak kunjung direspons. “Teu acan aya kabar naha bade dongkapna iraha (Belum ada informasi kapan bantuan itu datang),” ujarnya.
Perbaikan sekolah menjadi penting lantaran bangunannya tak hanya digunakan oleh siswa SD. Bangunan SDN 2 Cimarel juga dipakai untuk kegiatan belajar siswa SMP terbuka Rongga. SMP tersebut menginduk ke SMPN 1 Rongga. Pendirian SMP terbuka itu dilakukan lantaran keberadaan sekolah serupa jaraknya terbilang jauh dari wilayah tersebut.
Guru kemudian berinisiatif mendirikan SMP terbuka agar para siswa tak sampai putus sekolah akibat persoalan jarak dari tempat tinggal ke sekolah yang jauh.
Serupa
Tak hanya SDN 2 Cimarel, kondisi SDN Cantrawayang di Kampung Cantrawayang, RT 02 RW 03, Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor juga sama. Salah satu ruangan kelasnya yang ambruk sejak bertahun-tahun lalu tak kunjung dibangun kembali. Pemerintah KBB justru mengeluarkan bantuan untuk merehabilitasi dua ruangan kelas lain serta UKS ketimbang membangun ruangan yang ambruk.
Baca juga : Libur Nataru Seru! Ini 4 Wisata Alam Populer Bandung
Kepala SDN Cantrawayang Dadang Wahyudin tak menampik, dua ruangan itu memang perlu direhabilitasi. Keinginan sekolah sebetulnya ruangan yang ambruk dibangun kembali. Pasalnya, SDN Cantrawayang juga cuma memiliki lima ruangan kelas akibat satu ruangan ambruk. Sebagaimana SDN 2 Cimarel, SDN Cantrawayang menerapkan pula sistem belajar secara bergiliran bagi murid kelas I dan II karena kekurangan ruangan kelas.
Selain satu kelas ambruk, ruangan perpustakaan pun tak dipakai. “Tos aya nu belah (Bangunan perpustakaan sudah ada yang terbelah),” ujar Dadang.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

