sekitarbandungcom – Kebakaran di Kabupaten Bandung kembali menyoroti pentingnya keamanan instalasi listrik.
Pemerintah daerah kini mendorong evaluasi jaringan sebagai langkah pencegahan agar risiko serupa dapat ditekan.
KDS Turun Langsung Menemui Korban Kebakaran di Kabupaten Bandung
Bupati Bandung Dadang Supriatna, yang akrab disapa KDS, meninjau lokasi kebakaran di Desa Lebakwangi, Kecamatan Arjasari, pada Senin, 14 September 2026.
Dalam kunjungan tersebut, KDS berkomunikasi dengan warga dan memastikan penanganan korban dilakukan bersama perangkat daerah serta unsur terkait.
Tiga rumah terdampak dipastikan akan diperbaiki melalui kolaborasi Baznas Kabupaten Bandung, pemerintah desa, dan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan.
Keluarga terdampak juga mendapat bantuan biaya kontrakan selama tiga bulan selama proses perbaikan berlangsung.
Dugaan Korsleting Listrik dalam Peristiwa Kebakaran
Kebakaran di Lebakwangi diduga berkaitan dengan korsleting listrik.
Keterangan serupa juga muncul dalam peristiwa kebakaran sebelumnya di Kampung Limus, Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, yang terjadi pada 9 September 2026.
Dalam kejadian tersebut, tujuh rumah terbakar dan lima mengalami kerusakan parah. Namun, istilah dugaan tetap perlu digunakan sampai pemeriksaan teknis memastikan penyebab secara resmi.
Menurut pakar Teknik Ketenagalistrikan ITB, korsleting dapat terjadi ketika konduktor yang seharusnya terpisah saling terhubung akibat kerusakan isolasi.
Arus yang meningkat dapat menaikkan temperatur penghantar dan sambungan, sehingga berpotensi memicu kebakaran jika terdapat material mudah terbakar.
KDS Mendorong Evaluasi Instalasi Listrik di Kabupaten Bandung
Setelah meninjau lokasi kebakaran Lebakwangi, KDS menyampaikan rencana mengundang PLN bersama DPRD Kabupaten Bandung untuk mengevaluasi kondisi kabel listrik di wilayah tersebut.
Evaluasi diarahkan tidak hanya pada rumah yang mengalami kebakaran, tetapi juga jaringan listrik di lingkungan masyarakat secara lebih menyeluruh.
Langkah tersebut penting karena pemeriksaan dapat membantu menemukan bagian instalasi yang mengalami kerusakan atau tidak memenuhi ketentuan keselamatan.
Evaluasi juga dapat menjadi dasar menentukan perbaikan yang diperlukan sehingga potensi gangguan kelistrikan dapat diketahui lebih awal.
Pentingnya Pemeriksaan Instalasi Listrik Secara Berkala
Instalasi listrik membutuhkan pemeriksaan dan pemeliharaan agar tetap aman digunakan.
Kabel dengan isolasi rusak, sambungan tidak sesuai, stopkontak bermasalah, atau komponen proteksi yang tidak bekerja optimal dapat meningkatkan risiko gangguan listrik.
Penelitian dalam Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia menyebut beban listrik berlebih, peralatan yang tidak sesuai spesifikasi, instalasi yang tidak memenuhi PUIL, serta kurangnya perawatan kabel dan stopkontak sebagai faktor yang dapat meningkatkan potensi kebakaran.
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan oleh tenaga yang memiliki kompetensi agar kondisi instalasi dapat dinilai secara tepat.
baca juga : Banjir Kabupaten Bandung Hari Ini: Banjaran–Arjasari Tergenang, Pengendara Terpaksa Dorong Motor
Standar Keselamatan Instalasi Listrik untuk Mencegah Kebakaran
Keselamatan kelistrikan berkaitan dengan penerapan standar dan penggunaan peralatan yang sesuai.
Persyaratan Umum Instalasi Listrik atau PUIL menjadi salah satu acuan teknis yang perlu diperhatikan dalam pemasangan dan pengelolaan instalasi.
Kepatuhan terhadap standar tidak hanya berkaitan dengan pemasangan kabel, tetapi juga pemilihan komponen, sistem proteksi, dan pemeliharaan.
Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM juga menekankan pentingnya peralatan listrik sesuai standar SNI dan PUIL untuk mendukung keselamatan properti.
Evaluasi Instalasi Listrik sebagai Upaya Mitigasi
Evaluasi jaringan listrik dapat menjadi bagian dari mitigasi risiko kebakaran.
Pemeriksaan terhadap kabel lama, sambungan, perangkat proteksi, serta kondisi instalasi di bangunan dapat membantu mengidentifikasi masalah yang membutuhkan penanganan.
Rencana KDS melibatkan PLN dan DPRD menunjukkan bahwa persoalan keselamatan listrik membutuhkan koordinasi lintas pihak.
Pemerintah dapat mendorong pemeriksaan, sementara masyarakat perlu memberikan informasi apabila menemukan kondisi jaringan atau instalasi yang berpotensi membahayakan.
Hasil evaluasi kemudian dapat digunakan untuk menentukan langkah perbaikan secara terukur.
Peran Masyarakat dalam Menjaga Keamanan Instalasi Listrik
Masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi risiko kebakaran akibat kelistrikan.
Penggunaan sambungan listrik secara sembarangan dan beban berlebih perlu dihindari.
Kabel, steker, stopkontak, dan peralatan listrik juga perlu diperhatikan apabila menunjukkan tanda kerusakan.
ITB menyebut beberapa indikasi yang perlu diwaspadai, seperti kabel atau stopkontak terasa panas, muncul bau gosong, lampu berkedip, MCB sering turun, serta isolasi kabel terlihat meleleh atau menghitam.
Jika menemukan kondisi tersebut, masyarakat sebaiknya meminta pemeriksaan tenaga profesional dan tidak melakukan perbaikan berisiko tanpa pengetahuan memadai.
Langkah KDS Setelah Meninjau Lokasi Kebakaran
Tindak lanjut KDS tidak hanya berfokus pada pemulihan rumah korban, tetapi juga diarahkan pada pencegahan kejadian serupa.
Pemerintah Kabupaten Bandung perlu memastikan koordinasi dengan PLN dan pihak terkait berjalan sesuai rencana evaluasi.
Bagi masyarakat, perhatian terhadap keamanan listrik perlu dilakukan bersamaan dengan proses evaluasi pemerintah.
Pemeriksaan instalasi yang bermasalah, penggunaan peralatan sesuai ketentuan, serta kewaspadaan sebelum meninggalkan rumah menjadi bagian penting dari pencegahan.
Dengan langkah tersebut, evaluasi jaringan listrik dapat menghasilkan tindakan nyata untuk memperkuat keselamatan permukiman di Kabupaten Bandung secara aman bagi seluruh warga setempat.
baca juga : Bantuan Hukum Warga 2025: Kinerja Tim Hukum Jabar Istimewa Tangani Ribuan Kasus

